ENi6Ma

"Suatu waktu, mutiara di dalam genggaman, bergetar dan kemudian jatuh, pecah dan menjadi serpihan-serpihan kecil. Tapi dia adalah Mutiara, bagaimanapun dia tetap berkilau, dan sempurna sebagai intan permata. Bagaimanapun dia .. adalah mutiara harapanku."

This Real Me



Name : Jaka,-
Nicks : BLu3`Ais-
On Blog : Serpihan Mutiara
On IRC : #heartbeatstation
Age : 22
Work at : Internet Specs
Birthday : 4 March
Place : Jogja City
Mobile : +62817270xxx
ICQ : 122081318
YM ID : blue_indiego
fs : blueais@gmail.com

PreViOus

  • Yang Datang dan Yang Pergi
  • Makna Hidup
  • Be Inspirated
  • Engkau Yang di Sana
  • Serpihan Mutiara Retak ... Hati ... Adalah sebuah...


  • ArChieVe

  • November 2003
  • December 2003
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • August 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • October 2005

  • Links

    My Friendster BloG
    Situs Ku
    Berita Harian
    Koran Jogja
    Portal Jogja
    eMail Ku
    Cari Berita
    Koran Jateng
    Angkringan Ku
    Blog Aku
    Picture Perfect
    Pabrik Skin
    Hosting Ku

    Layout By "Yiling" Thanks Very Much

    Friends


    Said To Me

    Name :
    Web URL :
    Message :

    CreDits

    This page is powered by Blogger. Isn't yours?

    Powered by Blogbugs

    Komunitas Angkringan Jogjakarta

    Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com



    Site Meter

    Wednesday, November 19, 2003

    H Deddy Mizwar

    Tersadarkan Ayat Alquran

    Adakah langit di atas langit lagi? Di awal tahun 90-an, Deddy Mizwar
    merasa telah mencapai puncak langit. Melalui kekuatan aktingnya yang
    mengagumkan, ia mencapai puncak langit kejayaan. Popularitas di
    genggaman. Popularitas itu, tak sekadar mengalirkan gemerincing
    uang, juga membuatnya bagai raja diraja.

    Tapi, terpuaskankah ia dengan posisi istimewa tersebut? Ia justru
    merasa tidak bahagia ketika berada di kebahagian duniawi. Batinnya
    menjerit. Jiwanya ingin mencari makna kebahagiaan yang hakiki.
    Ketika berada di puncak langit popularitas, ia justeru merasa hampa.
    Semula, di saat berhenti kuliah di Institut Kesenian Jakarta dan
    memulai karier keaktoran, ia menganggap popularitas adalah tuhan
    yang dicari-carinya.

    Memulai karier di film pada 1976, Deddy bekerjakeras dan mencurahkan
    kemampuan aktingnya, di berbagai film yang dibintangi. Puncaknya
    perannya di film Naga Bonar kian mendekatkannya pada "tuhan" yang
    dicari-carinya: popularitas. Penabalan atas kepiawaian berakting itu
    diraihnya melalui penghargaan aktor terbaik pada film Naga Bonar di
    Festival Film Indonesia pada 1987.

    Bersuakah ia dengan "tuhan" yang diidamkannya? Deddy merasa hampa.
    Di tengah rasa hampa, pikirannya terpelanting, pada masa kecilnya.
    Lahir di Jakarta 5 Maret 1955, ia tumbuh di tengah nuansa relijius
    etnis Betawi. Ia terkenang suasana pengajian di surau yang tenang
    dan sejuk. Jiwanya ingin kembali mencicipi suasana teduh di masa
    kecil itu.

    Di tengah gebalau jiwa, terngiang ayat Alquran padanya. ''..tidaklah
    semata-mata kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku."
    Deddy terhenyak. Ayat Alquran yang pernah dipelajarinya semasa kecil
    itu menghunjam hatinya. Ia pun merasa menemukan obat bagi kehampaan
    jiwanya.

    Belakangan, ia memahami, kebahagian mengalir dari kesadaran manusia
    untuk mengetahui siapa yang menciptakan dirinya, siapa yang mengatur
    segenap peristiwa alam semesta. Ia kian menyadari popularitas yang
    dulu disembahnya bagaikan tuhan, kegenitan duniawi, mustahil
    memberikan kebahagiaan hakiki.

    Penyebabnya, manusia diciptakan untuk menyembah Allah. ''Jadi mau
    bahagia bagaimana, wong semata-mata kita ini harus menyembah Allah
    kok. Mencari harta, untuk apa ya untuk beribadah kepada Dia,''
    inilah hikmah yang dipetiknya.

    Tak mengherankan, kehidupannya hingga kini, menikung. Ia bukan lagi
    Deddy yang jumawa dengan popularitas. Ia kini merasa popularitas dan
    harta bukan tujuan, tetapi sarana beribadah. ''Tak ada pilihan lain
    kecuali harus kembali pada-Nya,'' ujarnya.

    Mengenang pergolakan batin di masa silam, Deddy menilai, sebagai
    kewajaran seiring perjalanan waktu. Fitrah manusia, menurutnya,
    terus mencari kebenaran, terus memperbaiki kehidupan melalui
    kebenaran yang terjaring dalam perjalanan menuju-Nya. "Semua kita
    sebenarnya sudah diberikan petunjuk oleh Allah setiap saat. Tinggal
    bagaimana kita mau berpikir," katanya mengingatkan.

    Sejak itu, Deddy belajar agama secara intens. Kini segala hal harus
    bernilai ibadah bagi Deddy. Termasuk pada bidang yang digelutinya
    yakni dunia perfilman dan sinetron. Tapi dia prihatin ketika melihat
    kenyataan bahwa di dunianya ini seolah tidak ada lagi kejujuran.

    Bicara sinetron sekarang ini, menurut Deddy, menjadi tidak jujur
    kalau tidak bicara soal relijiusitas dalam masyarakat
    Indonesia. "Hampir di setiap jalan dan kampung ada tempat ibadah.
    Tiba-tiba kok itu harus dihilangkan dalam sinetron atau film-film
    Indonesia," ungkapnya.

    Akibatnya, banyak sinetron dan film produksi lokal yang tidak
    bersentuhan dengan nilai relijius di dalamnya dan tidak mengakar ke
    masyarakat. ''Artinya itu bukan film dan sinetron Indonesia.
    Menimbulkan tanda tanya besar apakah benar masyarakat Indonesia
    justru seperti yang digambarkan di sinetron kita, '' kata aktor yang
    telah membintangi sekitar 70 film layar lebar ini.

    Mencoba mengembalikan konsep dasar sinetron yang mengakar, suami
    dari Giselawati ini, memutuskan untuk terjun langsung memproduksi
    sinetron dan film bertemakan relijius. Didirikanlah PT Demi Gisala
    Citra Sinema tahun 1996. Tekadnya sudah bulat kendati pada
    perkembangan berikutnya banyak rintangan dan hambatan ditemui.

    Ketika itu sinetron relijius Islam masih menjadi barang langka dan
    kurang bisa diterima pihak stasiun televisi. Kondisi ini tidak
    menyurutkan langkahnya. Maka dibuatlah sinetron Hikayat Pengembara
    yang tayang di bulan Ramadhan. Usahanya berbuah hasil. Rating
    sinetron ini cukup menggembirakan. Setelah itu hampir semua stasiun
    televisi menayangkan sinetron religius bulan Ramadhan. ''Berjuangnya
    sungguh keras tapi setelah itu semua orang bisa menikmati,'' kata
    Deddy bangga.

    Diakuinya produk sinetron yang bernafaskan religius Islam sulit
    mendapatkan tempat di stasiun televisi selain di bulan Ramadhan. Hal
    ini disebabkan stasiun teve terlampau under estimate di samping
    memang tidak banyak sineas yang mau membuat tayangan sinetron
    religius di luar bulan Ramadhan.

    ''Padahal masyarakat mau menerima.''Sinetron berikutnya yakni Lorong
    Waktu pun mendapat sambutan hangat pemirsa bahkan sempat di re-run
    (tayang ulang) di luar bulan Ramadhan. Ini membuktikan, sambung
    Deddy, bahwa masyarakat juga membutuhkan tayangan relijius di luar
    Ramadhan.

    Dia berpendapat, dengan memasukkan nilai relijius yang merupakan
    sumber kebenaran pada sinetron, sekaligus berharap apa yang
    dilakukan menjadi ibadah. ''Sudah capek kita ngomongin kejelekan
    orang, hujat menghujat, ya mendingan sampaikan saja kebenaran,'' dia
    menambahkan.

    Sebagai negara berpenduduk pemeluk Islam terbesar, di film dan
    sinetron justru tidak tercermin hal itu. Banyak umat Islam hanya
    menjadi konsumen belaka, dalam segala bidang termasuk di audio
    visual. Kalaupun masuk ke sana, umat akan larut pada sesuatu yang
    tidak mengaplikasikan keyakinannya.

    Film dan sinetron bisa memperlihatkan sejarah perjalanan bangsa.
    Banyak manfaat dan nilai baik dapat dikomunikasikan melalui dua
    produk tersebut. Islam menyangkut seluruh aspek kehidupan. Dalam
    sinetron Lorong Waktu dan film Kiamat Sudah Dekat, aspek keimanan
    menjadi penekanan. ''Saya orang film maka saya putuskan untuk
    membuat film dan sinetron yang seperti itu. Prinsipnya, jangan
    menghalalkan segala macam cara untuk meraih penonton,'' tegas Deddy.

    Dengan demikian, menurutnya, aneh kalau di film atau sinetron tidak
    ada nilai-nilai relijius yang menjiwainya. Sehingga untuk ke depan,
    Deddy akan terus berusaha konsisten memproduksi film dan sinetron
    religius.

    Selain untuk ibadah, juga demi men-counter tayangan-tayangan yang
    telah salah kaprah semisal sinetron yang berbau mistis. "Dan
    percayalah kalau niat kita untuk ibadah, tidak ada ruginya. Tanpa
    bikin film yang aneh-aneh, buktinya saya dicukupkan oleh Allah,"
    ujar Deddy sambil tersenyum lebar.

    Biodata
    Nama lengkap : H.Deddy Mizwar
    Kelahiran : Jakarta, 5 Maret 1955
    Nama istri : Giselawati
    Nama anak : - Senandung Nacita (16)
    - Zulfikar Rakita (12)
    Pendidikan : Institut Kesenian Jakarta (IKJ)
    Sinetron : Hikayat Pengembara, Lorong Waktu, Adillah
    Film : Cinta Abadi, Naga Bonar, Kiamat Sudah Dekat 

    Sumber: Republika - Jumat, 15 Agustus 2003 oleh Yusuf Asyidiq