ENi6Ma

"Suatu waktu, mutiara di dalam genggaman, bergetar dan kemudian jatuh, pecah dan menjadi serpihan-serpihan kecil. Tapi dia adalah Mutiara, bagaimanapun dia tetap berkilau, dan sempurna sebagai intan permata. Bagaimanapun dia .. adalah mutiara harapanku."

This Real Me



Name : Jaka,-
Nicks : BLu3`Ais-
On Blog : Serpihan Mutiara
On IRC : #heartbeatstation
Age : 22
Work at : Internet Specs
Birthday : 4 March
Place : Jogja City
Mobile : +62817270xxx
ICQ : 122081318
YM ID : blue_indiego
fs : blueais@gmail.com

PreViOus

  • Hanya Atas Kehendak-Nya
  • PINDAHAN LOH...
  • Photobucket
  • Gimana Sih Rasanya Ketemu Presiden ?
  • Pergi Untuk Kembali...
  • Di Surga Kita Kan Bersua
  • "Menanti Sebuah Jawaban"
  • "Cinta Sejati"
  • Kehidupan Tidak Selalu Manis
  • "Don't be afraid my beloved, i'll be right here wi...


  • ArChieVe

  • November 2003
  • December 2003
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • August 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • October 2005

  • Links

    My Friendster BloG
    Situs Ku
    Berita Harian
    Koran Jogja
    Portal Jogja
    eMail Ku
    Cari Berita
    Koran Jateng
    Angkringan Ku
    Blog Aku
    Picture Perfect
    Pabrik Skin
    Hosting Ku

    Layout By "Yiling" Thanks Very Much

    Friends


    Said To Me

    Name :
    Web URL :
    Message :

    CreDits

    This page is powered by Blogger. Isn't yours?

    Powered by Blogbugs

    Komunitas Angkringan Jogjakarta

    Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com



    Site Meter

    Sunday, November 30, 2003

    Kasih Orang Tua

    Kenanglah kedua orangtua anda. Biasanya, di saat orangtua
    kita masih hidup, tidak mudah bagi kita untuk menghargai
    kasih sayang mereka. Padahal mereka menebar cinta mereka
    dalam setiap desah nafas, gerak bibir, dan ayunan langkah
    mereka. Tak ada yang mereka pikirkan begitu penting selain
    keluarga mereka, anak cucu mereka, penerus keberlangsungan
    karya mereka di dunia ini. Bahkan dalam amarah, kekecewaan
    dan kesedihan mereka selimuti dengan kasih sayang.
    Bagi kita, ini mungkin nasehat tua yang sudah terlalu sering
    terdengar. Namun, tak pernah usang, karena orangtua selalu
    dilahirkan jaman. Mengenang orangtua sebenarnya mengenang
    keberadaan diri kita sendiri. Kita terlahir dari buah kasih
    sayang, kita tumbuh dalam naungan kasih sayang, kita pun
    ditinggalkan dengan lambaian kasih sayang. Memang tak ada
    yang terlambat, namun sebelum hati terdalam anda menyesal,
    kasihilah orangtua anda. Bagi mereka, balasan ini jauh lebih
    berharga dari apa pun yang pernah diperolehnya. Bagi mereka,
    itulah bekal sebaik-baiknya untuk menikmati usia senja mereka.
    __________________________________
    Oleh Ida Arimurti
    diambil dari Milis Groups Yahoo


    Menulis di Atas Pasir

    Ini sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang
    berjalan melintasi gurun pasir. Ditengah perjalanan, mereka
    bertengkar, dan
    salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit
    hati,tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir :
    HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU.

    Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka
    memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka
    hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil
    diselamatkan oleh sahabatnya. Ketika dia mulai siuman dan rasa
    takutnya sudah hilang,dia menulis di sebuah batu :
    HARI INI, SAHABAT TERBAIK KU MENYELAMATKAN NYAWAKU.

    Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, "Kenapa
    setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan
    sekarang kamu
    menulis di batu?" Temannya sambil tersenyum menjawab, "Ketika seorang
    sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin
    maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila
    sesuatu
    yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati
    kita,
    agar tidak bisa hilang tertiup angin."

    Dalam hidup ini sering timbul beda pendapat dan konflik karena sudut
    pandang yang berbeda. Oleh karenanya cobalah untuk saling memaafkan
    dan lupakan masalah lalu.

    Belajarlah menulis diatas pasir.

    from groups yahoo


    Wednesday, November 19, 2003

    H Deddy Mizwar

    Tersadarkan Ayat Alquran

    Adakah langit di atas langit lagi? Di awal tahun 90-an, Deddy Mizwar
    merasa telah mencapai puncak langit. Melalui kekuatan aktingnya yang
    mengagumkan, ia mencapai puncak langit kejayaan. Popularitas di
    genggaman. Popularitas itu, tak sekadar mengalirkan gemerincing
    uang, juga membuatnya bagai raja diraja.

    Tapi, terpuaskankah ia dengan posisi istimewa tersebut? Ia justru
    merasa tidak bahagia ketika berada di kebahagian duniawi. Batinnya
    menjerit. Jiwanya ingin mencari makna kebahagiaan yang hakiki.
    Ketika berada di puncak langit popularitas, ia justeru merasa hampa.
    Semula, di saat berhenti kuliah di Institut Kesenian Jakarta dan
    memulai karier keaktoran, ia menganggap popularitas adalah tuhan
    yang dicari-carinya.

    Memulai karier di film pada 1976, Deddy bekerjakeras dan mencurahkan
    kemampuan aktingnya, di berbagai film yang dibintangi. Puncaknya
    perannya di film Naga Bonar kian mendekatkannya pada "tuhan" yang
    dicari-carinya: popularitas. Penabalan atas kepiawaian berakting itu
    diraihnya melalui penghargaan aktor terbaik pada film Naga Bonar di
    Festival Film Indonesia pada 1987.

    Bersuakah ia dengan "tuhan" yang diidamkannya? Deddy merasa hampa.
    Di tengah rasa hampa, pikirannya terpelanting, pada masa kecilnya.
    Lahir di Jakarta 5 Maret 1955, ia tumbuh di tengah nuansa relijius
    etnis Betawi. Ia terkenang suasana pengajian di surau yang tenang
    dan sejuk. Jiwanya ingin kembali mencicipi suasana teduh di masa
    kecil itu.

    Di tengah gebalau jiwa, terngiang ayat Alquran padanya. ''..tidaklah
    semata-mata kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku."
    Deddy terhenyak. Ayat Alquran yang pernah dipelajarinya semasa kecil
    itu menghunjam hatinya. Ia pun merasa menemukan obat bagi kehampaan
    jiwanya.

    Belakangan, ia memahami, kebahagian mengalir dari kesadaran manusia
    untuk mengetahui siapa yang menciptakan dirinya, siapa yang mengatur
    segenap peristiwa alam semesta. Ia kian menyadari popularitas yang
    dulu disembahnya bagaikan tuhan, kegenitan duniawi, mustahil
    memberikan kebahagiaan hakiki.

    Penyebabnya, manusia diciptakan untuk menyembah Allah. ''Jadi mau
    bahagia bagaimana, wong semata-mata kita ini harus menyembah Allah
    kok. Mencari harta, untuk apa ya untuk beribadah kepada Dia,''
    inilah hikmah yang dipetiknya.

    Tak mengherankan, kehidupannya hingga kini, menikung. Ia bukan lagi
    Deddy yang jumawa dengan popularitas. Ia kini merasa popularitas dan
    harta bukan tujuan, tetapi sarana beribadah. ''Tak ada pilihan lain
    kecuali harus kembali pada-Nya,'' ujarnya.

    Mengenang pergolakan batin di masa silam, Deddy menilai, sebagai
    kewajaran seiring perjalanan waktu. Fitrah manusia, menurutnya,
    terus mencari kebenaran, terus memperbaiki kehidupan melalui
    kebenaran yang terjaring dalam perjalanan menuju-Nya. "Semua kita
    sebenarnya sudah diberikan petunjuk oleh Allah setiap saat. Tinggal
    bagaimana kita mau berpikir," katanya mengingatkan.

    Sejak itu, Deddy belajar agama secara intens. Kini segala hal harus
    bernilai ibadah bagi Deddy. Termasuk pada bidang yang digelutinya
    yakni dunia perfilman dan sinetron. Tapi dia prihatin ketika melihat
    kenyataan bahwa di dunianya ini seolah tidak ada lagi kejujuran.

    Bicara sinetron sekarang ini, menurut Deddy, menjadi tidak jujur
    kalau tidak bicara soal relijiusitas dalam masyarakat
    Indonesia. "Hampir di setiap jalan dan kampung ada tempat ibadah.
    Tiba-tiba kok itu harus dihilangkan dalam sinetron atau film-film
    Indonesia," ungkapnya.

    Akibatnya, banyak sinetron dan film produksi lokal yang tidak
    bersentuhan dengan nilai relijius di dalamnya dan tidak mengakar ke
    masyarakat. ''Artinya itu bukan film dan sinetron Indonesia.
    Menimbulkan tanda tanya besar apakah benar masyarakat Indonesia
    justru seperti yang digambarkan di sinetron kita, '' kata aktor yang
    telah membintangi sekitar 70 film layar lebar ini.

    Mencoba mengembalikan konsep dasar sinetron yang mengakar, suami
    dari Giselawati ini, memutuskan untuk terjun langsung memproduksi
    sinetron dan film bertemakan relijius. Didirikanlah PT Demi Gisala
    Citra Sinema tahun 1996. Tekadnya sudah bulat kendati pada
    perkembangan berikutnya banyak rintangan dan hambatan ditemui.

    Ketika itu sinetron relijius Islam masih menjadi barang langka dan
    kurang bisa diterima pihak stasiun televisi. Kondisi ini tidak
    menyurutkan langkahnya. Maka dibuatlah sinetron Hikayat Pengembara
    yang tayang di bulan Ramadhan. Usahanya berbuah hasil. Rating
    sinetron ini cukup menggembirakan. Setelah itu hampir semua stasiun
    televisi menayangkan sinetron religius bulan Ramadhan. ''Berjuangnya
    sungguh keras tapi setelah itu semua orang bisa menikmati,'' kata
    Deddy bangga.

    Diakuinya produk sinetron yang bernafaskan religius Islam sulit
    mendapatkan tempat di stasiun televisi selain di bulan Ramadhan. Hal
    ini disebabkan stasiun teve terlampau under estimate di samping
    memang tidak banyak sineas yang mau membuat tayangan sinetron
    religius di luar bulan Ramadhan.

    ''Padahal masyarakat mau menerima.''Sinetron berikutnya yakni Lorong
    Waktu pun mendapat sambutan hangat pemirsa bahkan sempat di re-run
    (tayang ulang) di luar bulan Ramadhan. Ini membuktikan, sambung
    Deddy, bahwa masyarakat juga membutuhkan tayangan relijius di luar
    Ramadhan.

    Dia berpendapat, dengan memasukkan nilai relijius yang merupakan
    sumber kebenaran pada sinetron, sekaligus berharap apa yang
    dilakukan menjadi ibadah. ''Sudah capek kita ngomongin kejelekan
    orang, hujat menghujat, ya mendingan sampaikan saja kebenaran,'' dia
    menambahkan.

    Sebagai negara berpenduduk pemeluk Islam terbesar, di film dan
    sinetron justru tidak tercermin hal itu. Banyak umat Islam hanya
    menjadi konsumen belaka, dalam segala bidang termasuk di audio
    visual. Kalaupun masuk ke sana, umat akan larut pada sesuatu yang
    tidak mengaplikasikan keyakinannya.

    Film dan sinetron bisa memperlihatkan sejarah perjalanan bangsa.
    Banyak manfaat dan nilai baik dapat dikomunikasikan melalui dua
    produk tersebut. Islam menyangkut seluruh aspek kehidupan. Dalam
    sinetron Lorong Waktu dan film Kiamat Sudah Dekat, aspek keimanan
    menjadi penekanan. ''Saya orang film maka saya putuskan untuk
    membuat film dan sinetron yang seperti itu. Prinsipnya, jangan
    menghalalkan segala macam cara untuk meraih penonton,'' tegas Deddy.

    Dengan demikian, menurutnya, aneh kalau di film atau sinetron tidak
    ada nilai-nilai relijius yang menjiwainya. Sehingga untuk ke depan,
    Deddy akan terus berusaha konsisten memproduksi film dan sinetron
    religius.

    Selain untuk ibadah, juga demi men-counter tayangan-tayangan yang
    telah salah kaprah semisal sinetron yang berbau mistis. "Dan
    percayalah kalau niat kita untuk ibadah, tidak ada ruginya. Tanpa
    bikin film yang aneh-aneh, buktinya saya dicukupkan oleh Allah,"
    ujar Deddy sambil tersenyum lebar.

    Biodata
    Nama lengkap : H.Deddy Mizwar
    Kelahiran : Jakarta, 5 Maret 1955
    Nama istri : Giselawati
    Nama anak : - Senandung Nacita (16)
    - Zulfikar Rakita (12)
    Pendidikan : Institut Kesenian Jakarta (IKJ)
    Sinetron : Hikayat Pengembara, Lorong Waktu, Adillah
    Film : Cinta Abadi, Naga Bonar, Kiamat Sudah Dekat 

    Sumber: Republika - Jumat, 15 Agustus 2003 oleh Yusuf Asyidiq


    Yang Datang dan Yang Pergi

    Jam Dinding menunjukan pukul dua belas malam tepat. Entah kenapa
    tiba-tiba aku terbangun.Kutatap dalam-dalam wajah istriku yang masih
    lelap dalam tidurnya.kubelai perlahan anak-anak rambut yang tergerai
    didahinya. Kamu cantik Ratri...,bisikku perlahan.

    Tanpa terasa, usia pernikahan kami sudah menginjak tahun yang
    ketiga, tapi kami belum juga dikaruniai anak. Ya..Allah karuniakan
    kepada kami anak, seorang saja pun tak mengapa..., begitu jerit
    do'aku tiap malam diatas sajadah. Tapi, entahlah hikmah apa yang
    tersembunyi dibalik semua ini. Aku yakin, Allah menyimpan hikmah itu
    untuk kuketahui kelak.Ya, itu Pasti!!

    "Ratri.., bangun... sholat yuuk..."
    Kutepuk pipi istriku perlahan.
    Ia menggeliat. Aku tersenyum saja. Mungkin ia masih lelah, seharian
    mengurus tumah. Mengepel, memasak, mencuci, memebersihkan rumah,
    masih ditambah lagi kesibukannya menulis di media cetak. Ah..aku
    sayang padamu Ratri...

    Akhirnya, aku beranjak sendiri.Berwudhlu dan kemudian tenggelam dalam
    shalat malamku yang panjang.dan selalu do'a itu yang aku dahulukan.
    Rabbahuma lain aataitana shaalihan lanakunanna minasy syakiriin. Ya,
    Allah jika Engkau memberi kami anak shalih, tentulah kami termasuk
    orang-orang yang bersyukur.

    Jam dinding berdentang tiga kali.Ketika aku menghabiskan tiga rakaat
    terakhir witirku.Kulihat Ratri sudah ada dibelakangku dengan wajah
    merajuk. Kutatap wajahnya dengan geli.

    "Kamu kenapa? Mulutnya monyong begitu...??" godaku. Ratri semakin
    merajuk. "Si Mas mesti begitu..., nggak bangunin Ratri..."
    protesnya. Aku tersenyum arif. "La Wong, kamu pulas banget tidurnya.
    Mana tega Mas bangunin.., tadi nulis sampai jam sebelas'kan? Mosok
    baru tidur satu jam sudah disuruh bangun lagi..."
    "Iya deeh.., tapi nanti temani Ratri muraja'ah Qur'an yaa...,"
    pintanya manja.
    "Inggih, sendiko dawuh.., jawabku dengan logat Jawa yang kaku.Maklum
    besar di Betawi! Ratri tertawa geli mendengar jawabanku. Serentak
    jemarinya yang mungil beraksi menggelitik pinggangku.
    "Ssst.., sudah ah, shalat sana, nanti keburu shubuh..., "elakku.
    Ratri masih tersenyum sambil mengerjapkan matanya, lucu.

    Sering kulihat Ratri termenung menatap ikan-ikan di aquarium kami.
    Matanya binar menatap kosong ikan-ikan berwarna perak itu. Ia betah
    diam tanpa ekspresi seperti itu.
    "Sssst .., Muslimah kok hobi bengong, sihh...?"bisikku persis di
    telinganya.Ratri tersentak kaget.Pipinya bersemu merah, malu ketahuan
    melamun. Enngg....ngak kok, ini lho mas..., ikannya
    bertelur ...,"katanya perlahan. "Ck...pura-pura, dari tadi Mas lihat
    matamu ngak berkedip, lama banget. Itu bengong namanya, Non...,"
    kuacak kepalanya gemas.

    "Ikan saja bisa punya keterunan ya Mas..., kita kapan?" tanyanya
    lirih, hampir tak terdengar. Seketika mataku memanas.leherku tiba-
    tiba tercekat. Oh, Allah...
    ratri tersenyum manis, lalu mengamati lenganku menuju meja makan.Tak
    lama kemudian ia kembali berceloteh menceritakn aktifitasnya
    seharian. Ah, ratri....ratri...

    Ketika pernikahan kami menginjak tahun kedua, kamu sudah
    memeriksakan diri secara intensif kedokter kandungan.Hasilnya, kami
    berdua normal! Dokter cuma menyuruh kami bersabar, berdo'a dan
    berusaha tentunya. Yah.., barangkali kami berdua memang sedang diuji.

    "Nikah lagi aja , Maaasss...,"celetuk Ratri suatu kali.
    Aku tersentak.Keturunan memang sangat kuharapkan.Tapi membagi
    cintaku pada ratri dengan wanita lain,meski itu dibolehkan dalam
    Islam, apa aku sanggup??
    Kucubit pipi istriku perlahan.
    "Ngak takut cemburu?" tanyaku menggodanya.
    "Cemburu khan manusiawi Mas...,'Aisyah juga cemburu pada Khadijah,
    tapi bukan cemburu masalahnya Mas..., kalau Mas punya istri
    lagi, 'khan Ratri bisa ikut membesarkan anak dari istri Mas...,"
    tuturnya panjang lebar.
    "Kalau dia juga tidak bisa hamil?"
    "Ambil istri lagi..."
    "Kalau belum punya anak juga?"
    "Ambil lagi..."
    "Hussss....sembarangan!!" protesku pura-pura galak. Kudekap kepala
    mungilnya erat-erat.

    Hari ini hari ulang tahun pernikahan kami yang keempat.umurku sudah
    dua puluh delapan tahun.Uban dikepalaku sudah belasan
    jumlahnya.Ketika menikah dulu,Ratri bilang ubanku ada enam lembar!!
    Dan sampai saat ini kami belum dipercaya Allah untuk menimang
    seorang anak. Tapi aku masih mencintai Ratri.
    Dan, tidak akan pernah pudar.

    Wajah Ratri yang oval dengan hidung yang bangir dan mulut mungilnya
    kelihatan merah berseri-seri.Kulihat ia membawa sebuah nampan yang
    tertutup menuju kearah meja makan.Lalu ia menarik lenganku manja.
    "Sini Mas...," ajaknya.
    Aku menurut saja. "Happy fourth anniversary...," katanya lembut.
    Mataku berkaca-kaca.Perlahan kubuka nampan itu.Sebuah kue tart,
    romantis sekali. Dan sebuah amplop, dengan logo sebuah klinik.
    Keningku berkerut. Ketika tanganku bergerak hendak mengambil amplop
    itu, seketika Ratri merebutnya.

    "Makan dulu doooong....," protesnya.
    Aku cuma menggeleng-gelengkan kepala, sambil tersenyum.Tak urung
    kuraih pisau lalu.
    "Bismillahirahmanirrahiim..," kupotong kue tart itu.Ratri tersenyum,
    ia kelihatan bahagia sekali. Kutengadahkan tanganku meminta amplop
    itu. Ratri menggeleng. Makan dulu..., katanya. Kugaruk-garuk
    kepalaku dengan gemas. Ni, anak bikin penasaran juga.

    Setelah selesai menyantap potongan kue yang kumakan dengan dua kali
    telan. Dan ratri protes karenanya. Kurenggut amplop di tanganya.
    Dan Subhanallah..., Maha suci Engkau wahai Rabb seru sekalin alam!!!
    Ratri hamil!!! Masya Allah...., setelah sekian tahun !!!
    Seketika aku tersungkur sujud. Air mataku meleleh.Kudekap kepala
    Ratri erat-erat.Air mataku masih mengalir, menitik membasahi kepala
    Ratri. Ia mendongak, jemarinya mengahpus air mataku.

    "Mas menangis?" tanyanya retoris.
    Aku mengangguk. Ya, aku menangis ! Tangis syukur....
    "Kok, periksa ke dokter ngak bilang-bilang?" protesku
    "Biarin, nanti ngak surprise ..., katanya.Tiba-tiba aku merasa
    bersalah. Sejak tahun ketiga pernikahan kami, aku tidak rajin
    mengikuti tanggal-tanggal haid dan masa subur Ratri seperti dulu.
    Kudekap Ratri makin erat.

    Sejak hari itu, kesehatam Ratri menjadi perhatian utamaku.Aku sering
    marah-marah kalau Ratri masih juga menulis sampai larut malam. Ya,
    tiba-tiba aku menjadi sangat cerewet.

    Sembilan bulan, lebih delapan hari.Rasanya hari itu tiba..., tadi
    pagi Ratri sudah mulas-mulas.Katanya mulasnya dimulai dari punggung
    menjalar sampai kedepan.Aku ribut setengah mati. Kuraih gagang
    telpon. Aku menelpon seorang teman untuk membawa mobil kerumah.Ratri
    masih mengeluh mulas-mulas. Tiba-tiba keluar cairan , oh... air
    ketubanya sudah pecah.

    Dirumah sakit aku begitu gelisah. Bapak-ibu yang menungguiku cuma
    menggeleng-geleng kepala. Maklum anak pertama, begitu kata ibu. Ya ,
    Allah... entah kenapa aku tiba-tiba merasa ketakutan yang luar
    biasa. Ya Allah, selamatkan istri dan anakku..., bisiku berulang
    kali.

    "Bapak Syiful Bahri?" seorang dokter keluar dari ruang bersalin.
    "Ya..., saya , Dokter...," sahutku cepat.Kuhampiri dokter itu.
    "Ada sedikit kelainan, harus dioperasi...Suster, tolong bimbing Pak
    Syaiful untuk mengisi formulir ini..."kata dokter itu.

    Aku tersentak kaget ! Operasi ? Astagfirullah...
    "tapi..., istri saya tidak apa-apa'kan dokter??" tanyaku khawatir.
    Dokter itu terdiam. Berdo'alah ...," katanya pelan.Kugigit bibirku
    erat-erat.Allah..., selamatkan isri dan anakku..
    Kuambil wudhu dan sholat di musholla.Kuhabiskan gelisahku disana.

    Tiba-tiba kudengar suara tangis bayi.
    Anakku...,: desisku perlahan.Aku seperti dituntun nuraniku.Bergegas
    keluar musholla.
    "Bapak Syaiful Bahri..."
    "Ya, Dokter..."
    "Selamat, bayinya perempuan, sehat, tiga setengah kilo,cantik seperti
    ibunya...kata dokter itu.
    "Alhamdulilah..."desisku berulang-ulang.
    "Istri saya dokter?"
    Dokter itu terdiam. Tiba-tiba ada perasaan tidak enak menjalar
    disegenap hatiku. Kutatap mata dokter itu dengan tatapan penuh
    tanya. Tiba-tiba dokter itu menepuk bahuku perlahan, sementara
    kepalanya pun menggeleng perlahan pula.

    Mulutku terngaga seketika.
    "Ma'afkan .., saya sudah berusaha. Tapi Tuhan menghendaki
    lain...,"katanya. Air mataku berloncatan tanpa bisa dibendung.
    Dokter itu perlahan membimbingku masuk ke ruang bersalin.Aku menurut
    saja tanpa rasa.

    Sosok tubuh ditutup kain putih terbaring. Perlahan dokter itu
    membuka kain penutup itu. Inalilahi wa innailayhi raji'uun...Wajah
    Ratri terlihat pucat. Tapi bibirnya tersenyum manis..., manis
    sekali.Kudekap kepala Ratri erat-erat, tangisku tak tertahankan.
    "Sabar ...sabar...pak..., " hibur dokter itu." Suster, bawa kemari
    anak Bapak Syaiful Bahri...," katanya lagi.

    Seorang bayi mungil yang masih merah disodorkan dihadapnku.Perlahan
    kugendong dan kutatap ia. Dadaku masih sesak karena tangis.
    Kutatap bayi merah itu dan Ratri berganti-ganti. Mereka begitu mirip.
    Matanya, hidungnya, mulutnya..., Allahu Akbar !!!.

    Rupanya ini hikmah itu, Ratri..., Allah memberi kesempatan padaku
    untuk menemanimu selama empat tahun, untuk akhirnya memanggilmu
    setelah ia memberikan gantinya.....
    Ya, Allah jangan biarkan hatiku berandai-andai, seandainya saja aku
    tidak mengahrapkan anak, jika itu membawa kematian Ratri..., ini
    semua takdir-Mu, ya Rabbi....
    Selamat Jalan Ratri.....................

    Sumber: Cahaya di atas Cahaya, Izzatul Jannah
    From Once of Groups Yahoo Article


    Makna Hidup

    Dalam sebuah perjalanan hidup
    Cita-cita terbesar adalah menuju kesempurnaan
    Ada kalanya kita mesti berjuang
    Belajar menyikapi segala rahasia dalam kehidupan

    Dalam perjalanan menuju kesempurnaan
    Adalah proses yang menentukan setiap tapak langkah
    kita
    Setiap hembusan nafas, detak jantung, dari siang
    menuju malam
    Semua menuju titik yang sama
    Kesempurnaan

    Setiap insan mempunyai hak yang sama atas waktu
    Tidak ada seorangpun melebihi dari yang lain
    Namun tak jarang setiap kita berbeda dalam
    mensikapinya
    Ada yang berjuang untuk melewatinya dengan membunuh
    waktu
    Tidak pula sedikit yang merasakan sempitnya kesempatan
    yang ia punya

    Apa rahasia terbesar dalam hidup ini?
    Melewati hari ini penuh dengan makna
    Makna tentang Cinta, Ilmu dan Iman
    Dengan Cinta hidup menjadi Indah
    Dengan Ilmu hidup menjadi Mudah
    Dan dengan Iman hidup menjadi terarah.

    Oleh Joko Hariyono
    from Once Of Groups Yahoo Article




    Be an explorer...read, surf the internet, visit customers, enjoy
    arts, watch children play...do anything to prevent yourself from
    becoming a prisoner of your knowledge, experience, and current view
    of the world.--

    Charles 'Chic' Thompson (What a Great Idea)

    Begin doing what you want to do now. We are not living in eternity.
    We have only this moment, sparkling like a star in our hand-and
    melting like a snowflake...--Marie Beyon Ray
    Begin somewhere; you cannot build a reputation on what you intend to
    do.--Liz Smith
    The best way out of a difficulty is through it.

    --Anonymous

    from Once Of Groups Yahoo Article


    Engkau Yang di Sana

    Mutiara ...
    Benarkah kini engkau telah utuh kembali
    Sungguhkan kini engkau telah kembali sebagai mutiaraku lagi
    Betapa suka hati jika itulah sebenarnya
    Gundah Gulana hati jiwa tersisih walau tak seberapa
    tapi tlah merubah makna untuk lebih sahaja
    menjalani hidup dan kehidupan ini nyata

    Tetaplah bersemangat
    Mutiaraku aku yakin engkau tidak akan pernah menyerah
    dalam waktu dan saat yang bagaimanapun
    jangan pernah lelah
    jangan pernah menyerah
    jangan pernah resah
    ketahuilah
    jika memang kita dekat kepada Allah
    hidup itu indah

    Mutiara ...
    Kau akan selalu ku genggan kemana pun aku pergi
    dimanapun aku berada
    tak kan engkau aku lepaskan lagi

    Allah akan menghendaki apa yang Dia kehendaki untuk umatNya

    walau jauh engkau di seberang sana
    tidak terkurang satu titik rasa hati

    aku...
    akan selalu merindukanmu ...

    I miss u cause Allah ...


    Sunday, November 16, 2003


    Serpihan Mutiara Retak ...

    Hati ...
    Adalah sebuah mutiara dari diri seorang manusia
    Sejak manusia lahir, satu mutiara yang bersinar terang
    benderang berasal dari dalam jiwa ..
    itulah hati ..

    seiring rangkaian perjalanan panjang kehidupan
    yang Allah adalah Sang Sutradara dan Penata Cahaya
    pun Dia adalah Produser sekaligus Penulis Jalan Cerita
    Semua ada dalam ketentuanNya

    Lika liku kehidupan akan merubah dan mengasah
    mutiara menjadi lebih baik atau sebaliknya
    tapi bagaimanapun itu adalah sebuah mutiara ...
    ketika dia pernah jatuh ...
    ketika dia pernah pula melambung ...
    hingga kini tak ubah serpihan serpihan
    mutiara kini retak dan pecah
    Tapi dia tetap mutiara
    yang memiliki kilauan
    memiliki sinar dan cahaya
    karena dia berasal dari Allah
    dan Allah adalah Maha Sempurna

    Mutiara ...
    engkau adalah harapanku
    engkau adalah asa
    engkau adalah cita dan cinta
    aku menyayangi mutiaraku
    mengertilah mutiara
    jangan biarkan aku sendiri tanpa mutiara
    aku menantimu mutiara
    menanti mutiara kembali utuh
    dan kembali ...
    kugenggam dalan kasihku


    yogyakarta, 16 November 2003
    teriring rintik hujan rindu dendam

    dedicated for my lovely sister
    only for you ...