ENi6Ma

"Suatu waktu, mutiara di dalam genggaman, bergetar dan kemudian jatuh, pecah dan menjadi serpihan-serpihan kecil. Tapi dia adalah Mutiara, bagaimanapun dia tetap berkilau, dan sempurna sebagai intan permata. Bagaimanapun dia .. adalah mutiara harapanku."

This Real Me



Name : Jaka,-
Nicks : BLu3`Ais-
On Blog : Serpihan Mutiara
On IRC : #heartbeatstation
Age : 22
Work at : Internet Specs
Birthday : 4 March
Place : Jogja City
Mobile : +62817270xxx
ICQ : 122081318
YM ID : blue_indiego
fs : blueais@gmail.com

PreViOus

  • Makna Hidup
  • Be Inspirated
  • Engkau Yang di Sana
  • Serpihan Mutiara Retak ... Hati ... Adalah sebuah...


  • ArChieVe

  • November 2003
  • December 2003
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • August 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • October 2005

  • Links

    My Friendster BloG
    Situs Ku
    Berita Harian
    Koran Jogja
    Portal Jogja
    eMail Ku
    Cari Berita
    Koran Jateng
    Angkringan Ku
    Blog Aku
    Picture Perfect
    Pabrik Skin
    Hosting Ku

    Layout By "Yiling" Thanks Very Much

    Friends


    Said To Me

    Name :
    Web URL :
    Message :

    CreDits

    This page is powered by Blogger. Isn't yours?

    Powered by Blogbugs

    Komunitas Angkringan Jogjakarta

    Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com



    Site Meter

    Wednesday, November 19, 2003

    Yang Datang dan Yang Pergi

    Jam Dinding menunjukan pukul dua belas malam tepat. Entah kenapa
    tiba-tiba aku terbangun.Kutatap dalam-dalam wajah istriku yang masih
    lelap dalam tidurnya.kubelai perlahan anak-anak rambut yang tergerai
    didahinya. Kamu cantik Ratri...,bisikku perlahan.

    Tanpa terasa, usia pernikahan kami sudah menginjak tahun yang
    ketiga, tapi kami belum juga dikaruniai anak. Ya..Allah karuniakan
    kepada kami anak, seorang saja pun tak mengapa..., begitu jerit
    do'aku tiap malam diatas sajadah. Tapi, entahlah hikmah apa yang
    tersembunyi dibalik semua ini. Aku yakin, Allah menyimpan hikmah itu
    untuk kuketahui kelak.Ya, itu Pasti!!

    "Ratri.., bangun... sholat yuuk..."
    Kutepuk pipi istriku perlahan.
    Ia menggeliat. Aku tersenyum saja. Mungkin ia masih lelah, seharian
    mengurus tumah. Mengepel, memasak, mencuci, memebersihkan rumah,
    masih ditambah lagi kesibukannya menulis di media cetak. Ah..aku
    sayang padamu Ratri...

    Akhirnya, aku beranjak sendiri.Berwudhlu dan kemudian tenggelam dalam
    shalat malamku yang panjang.dan selalu do'a itu yang aku dahulukan.
    Rabbahuma lain aataitana shaalihan lanakunanna minasy syakiriin. Ya,
    Allah jika Engkau memberi kami anak shalih, tentulah kami termasuk
    orang-orang yang bersyukur.

    Jam dinding berdentang tiga kali.Ketika aku menghabiskan tiga rakaat
    terakhir witirku.Kulihat Ratri sudah ada dibelakangku dengan wajah
    merajuk. Kutatap wajahnya dengan geli.

    "Kamu kenapa? Mulutnya monyong begitu...??" godaku. Ratri semakin
    merajuk. "Si Mas mesti begitu..., nggak bangunin Ratri..."
    protesnya. Aku tersenyum arif. "La Wong, kamu pulas banget tidurnya.
    Mana tega Mas bangunin.., tadi nulis sampai jam sebelas'kan? Mosok
    baru tidur satu jam sudah disuruh bangun lagi..."
    "Iya deeh.., tapi nanti temani Ratri muraja'ah Qur'an yaa...,"
    pintanya manja.
    "Inggih, sendiko dawuh.., jawabku dengan logat Jawa yang kaku.Maklum
    besar di Betawi! Ratri tertawa geli mendengar jawabanku. Serentak
    jemarinya yang mungil beraksi menggelitik pinggangku.
    "Ssst.., sudah ah, shalat sana, nanti keburu shubuh..., "elakku.
    Ratri masih tersenyum sambil mengerjapkan matanya, lucu.

    Sering kulihat Ratri termenung menatap ikan-ikan di aquarium kami.
    Matanya binar menatap kosong ikan-ikan berwarna perak itu. Ia betah
    diam tanpa ekspresi seperti itu.
    "Sssst .., Muslimah kok hobi bengong, sihh...?"bisikku persis di
    telinganya.Ratri tersentak kaget.Pipinya bersemu merah, malu ketahuan
    melamun. Enngg....ngak kok, ini lho mas..., ikannya
    bertelur ...,"katanya perlahan. "Ck...pura-pura, dari tadi Mas lihat
    matamu ngak berkedip, lama banget. Itu bengong namanya, Non...,"
    kuacak kepalanya gemas.

    "Ikan saja bisa punya keterunan ya Mas..., kita kapan?" tanyanya
    lirih, hampir tak terdengar. Seketika mataku memanas.leherku tiba-
    tiba tercekat. Oh, Allah...
    ratri tersenyum manis, lalu mengamati lenganku menuju meja makan.Tak
    lama kemudian ia kembali berceloteh menceritakn aktifitasnya
    seharian. Ah, ratri....ratri...

    Ketika pernikahan kami menginjak tahun kedua, kamu sudah
    memeriksakan diri secara intensif kedokter kandungan.Hasilnya, kami
    berdua normal! Dokter cuma menyuruh kami bersabar, berdo'a dan
    berusaha tentunya. Yah.., barangkali kami berdua memang sedang diuji.

    "Nikah lagi aja , Maaasss...,"celetuk Ratri suatu kali.
    Aku tersentak.Keturunan memang sangat kuharapkan.Tapi membagi
    cintaku pada ratri dengan wanita lain,meski itu dibolehkan dalam
    Islam, apa aku sanggup??
    Kucubit pipi istriku perlahan.
    "Ngak takut cemburu?" tanyaku menggodanya.
    "Cemburu khan manusiawi Mas...,'Aisyah juga cemburu pada Khadijah,
    tapi bukan cemburu masalahnya Mas..., kalau Mas punya istri
    lagi, 'khan Ratri bisa ikut membesarkan anak dari istri Mas...,"
    tuturnya panjang lebar.
    "Kalau dia juga tidak bisa hamil?"
    "Ambil istri lagi..."
    "Kalau belum punya anak juga?"
    "Ambil lagi..."
    "Hussss....sembarangan!!" protesku pura-pura galak. Kudekap kepala
    mungilnya erat-erat.

    Hari ini hari ulang tahun pernikahan kami yang keempat.umurku sudah
    dua puluh delapan tahun.Uban dikepalaku sudah belasan
    jumlahnya.Ketika menikah dulu,Ratri bilang ubanku ada enam lembar!!
    Dan sampai saat ini kami belum dipercaya Allah untuk menimang
    seorang anak. Tapi aku masih mencintai Ratri.
    Dan, tidak akan pernah pudar.

    Wajah Ratri yang oval dengan hidung yang bangir dan mulut mungilnya
    kelihatan merah berseri-seri.Kulihat ia membawa sebuah nampan yang
    tertutup menuju kearah meja makan.Lalu ia menarik lenganku manja.
    "Sini Mas...," ajaknya.
    Aku menurut saja. "Happy fourth anniversary...," katanya lembut.
    Mataku berkaca-kaca.Perlahan kubuka nampan itu.Sebuah kue tart,
    romantis sekali. Dan sebuah amplop, dengan logo sebuah klinik.
    Keningku berkerut. Ketika tanganku bergerak hendak mengambil amplop
    itu, seketika Ratri merebutnya.

    "Makan dulu doooong....," protesnya.
    Aku cuma menggeleng-gelengkan kepala, sambil tersenyum.Tak urung
    kuraih pisau lalu.
    "Bismillahirahmanirrahiim..," kupotong kue tart itu.Ratri tersenyum,
    ia kelihatan bahagia sekali. Kutengadahkan tanganku meminta amplop
    itu. Ratri menggeleng. Makan dulu..., katanya. Kugaruk-garuk
    kepalaku dengan gemas. Ni, anak bikin penasaran juga.

    Setelah selesai menyantap potongan kue yang kumakan dengan dua kali
    telan. Dan ratri protes karenanya. Kurenggut amplop di tanganya.
    Dan Subhanallah..., Maha suci Engkau wahai Rabb seru sekalin alam!!!
    Ratri hamil!!! Masya Allah...., setelah sekian tahun !!!
    Seketika aku tersungkur sujud. Air mataku meleleh.Kudekap kepala
    Ratri erat-erat.Air mataku masih mengalir, menitik membasahi kepala
    Ratri. Ia mendongak, jemarinya mengahpus air mataku.

    "Mas menangis?" tanyanya retoris.
    Aku mengangguk. Ya, aku menangis ! Tangis syukur....
    "Kok, periksa ke dokter ngak bilang-bilang?" protesku
    "Biarin, nanti ngak surprise ..., katanya.Tiba-tiba aku merasa
    bersalah. Sejak tahun ketiga pernikahan kami, aku tidak rajin
    mengikuti tanggal-tanggal haid dan masa subur Ratri seperti dulu.
    Kudekap Ratri makin erat.

    Sejak hari itu, kesehatam Ratri menjadi perhatian utamaku.Aku sering
    marah-marah kalau Ratri masih juga menulis sampai larut malam. Ya,
    tiba-tiba aku menjadi sangat cerewet.

    Sembilan bulan, lebih delapan hari.Rasanya hari itu tiba..., tadi
    pagi Ratri sudah mulas-mulas.Katanya mulasnya dimulai dari punggung
    menjalar sampai kedepan.Aku ribut setengah mati. Kuraih gagang
    telpon. Aku menelpon seorang teman untuk membawa mobil kerumah.Ratri
    masih mengeluh mulas-mulas. Tiba-tiba keluar cairan , oh... air
    ketubanya sudah pecah.

    Dirumah sakit aku begitu gelisah. Bapak-ibu yang menungguiku cuma
    menggeleng-geleng kepala. Maklum anak pertama, begitu kata ibu. Ya ,
    Allah... entah kenapa aku tiba-tiba merasa ketakutan yang luar
    biasa. Ya Allah, selamatkan istri dan anakku..., bisiku berulang
    kali.

    "Bapak Syiful Bahri?" seorang dokter keluar dari ruang bersalin.
    "Ya..., saya , Dokter...," sahutku cepat.Kuhampiri dokter itu.
    "Ada sedikit kelainan, harus dioperasi...Suster, tolong bimbing Pak
    Syaiful untuk mengisi formulir ini..."kata dokter itu.

    Aku tersentak kaget ! Operasi ? Astagfirullah...
    "tapi..., istri saya tidak apa-apa'kan dokter??" tanyaku khawatir.
    Dokter itu terdiam. Berdo'alah ...," katanya pelan.Kugigit bibirku
    erat-erat.Allah..., selamatkan isri dan anakku..
    Kuambil wudhu dan sholat di musholla.Kuhabiskan gelisahku disana.

    Tiba-tiba kudengar suara tangis bayi.
    Anakku...,: desisku perlahan.Aku seperti dituntun nuraniku.Bergegas
    keluar musholla.
    "Bapak Syaiful Bahri..."
    "Ya, Dokter..."
    "Selamat, bayinya perempuan, sehat, tiga setengah kilo,cantik seperti
    ibunya...kata dokter itu.
    "Alhamdulilah..."desisku berulang-ulang.
    "Istri saya dokter?"
    Dokter itu terdiam. Tiba-tiba ada perasaan tidak enak menjalar
    disegenap hatiku. Kutatap mata dokter itu dengan tatapan penuh
    tanya. Tiba-tiba dokter itu menepuk bahuku perlahan, sementara
    kepalanya pun menggeleng perlahan pula.

    Mulutku terngaga seketika.
    "Ma'afkan .., saya sudah berusaha. Tapi Tuhan menghendaki
    lain...,"katanya. Air mataku berloncatan tanpa bisa dibendung.
    Dokter itu perlahan membimbingku masuk ke ruang bersalin.Aku menurut
    saja tanpa rasa.

    Sosok tubuh ditutup kain putih terbaring. Perlahan dokter itu
    membuka kain penutup itu. Inalilahi wa innailayhi raji'uun...Wajah
    Ratri terlihat pucat. Tapi bibirnya tersenyum manis..., manis
    sekali.Kudekap kepala Ratri erat-erat, tangisku tak tertahankan.
    "Sabar ...sabar...pak..., " hibur dokter itu." Suster, bawa kemari
    anak Bapak Syaiful Bahri...," katanya lagi.

    Seorang bayi mungil yang masih merah disodorkan dihadapnku.Perlahan
    kugendong dan kutatap ia. Dadaku masih sesak karena tangis.
    Kutatap bayi merah itu dan Ratri berganti-ganti. Mereka begitu mirip.
    Matanya, hidungnya, mulutnya..., Allahu Akbar !!!.

    Rupanya ini hikmah itu, Ratri..., Allah memberi kesempatan padaku
    untuk menemanimu selama empat tahun, untuk akhirnya memanggilmu
    setelah ia memberikan gantinya.....
    Ya, Allah jangan biarkan hatiku berandai-andai, seandainya saja aku
    tidak mengahrapkan anak, jika itu membawa kematian Ratri..., ini
    semua takdir-Mu, ya Rabbi....
    Selamat Jalan Ratri.....................

    Sumber: Cahaya di atas Cahaya, Izzatul Jannah
    From Once of Groups Yahoo Article