Tersadarkan Ayat Alquran
Adakah langit di atas langit lagi? Di awal tahun 90-an, Deddy Mizwar
merasa telah mencapai puncak langit. Melalui kekuatan aktingnya yang
mengagumkan, ia mencapai puncak langit kejayaan. Popularitas di
genggaman. Popularitas itu, tak sekadar mengalirkan gemerincing
uang, juga membuatnya bagai raja diraja.
Tapi, terpuaskankah ia dengan posisi istimewa tersebut? Ia justru
merasa tidak bahagia ketika berada di kebahagian duniawi. Batinnya
menjerit. Jiwanya ingin mencari makna kebahagiaan yang hakiki.
Ketika berada di puncak langit popularitas, ia justeru merasa hampa.
Semula, di saat berhenti kuliah di Institut Kesenian Jakarta dan
memulai karier keaktoran, ia menganggap popularitas adalah tuhan
yang dicari-carinya.
Memulai karier di film pada 1976, Deddy bekerjakeras dan mencurahkan
kemampuan aktingnya, di berbagai film yang dibintangi. Puncaknya
perannya di film Naga Bonar kian mendekatkannya pada "tuhan" yang
dicari-carinya: popularitas. Penabalan atas kepiawaian berakting itu
diraihnya melalui penghargaan aktor terbaik pada film Naga Bonar di
Festival Film Indonesia pada 1987.
Bersuakah ia dengan "tuhan" yang diidamkannya? Deddy merasa hampa.
Di tengah rasa hampa, pikirannya terpelanting, pada masa kecilnya.
Lahir di Jakarta 5 Maret 1955, ia tumbuh di tengah nuansa relijius
etnis Betawi. Ia terkenang suasana pengajian di surau yang tenang
dan sejuk. Jiwanya ingin kembali mencicipi suasana teduh di masa
kecil itu.
Di tengah gebalau jiwa, terngiang ayat Alquran padanya. ''..tidaklah
semata-mata kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku."
Deddy terhenyak. Ayat Alquran yang pernah dipelajarinya semasa kecil
itu menghunjam hatinya. Ia pun merasa menemukan obat bagi kehampaan
jiwanya.
Belakangan, ia memahami, kebahagian mengalir dari kesadaran manusia
untuk mengetahui siapa yang menciptakan dirinya, siapa yang mengatur
segenap peristiwa alam semesta. Ia kian menyadari popularitas yang
dulu disembahnya bagaikan tuhan, kegenitan duniawi, mustahil
memberikan kebahagiaan hakiki.
Penyebabnya, manusia diciptakan untuk menyembah Allah. ''Jadi mau
bahagia bagaimana, wong semata-mata kita ini harus menyembah Allah
kok. Mencari harta, untuk apa ya untuk beribadah kepada Dia,''
inilah hikmah yang dipetiknya.
Tak mengherankan, kehidupannya hingga kini, menikung. Ia bukan lagi
Deddy yang jumawa dengan popularitas. Ia kini merasa popularitas dan
harta bukan tujuan, tetapi sarana beribadah. ''Tak ada pilihan lain
kecuali harus kembali pada-Nya,'' ujarnya.
Mengenang pergolakan batin di masa silam, Deddy menilai, sebagai
kewajaran seiring perjalanan waktu. Fitrah manusia, menurutnya,
terus mencari kebenaran, terus memperbaiki kehidupan melalui
kebenaran yang terjaring dalam perjalanan menuju-Nya. "Semua kita
sebenarnya sudah diberikan petunjuk oleh Allah setiap saat. Tinggal
bagaimana kita mau berpikir," katanya mengingatkan.
Sejak itu, Deddy belajar agama secara intens. Kini segala hal harus
bernilai ibadah bagi Deddy. Termasuk pada bidang yang digelutinya
yakni dunia perfilman dan sinetron. Tapi dia prihatin ketika melihat
kenyataan bahwa di dunianya ini seolah tidak ada lagi kejujuran.
Bicara sinetron sekarang ini, menurut Deddy, menjadi tidak jujur
kalau tidak bicara soal relijiusitas dalam masyarakat
Indonesia. "Hampir di setiap jalan dan kampung ada tempat ibadah.
Tiba-tiba kok itu harus dihilangkan dalam sinetron atau film-film
Indonesia," ungkapnya.
Akibatnya, banyak sinetron dan film produksi lokal yang tidak
bersentuhan dengan nilai relijius di dalamnya dan tidak mengakar ke
masyarakat. ''Artinya itu bukan film dan sinetron Indonesia.
Menimbulkan tanda tanya besar apakah benar masyarakat Indonesia
justru seperti yang digambarkan di sinetron kita, '' kata aktor yang
telah membintangi sekitar 70 film layar lebar ini.
Mencoba mengembalikan konsep dasar sinetron yang mengakar, suami
dari Giselawati ini, memutuskan untuk terjun langsung memproduksi
sinetron dan film bertemakan relijius. Didirikanlah PT Demi Gisala
Citra Sinema tahun 1996. Tekadnya sudah bulat kendati pada
perkembangan berikutnya banyak rintangan dan hambatan ditemui.
Ketika itu sinetron relijius Islam masih menjadi barang langka dan
kurang bisa diterima pihak stasiun televisi. Kondisi ini tidak
menyurutkan langkahnya. Maka dibuatlah sinetron Hikayat Pengembara
yang tayang di bulan Ramadhan. Usahanya berbuah hasil. Rating
sinetron ini cukup menggembirakan. Setelah itu hampir semua stasiun
televisi menayangkan sinetron religius bulan Ramadhan. ''Berjuangnya
sungguh keras tapi setelah itu semua orang bisa menikmati,'' kata
Deddy bangga.
Diakuinya produk sinetron yang bernafaskan religius Islam sulit
mendapatkan tempat di stasiun televisi selain di bulan Ramadhan. Hal
ini disebabkan stasiun teve terlampau under estimate di samping
memang tidak banyak sineas yang mau membuat tayangan sinetron
religius di luar bulan Ramadhan.
''Padahal masyarakat mau menerima.''Sinetron berikutnya yakni Lorong
Waktu pun mendapat sambutan hangat pemirsa bahkan sempat di re-run
(tayang ulang) di luar bulan Ramadhan. Ini membuktikan, sambung
Deddy, bahwa masyarakat juga membutuhkan tayangan relijius di luar
Ramadhan.
Dia berpendapat, dengan memasukkan nilai relijius yang merupakan
sumber kebenaran pada sinetron, sekaligus berharap apa yang
dilakukan menjadi ibadah. ''Sudah capek kita ngomongin kejelekan
orang, hujat menghujat, ya mendingan sampaikan saja kebenaran,'' dia
menambahkan.
Sebagai negara berpenduduk pemeluk Islam terbesar, di film dan
sinetron justru tidak tercermin hal itu. Banyak umat Islam hanya
menjadi konsumen belaka, dalam segala bidang termasuk di audio
visual. Kalaupun masuk ke sana, umat akan larut pada sesuatu yang
tidak mengaplikasikan keyakinannya.
Film dan sinetron bisa memperlihatkan sejarah perjalanan bangsa.
Banyak manfaat dan nilai baik dapat dikomunikasikan melalui dua
produk tersebut. Islam menyangkut seluruh aspek kehidupan. Dalam
sinetron Lorong Waktu dan film Kiamat Sudah Dekat, aspek keimanan
menjadi penekanan. ''Saya orang film maka saya putuskan untuk
membuat film dan sinetron yang seperti itu. Prinsipnya, jangan
menghalalkan segala macam cara untuk meraih penonton,'' tegas Deddy.
Dengan demikian, menurutnya, aneh kalau di film atau sinetron tidak
ada nilai-nilai relijius yang menjiwainya. Sehingga untuk ke depan,
Deddy akan terus berusaha konsisten memproduksi film dan sinetron
religius.
Selain untuk ibadah, juga demi men-counter tayangan-tayangan yang
telah salah kaprah semisal sinetron yang berbau mistis. "Dan
percayalah kalau niat kita untuk ibadah, tidak ada ruginya. Tanpa
bikin film yang aneh-aneh, buktinya saya dicukupkan oleh Allah,"
ujar Deddy sambil tersenyum lebar.
Biodata
Nama lengkap : H.Deddy Mizwar
Kelahiran : Jakarta, 5 Maret 1955
Nama istri : Giselawati
Nama anak : - Senandung Nacita (16)
- Zulfikar Rakita (12)
Pendidikan : Institut Kesenian Jakarta (IKJ)
Sinetron : Hikayat Pengembara, Lorong Waktu, Adillah
Film : Cinta Abadi, Naga Bonar, Kiamat Sudah Dekat
Sumber: Republika - Jumat, 15 Agustus 2003 oleh Yusuf Asyidiq