ENi6Ma

"Suatu waktu, mutiara di dalam genggaman, bergetar dan kemudian jatuh, pecah dan menjadi serpihan-serpihan kecil. Tapi dia adalah Mutiara, bagaimanapun dia tetap berkilau, dan sempurna sebagai intan permata. Bagaimanapun dia .. adalah mutiara harapanku."

This Real Me



Name : Jaka,-
Nicks : BLu3`Ais-
On Blog : Serpihan Mutiara
On IRC : #heartbeatstation
Age : 22
Work at : Internet Specs
Birthday : 4 March
Place : Jogja City
Mobile : +62817270xxx
ICQ : 122081318
YM ID : blue_indiego
fs : blueais@gmail.com

PreViOus

  • Hanya Atas Kehendak-Nya
  • PINDAHAN LOH...
  • Photobucket
  • Gimana Sih Rasanya Ketemu Presiden ?
  • Pergi Untuk Kembali...
  • Di Surga Kita Kan Bersua
  • "Menanti Sebuah Jawaban"
  • "Cinta Sejati"
  • Kehidupan Tidak Selalu Manis
  • "Don't be afraid my beloved, i'll be right here wi...


  • ArChieVe

  • November 2003
  • December 2003
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • August 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • October 2005

  • Links

    My Friendster BloG
    Situs Ku
    Berita Harian
    Koran Jogja
    Portal Jogja
    eMail Ku
    Cari Berita
    Koran Jateng
    Angkringan Ku
    Blog Aku
    Picture Perfect
    Pabrik Skin
    Hosting Ku

    Layout By "Yiling" Thanks Very Much

    Friends


    Said To Me

    Name :
    Web URL :
    Message :

    CreDits

    This page is powered by Blogger. Isn't yours?

    Powered by Blogbugs

    Komunitas Angkringan Jogjakarta

    Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com



    Site Meter

    Monday, December 22, 2003

    Air Mata Rasulullah SAW

    Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak
    mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah
    yang membalikkan badan dan menutup pintu.

    Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata
    dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku,
    orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

    Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang
    menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

    "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah,
    Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

    Kemudian dipanggilah Jib! ril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

    "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah
    dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para
    malaikat telah menanti ruhmu".

    Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril.Tapi itu
    ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

    "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi."Khabarkan
    kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir,wahai Rasul
    Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:

    'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada
    di dalamnya," kata Jibril.

    Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh
    Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh,
    urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."

    Perlahan Rasulull ah m! engaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di
    sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada
    Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih
    Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah
    mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.

    "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini
    kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan
    dadanya sudah tidak bergerak lagi.

    Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera
    mendekatkan telinganya.

    "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku"
    "peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah diantaramu."

    Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

    "Ummatii,ummatii,ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"

    Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.


    NB:
    Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul
    kesadaran untuk mengingat maut dan mencintai Allah dan RasulNya, seperti
    Allah dan Rasulnya mencintai kita.



    Detik-detik Sakaratul Maut Rasulullah SAW

    Inilah bukti cinta yang sebenar-benarnya tentang cinta, yang telah dicontohkan Allah SWT melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit mulai menguning di ufuk timur, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayapnya.

    Rasulullah dengan suara lemah memberikan kutbah terakhirnya, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, al-Qur'an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku."

    Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasul yang tenang menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba. Rasulullah akan meninggalkan kita semua," keluh hati semua sahabat kala itu.

    Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Di saat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu. Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

    Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.

    "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk.

    "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.

    Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah.

    "Siapakah itu wahai anakku?"
    "Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

    Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

    "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah.

    Fatimah menahan ledakkan tangisnya.

    Malaikat maut telah datang menghampiri. Rasulullah pun menanyakan kenapa Jibril tidak menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

    "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.

    "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril.

    Tapi, semua penjelasan Jibril itu tidak membuat Rasul lega, matanya masih penuh kecemasan dan tanda tanya.

    "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" tanya Jibril lagi.

    "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak, sepeninggalanku?"

    "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya," kata Jibril meyakinkan.

    Detik-detik kian dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan-lahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.

    "Jibril, betapa sakitnya, sakaratul maut ini." Perlahan terdengar desisan suara Rasulullah mengaduh.

    Fatimah hanya mampu memejamkan matanya. Sementara Ali yang duduk di sampingnya hanya menundukan kepalanya semakin dalam. Jibril pun memalingkan muka.

    "Jijikkah engkau melihatku, hingga engkau palingkan wajahmu Jibril?" tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

    "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril sambil terus berpaling.

    Sedetik kemudian terdengar Rasulullah memekik kerana sakit yang tidak tertahankan lagi.

    "Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku," pinta Rasul pada Allah.

    Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu. Ali pun segera mendekatkan telinganya.

    "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."

    Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

    "Ummatii, ummatii, ummatiii?" Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran kemuliaan itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

    Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mencintai Allah dan RasulNya. Seperti Allah dan Rasul mencintai kita semua.

    Site Search


    Saturday, December 20, 2003

    Tanda-Tanda Saat-Saat Kematian

    100 hari : Seluruh badan rasa bergegar.
    60 hari : Pusat rasa bergerak-gerak.
    40 hari : Daun dengan nama orang yang akan mati di arash akan jatuh dan malaikat maut pun datang kepada orang dengan nama tersebut lalu mendampinginya sehingga saat kematiannya. Kadang-kadang orang yang akan mati itu akan merasa atau nampak kehadiran malaikat maut tersebut dan akan sering kelihatan seperti sedang rungsing.
    7 hari : Mengidam makanan.
    5 hari : Anak lidah bergerak-gerak.
    3 hari : Bahagian tengah di dahi bergerak-gerak.
    2 hari : Seluruh dahi rasa bergerak-gerak.
    1 hari : Terasa bahagian ubun bergerak-gerak di antara waktu subuh and asar.
    Saat akhir : Terasa sejuk dari bahagian pusat hingga ke tulang solbi (di bahagian belakang badan).
    Seelok-eloknya bila sudah merasa tanda yang akhir sekali, mengucap dalam keadaan qiam and jangan lagi bercakap-cakap.

    Bila Malaikat Mencabut Nyawa

    Baginda Rasullullah S.A.W bersabda:
    "Apabila telah sampai ajal seseorang itu maka akan masuklah satu kumpulan malaikat ke dalam lubang-lubang kecil dalam badan dan kemudian mereka menarik rohnya melalui kedua-dua telapak kakinya sehingga sampai kelutut. Setelah itu datang pula sekumpulan malaikat yang lain masuk menarik roh dari lutut hingga sampai ke perut dan kemudiannya mereka keluar. Datang lagi satu kumpulan malaikat yang lain masuk dan menarik rohnya dari perut hingga sampai ke dada dan kemudiannya mereka keluar. Dan akhir sekali datang lagi satu kumpulan malaikat masuk dan menarik roh dari dadanya hingga sampai ke kerongkong dan itulah yang dikatakan saat nazak orang itu."

    Sambung Rasullullah S.A.W. lagi:
    "Kalau orang yang nazak itu orang yang beriman, maka malaikat Jibrail A.S. akan menebarkan sayapnya yang disebelah kanan sehingga orang yang nazak itu dapat melihat kedudukannya di syurga. Apabila orang yang beriman itu melihat syurga, maka dia akan lupa kepada orang yang berada disekelilinginya. Ini adalah kerana sangat rindunya pada syurga dan melihat terus pandangannya kepada sayap Jibrail A.S."

    Kalau orang yang nazak itu orang munafik, maka Jibrail A.S. akan menebarkan sayap disebelah kiri. Maka orang yang nazak tu dapat melihat kedudukannya di neraka dan dalam masa itu orang itu tidak lagi melihat orang disekelilinginya. Ini adalah kerana terlalu takutnya apabila melihat neraka yang akan menjadi tempat tinggalnya.

    Dari sebuah hadis bahawa apabila Allah S.W.T. menghendaki seorang mukmin itu dicabut nyawanya maka datanglah malaikat maut.Apabila malaikat maut hendak mencabut roh orang mukmin itu dari arah mulut maka keluarlah zikir dari mulut orang mukmin itu dengan berkata:

    "Tidak ada jalan bagimu mencabut roh orang ini melalui jalan ini kerana orang ini sentiasa menjadikan lidahnya berzikir kepada Allah S.W.T." Setelah malaikat maut mendengar penjelasan itu, maka dia pun kembali kepada Allah S.W.T. dan menjelaskan apa yang diucapkan oleh lidah orang mukmin itu. Lalu
    Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud:

    "Wahai malaikat maut, kamu cabutlah ruhnya dari arah lain." Sebaik saja malaikat maut mendapat perintah Allah S.W.T. maka malaikat maut pun cuba mencabut roh orang mukmin dari arah tangan. Tapi keluarlah sedekah dari arah tangan orang mukmin itu, keluarlah usapan kepala anak-anak yatim dan keluar penulisan ilmu. Maka berkata tangan: Tidak ada jalan bagimu untuk mencabut roh orang mukmin dari arah ini, tangan ini telah mengeluarkan sedekah, tangan ini mengusap kepala anak-anak yatim dan tangan ini menulis ilmu pengetahuan."

    Oleh kerana malaikat maut gagal untuk mencabut roh orang mukmin dari arah tangan maka malaikat maut cuba pula dari arah kaki. Malangnya malaikat maut juga gagal melakukan sebab kaki berkata:

    "Tidak ada jalan bagimu dari arah ini kerana kaki ini sentiasa berjalan berulang alik mengerjakan solat dengan berjemaah dan kaki ini juga berjalan menghadiri majlis-majlis ilmu."

    Apabila gagal malaikat maut, mencabut roh orang mukmin dari arah kaki, maka malaikat maut cuba pula dari arah telinga. Sebaik saja malaikat maut menghampiri telinga maka telinga pun berkata:

    "Tidak ada jalan bagimu dari arah ini kerana telinga ini sentiasa mendengar bacaan Al-Quran dan zikir." Akhir sekali malaikat maut cuba mencabut orang mukmin dari arah mata tetapi baru saja hendak menghampiri mata maka berkata mata:

    "Tidak ada jalan bagimu dari arah ini sebab mata ini sentiasa melihat beberapa mushaf dan kitab-kitab dan mata ini sentiasa menangis kerana takutkan Allah." Setelah gagal maka malaikat maut kembali kepada Allah S.W.T. Kemudian Allah S.W.T. berfirman yang bermaksud: "Wahai malaikatKu, tulis AsmaKu ditelapak tanganmu dan tunjukkan kepada roh orang yang beriman itu." Sebaik saja mendapat perintah Allah S.W.T. maka malaikat maut menghampiri roh orang itu dan menunjukkan Asma Allah S.W.T.

    Sebaik saja melihat Asma Allah dan cintanya kepada Allah S.W.T maka keluarlah roh tersebut dari arah mulut dengan tenang.

    Abu Bakar R.A. telah ditanya tentang kemana roh pergi setelah ia keluar dari jasad. Maka berkata Abu Bakar R.A:"Roh itu menuju ketujuh tempat:-

    1. Roh para Nabi dan utusan menuju ke Syurga Adnin.
    2. Roh para ulama menuju ke Syurga Firdaus.
    3. Roh mereka yang berbahagia menuju ke Syurga Illiyyina.
    4. Roh para shuhada berterbangan seperti burung di syurga mengikut kehendak mereka.
    5. Roh para mukmin yang berdosa akan tergantung di udara tidak di bumi dan tidak di langit sampai hari kiamat.
    6. Roh anak-anak orang yang beriman akan berada di gunung dari minyak misik.
    7. Roh orang-orang kafir akan berada dalam neraka Sijjin, mereka diseksa berserta jasadnya sampai hari Kiamat."

    Telah bersabda Rasullullah S.A.W: Tiga kelompok manusia yang akan dijabat tangannya oleh para malaikat pada hari mereka keluar dari kuburnya:-

    1. Orang-orang yang mati syahid.
    2. Orang-orang yang mengerjakan solat malam dalam bulan ramadhan.
    3. Orang berpuasa di hari Arafah.

    Sekian untuk ingatan kita bersama.

    Jaring Dot My


    KISAH WAHYU TERAKHIR KEPADA RASULULLAH S.A.W.

    Diriwayatkan bahawa surah AI-Maa-idah ayat 3 diturunkan pada sesudah waktu asar iaitu pada hari Jumaat di padang Arafah pada musim haji penghabisan [Wada*].

    Pada masa itu Rasulullah s.a.w. berada di Arafah di atas unta. Ketika ayat ini turun Rasulullah s.a.w. tidak begitu jelas penerimaannya untuk mengingati isi dan makna yang terkandung dalam ayat tersebut. Kemudian Rasulullah s.a.w. bersandar pada unta beliau, dan unta beliau pun duduk perlahan-lahan.

    Setelah itu turun malaikat Jibril a.s. dan berkata:
    "Wahai Muhammad, sesungguhnya pada hari ini telah disempurnakan urusan agamamu, maka terputuslah apa yang diperintahkan oleh Allah s.w.t.dan demikian juga apa yang terlarang olehnya. Oleh itu kamu kumpulkan para sahabatmu dan beritahu kepada mereka bahawa hari ini adalah hari terakhir aku bertemu dengan kamu."

    Sebaik sahaja Malaikat Jibril a.s. pergi maka Rasulullah s.a.w. pun berangkat ke Mekah dan terus pergi ke Madinah. Setelah Rasulullah s.a.w. mengumpulkan para sahabat beliau, maka Rasulullah s.a.w. pun menceritakan apa yang telah diberitahu oleh malaikat Jibril a.s.. Apabila para sahabat mendengar hal yang demikian maka mereka pun gembira sambil berkata: "Agama kita telah sempurna. Agama kila telah sempuma."

    Apabila Abu Bakar r.a. mendengar keterangan Rasulullah s.a.w. itu, maka ia tidak dapat menahan kesedihannya maka ia pun kembali ke rumah lalu mengunci pintu dan menangis sekuat-kuatnya. Abu Bakar ra. menangis dari pagi hingga ke malam.

    Kisah tentang Abu Bakar r.a. menangis telah sampai kepada para sahabat yang lain, maka berkumpullah para sahabat di hadapan rumah Abu Bakar r.a. dan mereka berkata: "Wahai Abu Bakar, apakah yang telah membuat kamu menangis sehingga begini sekali keadaanmu? Sepatutnya kamu berasa gembira sebab agama kita telah sempuma." Mendengarkan pertanyaan dari para sahabat maka Abu Bakar r.a. pun berkata:
    "Wahai para sahabatku, kamu semua tidak tahu tentang musibah yang menimpa kamu, tidakkah kamu tahu bahawa apabila sesualu perkara itu telah sempuma maka akan kelihatanlah akan kekurangannya. Dengan turunnya ayat tersebut bahawa ianya menunjukkan perpisahan kila dengan Rasulullah s.a.w. Hasan dan Husin menjadi yatim dan para isteri nabi menjadi janda."

    Selelah mereka mendengar penjelasan dari Abu Bakar r.a. maka sedarlah mereka akan kebenaran kata-kata Abu Bakar r.a., lalu mereka menangis dengan sekuat-kuatnya. Tangisan mereka telah didengar oleh para sahabat yang lain, maka mereka pun terus beritahu Rasulullah s.a.w. tentang apa yang mereka lihat itu. Berkata salah seorang dari para sahabat: "Ya Rasulullah s.a.w., kami baru bailk dari rumah Abu Bakar r.a. dan kami mendapati banyak orang menangis dengan suara yang kuat di hadapan rumah beliau." Apabila Rasulullah s.a.w. mendengar keterangan dari para sahabat, maka berubahlah muka Rasulullah s.a.w. dan dengan bergegas beliau menuju ke rumah Abu Bakar r.a..

    Sebaik sahaja Rasulullah s.a.w. sampai di rumah Abu Bakar r.a. maka Rasulullah s.a.w. melihat kesemua mereka yang menangis dan bertanya: "Wahai para sahabatku, kenapakah kamu semua menangis?." Kemudian Ali r.a. berkata: "Ya Rasulullah s.a.w., Abu Bakar r.a. mengatakan dengan turunnya ayat ini membawa tanda bahawa waktu wafatmu telah dekat. Adakah ini benar ya Rasulullah?." Lalu Rasulullah s.a.w. berkata: "Semua yang dikata oleh Abu Bakar r.a. adalah benar, dan sesungguhnya masa untuk aku meninggalkan kamu semua telah hampir dekat."

    Sebaik sahaja Abu Bakar r.a. mendengar pengakuan Rasulullah s.a.w., maka ia pun menangis sekuat tenaganya sehingga ia jatuh pengsan, sementara Ali r.a. pula mengeletar seluruh tubuhnya. Dan para sahabat yang lain menangis dengan sekuat-kuat yang mereka mampu. Sehingga gunung-gunung, batu-batu, semua malaikat yang dilangit, cacing-cacing dan semua binatang baik yang di darat mahu-pun yang di laut turut menangis.

    Kemudian Rasulullullah s.a.w. bersalam dengan para sahabat satu demi satu dan berwasiat kepada mereka. Kisah Rasulullah s.a.w. mengalami hidup selepas turunnya ayat tersebut, ada yang mengatakan 81 hari, ada pula yang mengatakan beliau hidup sehingga 50 hari selepas turunnya ayat tersebut, ada pula yang mengatakan beliau hidup selama 35 hari dari ayat tersebut diturunkan dan ada pula yang mengatakan 21 hari.

    Pada saat sudah dekat ajal Rasulullah s.a.w., beliau menyuruh Bilal azan untuk mengerjakan solat, lalu berkumpul para Muhajirin dan Anshar di masjid Rasulullah s.a.w.. Kemudian Rasulullah s.a.w. menunaikan solat dua raka'at bersama semua yang hadir. Setelah selesai mengerjakan solat beliau bangun dan naik ke atas mimbar dan berkata:
    "Alharndulillah, wahai para muslimin, sesungguhnya saya adalah seorang nabi yang diutus dan mengajak orang kepada jalan Allah dengan izinnya. Dan saya ini adalah sebagai saudara kandung kamu, yang kasih sayang pada kamu semua seperti seorang ayah. Oleh itu kalau ada sesiapa yang mempunyai hak untuk menuntut, maka hendaklah ia bangun dan membalasi saya sebelum saya dituntut di hari kiamat."

    Rasulullah s.a.w. berkata demikian sebanyak 3 kali kemudian bangunlah seorang lelaki yang bernama 'Ukasyah bin Muhshan dan berkata: "Demi ayahku dan ibuku ya Rasulullah s.a.w., kalau anda tidak mengumumkan kepada kami berkali-kali sudah tentu saya tidak mahu mengernukakan hal ini." Lalu 'Ukasyah berkata lagi: "Sesungguhnya dalam Perang Badar saya bersamamu ya Rasulullah, pada masa itu saya mengikuti unta anda dari belakang, setelah dekat saya pun turun menghampiri anda dengan tujuan supaya saya dapat mencium paha anda, tetapi anda telah mengambil tongkat dan memukul unta anda untuk berjalan cepat, yang mana pada masa itu saya pun anda pukul pada tulang rusuk saya. Oleh itu saya hendak tahu sama ada anda sengaja memukul saya atau hendak memukul unta tersebut."

    Rasulullah s.a.w. berkata: "Wahai 'Ukasyah, Rasulullah s.a.w. sengaja memukul kamu." Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata kepada Bilal r.a.: "Wahai Bilal, kamu pergi ke rumah Fatimah dan ambilkan tongkat aku ke mari." Bilal keluar dari masjid menuju ke rumah Fatimah sambil meletakkan tangannya di alas kepala dengan berkata: "Rasulullah telah menyediakan dirinya untuk dibalas [diqishash]."

    Setelah Bilal sampai di rumah Fatimah maka Bilal pun memberi salam dan mengetuk pintu. Kemudian Fatimah r.a. menyahut dengan berkata: "Siapakah di pintu?." Lalu Bilal r.a. berkata: "Saya Bilal, saya telah diperintahkan oleh Rasulullah s.a.w. unluk mengambil tongkat beliau."Kemudian Fatimah r.a. berkata: "Wahai Bilal, untuk apa ayahku minta tongkatnya." Berkata Bilal r.a.: "Wahai Fatimah, Rasulullah s.a.w. telah menyediakan dirinya untuk diqishash." Bertanya Fatimah. r.a. lagi: "Wahai Bilal, siapakah manusia yang sampai hatinya untuk menqishash Rasulullah s.a.w.?."Bilal r.a. tidak menjawab perlanyaan Falimah r.a., sebaik sahaja Fatimah r.a. memberikan tongkat tersebut, maka Bilal pun membawa tongkat itu kepada Rasulullah s.a.w.

    Setelah Rasulullah s.a.w. menerima tongkat tersebut dari Bilal r.a. maka beliau pun menyerahkan kepada 'Ukasyah. Melihatkan hal yang demikian maka Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. tampil ke hadapan sambil berkata: "Wahai 'Ukasyah, janganlah kamu qishash baginda s.a.w. tetapi kamu qishashlah kami berdua." Apabila Rasulullah s.a.w. mendengar kata-kata Abu Bakar r.a. dan Umar r.a. maka dengan segera beliau berkata: "Wahai Abu Bakar, Umar, duduklah kamu berdua sesungguhnya Allah s.w.t. telah menetapkan tempatnya untuk kamu berdua." Kemudian Ali r.a. bangun, lalu berkata: "Wahai "Ukasyah! Aku adalah orang yang sentiasa berada di samping Rasulullah s.a.w. oleh itu kamu pukullah aku dan janganlah kamu menqishash Rasulullah s.a.w." Lalu Rasulullah s.a.w. berkata: "Wahai Ali, duduklah kamu sesungguhnya Allah s.w.t. telah menetapkan tempatmu dan mengetahui isi hatimu."

    Setelah itu Hasan dan Husin bangun dengan berkata: "Wahai 'Ukasyah, bukankah kamu tidak tahu bahawa kami ini adalah cucu Rasulullah s.a.w., kalau kamu menqishash kami sama dengan kamu menqishash Rasulullah s.a.w." Mendengar kata-kata cucunya Rasulullah s.a.w. pun berkata: "Wahai buah hatiku, duduklah kamu berdua." Berkata Rasulullah s.a.w. "Wahai 'Ukasyah pukullah saya kalau kamu hendak memukul." Kemudian 'Ukasyah berkata: "Ya Rasulullah s.a.w., anda telah memukul saya sewaktu saya tidak memakai baju." Maka Rasulullah s.a.w. pun membuka baju, sebaik sahaja Rasulullah s.a.w. membuka baju maka menangislah semua yang hadir.

    Sebaik sahaja 'Ukasyah melihat tubuh badan Rasulullah s.a.w. maka ia pun mencium beliau dan berkata; "Saya tebus anda dengan jiwa saya, ya Rasulullah s.a.w. siapakah yang sanggup memukul anda. Saya melakukan begini adalah sebab saya hendak menyentuh badan anda yang dimuliakan oleh Allah s.w.t dengan badan saya. Dan Allah s.w.t. menjaga saya dari neraka dengan kehormatanmu." Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata: "Dengarlah kamu sekalian, sekiranya kamu hendak melihat ahli syurga, inilah orangnya."

    Kemudian semua para jemaah bersalam-salaman atas kegem-biraan mereka terhadap peristiwa yang sangat genting itu. Setelah itu para jemaah pun berkata: "Wahai 'Ukasyah, inilah keuntungan yang paling besar bagimu, engkau telah memperolehi darjat yang tinggi dan bertemankan Rasulullah s.a.w. di dalam syurga."Apabila ajal Rasulullah s.a.w. makin hampir maka beliau pun memanggil para sahabat ke rumah Siti Aisyah r.a. dan beliau berkata: "Selamat datang kamu semua semoga Allah s.w.t. mengasihi kamu semua, saya berwasiat kepada kamu semua agar kamu semua bertaqwa kepada Allah s.w.t. dan mentaati segala perintahnya. Sesungguhnya hari perpisahan antara saya dengan kamu semua hampir dekat, dan dekat pula saat kembalinya seorang hamba kepada Allah s.w.t dan menempatkannya di syurga. Kalau telah sampai ajalku maka hendaklah Ali yang memandikanku, Fadhl bin Abas hendaklah mcnuangkan air dan Usamah bin Zaid hendaklah menolong keduanya. Setelah itu kamu kapanilah aku dengan pakaianku sendiri apabila kamu semua menghendaki, atau kapanilah aku dengan kain yaman yang putih. Apabila kamu memandikan aku, maka hendaklah kamu letakkan aku di atas balai tempat tidurku dalam rumahku ini. Setelah itu kamu semua keluarlah sebentar mening-galkan aku. Pertama yang akan menshalatkan aku ialah Allah s.w.t., kemudian yang akan menshalat aku ialah Jibril a.s., kemudian diikuti oleh malaikat Israfil, malaikat Mikail, dan yang akhir
    sekali malaikat lzrail berserta dengan semua para pembantunya. Setelah itu baru kamu semua masuk beramai-rarnai bershalat ke atasku."

    Sebaik sahaja para sahabat mendengar ucapan yang sungguh menyayat hati itu maka mereka pun menangis dengan nada yang keras dan berkata: "Ya Rasulullah s.a.w. anda adalah seorang Rasul yang diutus kepada kami dan untuk semua, yang mana selama ini anda memberi kekuatan dalam penernuan kami dan sebagai penguasa yang menguruskan perkara kami. Apabila anda sudah tiada nanti kepada siapakah yang akan kami tanya setiap persoalan yang timbul nanti?."Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata: "Dengarlah para saha-batku, aku tinggalkan kepada kamu semua jalan yang benar dan jalan yang terang, dan telah aku tinggalkan kepada kamu semua dua penasihat yang satu daripadanya pandai bicara dan yang satu lagi diam sahaja. Yang pandai bicara itu ialah AI-Quran dan yang diam itu ialah maut. Apabila ada sesuatu persoalan yang rumit di antara kamu, maka hendaklah kamu semua kembali kepada AI-Quran dan Hadis-ku dan sekiranya hati kamu itu berkeras maka lembutkan dia dengan mengambil pengajaran dari mati."

    Setelah Rasulullah s.a.w. berkata demikian, maka sakit Rasulullah s.a.w. bermula. Dalam bulan safar Rasulullah s.a.w. sakit selama 18 hari dan sering diziaiahi oleh para sahabat. Dalam sebuah kitab diterangkan bahawa Rasulullah s.a.w. diutus pada hari Isnin dan wafat pada hari Isnin. Pada hari Isnin penyakit Rasulullah s.a.w. bertambah berat, setelah Bilal r.a. selesaikan azan subuh, maka Bilal r.a. pun pergi ke rumah Rasulullah s.a.w.. Sesampainya Bilal r.a. di rumah Rasulullah s.a.w. maka Bilal r.a. pun memberi salam: "Assalaarnualaika ya rasulullah." Lalu dijawab oleh Fatimah r.a.: "Rasulullah s.a.w. masih sibuk dengan urusan beliau." Setelah Bilal r.a. mendengar penjelasan dari Fatimah r.a. maka Bilal r.a. pun kembali ke masjid tanpa memahami kata-kata Fatimah r.a. itu.

    Apabila waktu subuh hampir hendak lupus, lalu Bilal pergi sekali lagi ke rumah Rasulullah s.a.w. dan memberi salam seperti permulaan tadi, kali ini salam Bilal r.a. telah di dengar oleh Rasulullah s.a.w. dan baginda berkata; "Masuklah wahai bilal, sesungguhnya penyakitku ini semakin berat, oleh itu kamu suruhlah Abu Bakar mengimarnkan solat subuh berjemaah dengan mereka yang hadir." Setelah mendengar kata-kata Rasulullah s.a.w. maka Bilal r.a. pun berjalan menuju ke masjid sambil meletakkan tangan di atas kepala dengan berkata: "Aduh musibah." Sebaik sahaja Bilal r.a. sarnpai di masjid maka Bilal r.a. pun memberitahu Abu Bakar tentang apa yang telah Rasulullah s.a.w. katakan kepadanya.

    Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan dirinya apabila ia melihat mimbar kosong maka dengan suara yang keras Abu Bakar r.a. menangis sehingga ia jatuh pengsan. Melihatkan peristiwa ini maka riuh rendah dalam masjid, sehingga Rasulullah s.a.w. bertanya kepada Fatimah r.a.; "Wahai Fatimah apakah yang telah berlaku?." Maka Fatimah r.a. pun berkata: "Kekecohan kaum muslimin, sebab anda tidak pergi ke masjid." Kemudian Rasulullah s.a.w. memanggil Ali r.a. dan Fadhl bin Abas, lalu Rasulullah s.a.w. bersandar kepada kedua mereka dan terus pergi ke masjid. Setelah Rasulullah s.a.w. sampai di masjid maka beliau pun bersolat subuh bersama dengan para jemaah.

    Setelah selesai solat subuh maka Rasulullah s.a.w. pun berkata: "Wahai kaum muslimin, kamu semua sentiasa dalam pertolongan dan pemeliharaan Allah, oleh itu hendaklah kamu semua bertaqwa kcpada Allah s.w.t. dan mengerjakan segala perintahnya. Sesungguhnya aku akan meninggalkan dunia ini dan kamu semua, dan hari ini adalah hari pertama aku di akhirat dan hari terakhir aku di dunia."

    Setelah berkala demikian maka Rasulullah s.a.w. pun pulang ke rumah beliau. Kemudian Allah s.w.t. mewahyukan kepada malaikat lzrail: "Wahai lzrail, pergilah kamu kepada kekasihku dengan sebaik-baik rupa, dan apabila kamu hendak mencabut rohnya maka hendaklah kamu melakukan dengan cara yang paling lembut sekali. Apabila kamu pergi ke rumahnya maka minta izinlah lerlebih dahulu, kalau ia izinkan kamu masuk, maka masukiah kamu ke rumahnya dan kalau ia tidak izinkan kamu masuk maka hendaklah kamu kembali padaku."

    Sebaik sahaja malaikat lzrail mendapat perintah dari Allah s.w.t. maka malaikal lzrail pun turun dengan menyerupai orang Arab Badwi. Setelah malaikat lzrail sampai di hadapan rumah Rasulullah s.a.w. maka ia pun memberi salam: "Assalaamu alaikum yaa ahia baitin nubuwwati wa ma danir risaalati a adkhulu?" [Mudah-mudahan keselamatan tetap untuk kamu semua sekalian, wahai penghuni rumah nabi dan sumber risaalah, bolehkan saya masuk?" Apabila Fatimah mendengar orang memberi salam maka ia-pun berkata; "Wahai hamba Allah, Rasulullah s.a.w. sedang sibuk sebab sakitnya yang semakin berat."

    Kemudian malaikat lzrail berkata lagi seperti dipermulaannya, dan kali ini seruan malaikat itu telah didengar oleh Rasulullah s.a.w. dan Rasulullah s.a.w. bertanya kepada Falimah r.a.: "Wahai Fatimah, siapakah di depan pintu itu." Maka Fatimah r.a. pun berkata: "Ya Rasulullah, ada seorang Arab badwi memanggil mu, dan aku telah katakan kepadanya bahawa anda sedang sibuk sebab sakit, sebaliknya dia memandang saya dengan tajam sehingga saya merasa mcnggigil badan saya." Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata; "Wahai Fatimah, tahu-kah kamu siapakah orang itu?." Jawab Fatimah; "Tidak ayah." Dia adalah malaikat lzrail, malaikat yang akan memutuskan segala macam nafsu syahwat yang memisahkan perkumpulan-perkumpulan dan yang memusnahkan semua rumah serta meramaikan kubur." Fatimah r.a. tidak dapat menahan air matanya lagi setelah mengetahui bahawa saat perpisahan dengan ayahandanya akan berakhir, dia menangis sepuas-puasnya.

    Apabila Rasulullah s.a.w. mendengar tangisan Falimah r.a. maka beliau pun berkata: "Janganlah kamu menangis wahai Fatimah, engkaulah orang yang pertama dalam keluargaku akan bertemu dengan aku." Kemudian Rasulullah s.a.w. pun menjemput malaikat lzrail masuk. Maka malaikat lzrail pun masuk dengan mengucap: "Assalamuaalaikum ya Rasulullah." Lalu Rasulullah s.a.w. menjawab: "Wa alaikas saalamu, wahai lzrail engkau datang menziarahi aku atau untuk mencabut rohku?" Maka berkata malaikat lzrail: "Kedatangan saya adalah untuk menziarahimu dan untuk mencabut rohmu, itupun kalau kamu izinkan, kalau kamu tidak izinkan maka aku akan kembali." Berkata Rasulullah s.a.w.: "Wahai lzrail, di manakah kamu tinggalkan Jibril?" Berkata lzrail: "Saya tinggalkan Jibril di langit dunia, semua para malaikat sedang memuliakan dia."

    Tidak beberapa saat kemudian Jibril a.s. pun turun dan duduk dekat kepala Rasulullah s.a.w. Apabila Rasulullah s.a.w. melihat kedatangan Jibril a.s. maka Rasulullah s.a.w. pun berkata: "Wahai Jibril, tahukah kamu bahawa ajalku sudah dekat" Berkata Jibril a.s.: "Ya aku memang tahu." Rasulullah s.a.w. bertanya lagi: "Wahai Jibril, beritahu kepadaku kemuliaan yang menggembirakan aku disisi Allah s.w.t." Berkata Jibril a.s.: "Sesungguhnya semua pintu langit telah dibuka, para malaikat bersusun rapi menanti rohmu dilangit. Kesemua pintu-pintu syurga telah dibuka, dan kesemua para bidadari sudah berhias menanti kehadiran rohmu."

    Berkala Rasulullah s.a.w.: "Alhamdulillah, sekarang kamu katakan pula tentang umatku di hari kiamat nanti." Berkata Jibril a.s.: "Allah s.w.t. telah berfirman yang ber-maksud: "Sesungguhnya aku telah melarang semua para nabi masuk ke dalam syurga sebelum engkau masuk terlebih dahulu, dan aku juga melarang semua umat memasuki syurga sebelum umatmu memasuki syurga." Berkata Rasulullah s.a.w.: "Sekarang aku telah puas hati dan telah hilang rasa susahku." Kemudian Rasulullah s.a.w. berkata: "Wahai lzrail, dekatlah kamu kepadaku."

    Selelah itu Malaikat lzrail pun memulakan tugasnya, apabila roh nya sampai pada pusat, maka Rasulullah s.a.w. pun berkata: "Wahai Jibril, alangkah dahsyatnya rasa mati." Jibril a.s. mengalihkan pandangan dari Rasulullah s.a.w. apabila mendengar kata-kata beliau itu. Melihatkan telatah Jibril a.s. itu maka Rasulullah s.a.w. pun berkata: "Wahai Jibril, apakah kamu tidak suka melihat wajahku?" Jibril a.s. berkata: "Wahai kekasih Allah, siapakah orang yang sanggup melihat wajahmu dikala kamu dalam sakaratul maut?"

    Anas bin Malik r.a. berkata: "Apabila roh Rasulullah s.a.w. telah sampai di dada beliau telah bersabda: "Aku wasiatkan kepada kamu agar kamu semua menjaga shalat dan apa-apa yang telah diperintahkan ke atasmu." Ali r.a. berkata: "Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. ketika menjelang saat-saat terakhir, telah mengerakkan kedua bibir beliau sebanyak dua kali, dan saya meletakkan telinga, saya dengan Rasulullah s.a.w. berkata: "Umatku, umatku." Telah bersabda Rasulullah s.a.w. bahawa: "Malaikat Jibril a.s. telah berkata kepadaku; "Wahai Muhammad, sesungguhnya Allah s.w.t. telah menciptakan sebuah laut di belakang gunung Qaf, dan di laut itu terdapat ikan yang selalu membaca selawat untukmu, kalau sesiapa yang mengambil seekor ikan dari laut tcrsebut maka akan lumpuhlah kedua belah tangannya dan ikan tersebut akan menjadi batu."

    http://www.jaring.my/comtara/wahyu.html



    Temukan cinta anda.
    Source : Unknown

    Bila anda tak mencintai pekerjaan anda, maka cintailah orang-orang yang bekerja di sana. Rasakan kegembiraan dari pertemanan itu. Dan, pekerjaan pun jadi menggembirakan.

    Bila anda tak bisa mencintai rekan-rekan kerja anda, maka cintailah suasana dan gedung kantor anda. Ini mendorong anda untuk bergairah berangkat kerja dan melakukan tugas-tugas dengan lebih baik lagi.

    Bila toh anda juga tidak bisa melakukannya, cintai setiap pengalaman pulang pergi dari dan ke tempat kerja anda. Perjalanan yang menyenangkan menjadikan tujuan tampak menyenangkan juga.

    Namun, bila anda tak menemukan kesenangan di sana, maka cintai apa pun yang bisa anda cintai dari kerja anda: tanaman penghias meja, cicak di atas dinding, atau gumpalan awan dari balik jendela.

    Apa saja. Bila anda tak menemukan yang bisa anda cintai dari pekerjaan anda, maka mengapa anda ada di situ? Tak ada alasan bagi anda untuk tetap bertahan. Cepat pergi dan carilah apa yang anda cintai, lalu bekerjalah di sana. Hidup hanya sekali. Tak ada yang lebih indah selain melakukan dengan rasa cinta yang tulus.

    I-Net


    Semarakan Salam

    Rasulullah saw. pernah bersabda bahwa di dalam surga itu terbagi dalam kamar-kamar. Dindingnya tembus pandang dengan hiasan di dalamnya yang sangat menyenangkan. Di kamar itu pula terlihat pemandangan yang tak pernah dilihat di dunia dan terdapat suatu hiburan yang tak pernah dirasakan manusia di dunia.

    "Untuk siapa kamar-kamar itu ya Rasulullah?" tanya sahabat.

    "Untuk orang yang mengucapkan dan menyemarakkan salam, untuk mereka yang memberi makan bagi orang yang membutuhkan, dan untuk mereka yang membiasakan puasa dan sholat di waktu malam, saat manusia lelap di dalam mimpinya."

    "Siapa yang bisa melakukan itu, dan bagaimana caranya?" tanya sahabat lagi.

    "Mereka yang bila bertemu dengan kawannya memberi salam. Dengan begitu, berarti dia telah menyemarakkan salam. Mereka yang memberi makan kepada ahli keluarganya sampai berkecukupan, dengan begitu berarti termasuk orang yang membiasakan selalu berpuasa. Mereka yang salat 'Isya dan salat Shubuh berjama'ah, dengan begitu termasuk orang yang salat malam, di saat orang-orang sedang tidur terlelap." Begitu Nabi menjelaskan sabdanya kepada para sahabatnya.

    Sumber: 1001 Kisah-Kisah Nyata, Achmad Sunarto



    Tips busana untuk wanita berjilbab oleh Ikatan Perancang Busana Muslim Jawa Barat

    Saat ini begitu banyak wanita Islam yang mengenakan busana muslimah. Mulai dari model-model sangat sederhana dan tanpa membentuk badan hingga yang rada-rada ketat kendati tertutup. Harus diakui model busana muslimah yang dikenakan sebagian wanita muslim ini makin hari makin beragam bahkan tak sedikit yang merupakan hasil rancangan desainer-desainer beken.
    Di antaranya terkesan ada sedikit "pergeseran" dalam busana ini. Artinya tak selalu busana muslimah itu memenuhi kaidah yangdigariskan oleh agama kita. Keadaan itu mungkin disebabkan oleh ketidaktahuan para muslimah terhadap aturan-aturan berbusana muslim yang telah ditetapkan Al-Quranul Karim atau karena para muslimah sendiri "asal comot" dalam memilih busana yang akan dikenakannya.

    "Akibatnya bukan menutup aurat, tapi justru membuka aurat. Dalam pengamatan saya masih saja terlihat kecendrungan kaum ibu yang menggunakan busana muslimah dengan belahan tinggi di bagian samping atau belakang gaun sehingga betisnya kelihatan. Atau bahkan menaikkan kerudung dan mengikatkannya di belakang dengan membiarkan dada/leher tampak jelas kelihatan," kata Ernie Kosasih, ketua IkatanPerancang Busana Muslim (IPBM) Jawa Barat.

    Karena itu, menurut Ernie yang telah lama berkutatdi dunia busana muslimah ini, IPBM mempunyai kesepakatan dalam desain-desain busana muslim. Ketentuan yang telah menjadi kesepakatan beberapa perancang busana muslim yang tergabung dalam IPBM Jawa Barat yakni :

    Busana muslimah harus menutupi aurat perempuan yang disyari'atkan (kecuali telapak tangan dan muka/wajah).
    Busana muslimah tidak boleh memperlihatkan bentuk tubuh (ketat) tapi harus longgar.
    Busana muslimah tidak boleh menerawang.
    Demi memberi gambaran bagaimana berbusana muslimahyang baik dan sesuai persyaratan agama Islam, Ernie memberikan kiatnya.

    Kiat-kiat tersebut dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi "modifikasi kreatif" tanpa keluar dari ketentuan berbusana muslim seperti yang disyari'atkan Islam. Kiat-kiat tersebut antara lain:

    Dalam memilih bahan, Islam mengharuskan bahantidak tipis dan menerawang (kecuali di dalamnya dilapisi busana lain yang longgar dan tidak menerawang - Red)
    Bagi mereka yang kebetulan memiliki postur tubuh besar, sebaiknya mempergunakan bahan-bahan yang lembut dan tidak kaku. Jangan menggunakan motif/corak berbunga besar, namun pergunakanlah motif/corak berbunga kecil atau bisa juga motif etnik klasik yang manis. Selain itu mereka dianjurkan untuk tidak menyilang tubuh dengan garis-garis horisontal.
    Cobalah menggunakan bahan yang lembut maupun kaku. Bahan yang lembut dapat dipakai dengan sitim tumpuk sehingga postur tetap tertutupi. Pilihan motif pun bisa lebih bervariasi.
    Masalah warna kain ia serahkan sepenuhnya pada pemakai. Hanya saja Ernie mengingatkan sang pemakai hendaknya pandai-pandai memadukan warna tersebut.
    Sedangkan kerudung yang dikenakan tidak cukup hanya menutupi kepala, tetapi juga harus menutupi leher dan bagian dada. Tapi bagi mereka yang suka kepraktisan dan lebih sering menggunakan kerudung yang diikat ke belakang tengkuk, tidak masalah. Yang penting, gaun yang dikenakan tidak mencetak tubuh bagian dada. Kerudung tambahan yang dianjurkan disesuaikan dengan suasana. Untuk makan malam tampak sangat ideal bila mengenakan kerudung panjang, setelah sebelumnya rambut ditutup kerudung utama. Sedangkan untuk siang hari dianjurkan menggunakan kerudung simpel tapi tetap memenuhi syariat Islam.
    Menurut Ernie Kosasih, harga busana tidak menjadi tolak ukur. Baginya yang lebih penting adalah kebersahajaan. Ini baru diperoleh jika mode: warna, bahan, dan penutup kepala termasuk aksesoris yang dipakai serasi. Namun kalau kebetulan anda mempunyai rasa pede (percaya diri) yang tinggi, kiat tersebut bisa saja diabaikan. Anda mungkin lebih suka menggunakan warna, motif, dan gaya yang lain.

    "Asal jangan keluar dari syariat. Mudah-mudahandengan cara tersebut kita bisa tetap tampil cantik ,bersahaja tanpa keluar dari ketentuan syariat." Ninna Hilman

    Wanita - Muslihah Dot Com


    Nabi pun Terasa Sepi tanpa Wanita

    Jangankan lelaki biasa, Nabi pun terasa sunyi tanpa wanita. Tanpa mereka, hati, fikiran, perasaan lelaki akan resah. Masih mencari walaupun sudah ada segala- galanya. Apalagi yang tidak ada di syurga, namun Nabi Adam a.s. tetap merindukan siti hawa.
    Kepada wanitalah lelaki memanggil ibu, istri atau puteri. Dijadikan mereka dari tulang rusuk yang bengkok untuk diluruskan oleh lelaki, tetapi kalau
    lelaki sendiri yang tidak lurus, tidak mungkin mampu hendak meluruskan mereka.

    Tak logis kayu yang bengkok menghasilkan bayang-bayang yang lurus. Luruskanlah wanita dengan cara petunjuk Allah, karena mereka diciptakan begitu rupa oleh mereka. Didiklah mereka dengan panduan dariNya: JANGAN COBA JINAKKAN MEREKA DENGAN HARTA, NANTI MEREKA SEMAKIN LIAR, JANGAN HIBURKAN MEREKA DENGAN KECANTIKAN, NANTI MEREKA SEMAKIN MENDERITA,

    Yang sementara itu tidak akan menyelesaikan masalah, Kenalkan mereka kepada Allah, zat yang kekal, disitulah kuncinya. AKAL SETIPIS RAMBUTNYA, TEBALKAN DENGAN ILMU, HATI SERAPUH KACA, KUATKAN DENGAN IMAN, PERASAAN SELEMBUT SUTERA, HIASILAH DENGAN AKHLAK .


    Suburkanlah karena dari situlah nanti merka akan nampak penilaian dan keadilan Tuhan. Akan terhibur dan berbahagialah mereka, walaupun tidak jadi ratu cantik dunia, presiden ataupun perdana mentri negara atau women gladiator. Bisikkan ke telinga mereka bahwa kelembutan bukan suatu kelemahan. Itu bukan diskriminasi Tuhan. Sebaliknya disitulah kasih sayang Tuhan, karena rahim wanita yang lembut itulah yang mengandungkan lelaki2 wajah: negarawan, karyawan, jutawan dan wan-wan lain. Tidak akan lahir superman tanpa superwoman. Wanita yang lupa hakikat kejadiannya, pasti tidak terhibur dan tidak menghiburkan.
    Tanpa ilmu, iman dan akhlak, mereka bukan saja tidak bisa diluruskan, bahkan mereka pula membengkokkan.

    LEBIH BANYAK LELAKI YANG DIRUSAKKAN OLEH PEREMPUAN DARIPADA PEREMPUAN YANG DIRUSAKKAN OLEH LELAKI. SEBODOH-BODOH PEREMPUAN PUN BISA MENUNDUKKAN SEPANDAI-PANDAI LELAKI.

    Itulah akibatnya apabila wanita tidak kenal Tuhan. Mereka tidak akan kenal diri mereka sendiri, apalagi mengenal lelaki. Kini bukan saja banyak boss telah kehilangan secretary, bahkan anakpun akan kehilangan ibu, suami kehilangan istri dan bapa akan kehilangan puteri. Bila wanita durhaka dunia akan huru-hara. Bila tulang rusuk patah, rusaklah jantung, hati dan limpa. Para lelaki pula jangan hanya mengharap ketaatan tetapi binalah kepemimpinan.


    Pastikan sebelum memimpin wanita menuju Allah PIMPINLAH DIRI SENDIRI DAHULU KEPADA-NYA. jinakan diri dengan Allah, niscaya jinaklah segala-galanya dibawah pimpinan kita.

    JANGAN MENGHARAP ISTRI SEPERTI SITI FATIMAH, KALAU PRIBADI BELUM LAGI SEPERTI SAYIDINA ALI

    Dikutip dari milis Padang Mbulan dari sebuah e-mail yang dipostingkan oleh Enny Handayani (1/12/1999)


    Siapa Yang Lagi Nyari Istri ??? [20 Petunjuk Memilih Istri]

    http://www.geocities.com/info_hikmah/istri1.html

    Coba ... pilih yang pintar yah ...
    hehehe ....



    1. Hukum pacaran itu bagaimana sih? ....
    2. Saya ingin tanya tentang pergaulan antara pria dan wanita menurut syariat islam! dan bagaimana hukumnya apabila tidak berpacaran namun bergaul dengan pria lain dan pria itu timbul perasaan terhadap kita walaupun kita tidak ingin dikatakan berpacaran dengan pria itu walaupun wanitanya lama-lama juga timbul perasaan tertarik pada pria tersebut? Atas jawabannya saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya! ...
    3. Saya muslimah ingin menyakan tentang hukum pacaran saya pernah dengar katanya pacaran itu haram lalu bagi cowok untuk mengetahui sifat/karakter pujaannya bisa mengirim saudaranya untuk mengetahui nya(mohon koreksinya), lalu bagaimana dengan cewek? apakah juga perlu mengirimkan saudaranya untuk mengetahui sifat cowok pujaanya? ...

    Jawaban:

    Dalam Islam, hubungan antara pria dan wanita dibagi menjadi dua, yaitu hubungan mahram dan hubungan nonmahram. Hubungan mahram adalah seperti yang disebutkan dalam Surah An-Nisa 23, yaitu mahram seorang laki-laki (atau wanita yang tidak boleh dikawin oleh laki-laki) adalah ibu (termasuk nenek), saudara perempuan (baik sekandung ataupun sebapak), bibi (dari bapak ataupun ibu), keponakan (dari saudara sekandung atau sebapak), anak perempuan (baik itu asli ataupun tiri dan termasuk di dalamnya cucu), ibu susu, saudara sesusuan, ibu mertua, dan menantu perempuan. Maka, yang tidak termasuk mahram adalah sepupu, istri paman, dan semua wanita yang tidak disebutkan dalam ayat di atas.

    Uturan untuk mahram sudah jelas, yaitu seorang laki-laki boleh berkhalwat (berdua-duaan) dengan mahramnya, semisal bapak dengan putrinya, kakak laki-laki dengan adiknya yang perempuan, dan seterusnya. Demikian pula, dibolehkan bagi mahramnya untuk tidak berhijab di mana seorang laki-laki boleh melihat langsung perempuan yang terhitung mahramnya tanpa hijab ataupun tanpa jilbab (tetapi bukan auratnya), semisal bapak melihat rambut putrinya, atau seorang kakak laki-laki melihat wajah adiknya yang perempuan. Aturan yang lain yaitu perempuan boleh berpergian jauh/safar lebih dari tiga hari jika ditemani oleh laki-laki yang terhitung mahramnya, misalnya kakak laki-laki mengantar adiknya yang perempuan tour keliling dunia. Aturan yang lain bahwa seorang laki-laki boleh menjadi wali bagi perempuan yang terhitung mahramnya, semisal seorang laki-laki yang menjadi wali bagi bibinya dalam pernikahan.

    Hubungan yang kedua adalah hubungan nonmahram, yaitu larangan berkhalwat (berdua-duaan), larangan melihat langsung, dan kewajiban berhijab di samping berjilbab, tidak bisa berpergian lebih dari tiga hari dan tidak bisa menjadi walinya. Ada pula aturan yang lain, yaitu jika ingin berbicara dengan nonmahram, maka seorang perempuan harus didampingi oleh mahram aslinya. Misalnya, seorang siswi SMU yang ingin berbicara dengan temannya yang laki-laki harus ditemani oleh bapaknya atau kakaknya. Dengan demikian, hubungan nonmahram yang melanggar aturan di atas adalah haram dalam Islam. Perhatikan dan renungkanlah uraian berikut ini.

    Firman Allah SWT yang artinya, "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (Al-Isra: 32).

    "Katakanlah kepada orang-orang mukmin laki-laki: 'Hendaklah mereka itu menundukkan sebahagian pandangannya dan menjaga kemaluannya ….' Dan katakanlah kepada orang-orang mukmin perempuan: 'Hendaknya mereka itu menundukkan sebahagian pandangannya dan menjaga kemaluannya …'."
    (An-Nur: 30--31).


    Menundukkan pandangan yaitu menjaga pandangan, tidak dilepas begitu saja tanpa kendali sehingga dapat menelan merasakan kelezatan atas birahinya kepada lawan jenisnya yang beraksi. Pandangan dapat dikatakan terpelihara apabila secara tidak sengaja melihat lawan jenis kemudian menahan untuk tidak berusaha melihat mengulangi melihat lagi atau mengamat-amati kecantikannya atau kegantengannya.

    Dari Jarir bin Abdullah, ia berkata, "Saya bertanya kepada Rasulullah saw. tentang melihat dengan mendadak. Maka jawab Nabi, 'Palingkanlah pandanganmu itu!" (HR Muslim, Abu Daud, Ahmad, dan Tirmizi).

    Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. telah bersabda yang artinya, "Kedua mata itu bisa melakukan zina, kedua tangan itu (bisa) melakukan zina, kedua kaki itu (bisa) melakukan zina. Dan kesemuanya itu akan dibenarkan atau diingkari oleh alat kelamin."
    (Hadis sahih diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Ibn Abbas dan Abu Hurairah).


    "Tercatat atas anak Adam nasibnya dari perzinaan dan dia pasti mengalaminya. Kedua mata zinanya melihat, kedua teling zinanya mendengar, lidah zinanya bicara, tangan zinanya memaksa (memegang dengan keras), kaki zinanya melangkah (berjalan) dan hati yang berhazrat dan berharap. Semua itu dibenarkan (direalisasi) oleh kelamin atau digagalkannya." (HR Bukhari).

    Rasulullah saw. berpesan kepada Ali r.a. yang artinya, "Hai Ali, Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya! Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun berikutnya tidak boleh." (HR Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi).

    Al-Hakim meriwayatkan, "Hati-hatilah kamu dari bicara-bicara dengan wanita, sebab tiada seorang laki-laki yang sendirian dengan wanita yang tidak ada mahramnya melainkan ingin berzina padanya."

    Yang terendah adalah zina hati dengan bernikmat-nikmat karena getaran jiwa yang dekat dengannya, zina mata dengan merasakan sedap memandangnya dan lebih jauh terjerumus ke zina badan dengan, saling bersentuhan, berpegangan, berpelukan, berciuman, dan seterusnya hingga terjadilah persetubuhan.

    Ath-Thabarani dan Al-Hakim meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Allah berfirman yang artinya, 'Penglihatan (melihat wanita) itu sebagai panah iblis yang sangat beracun, maka siapa mengelakkan (meninggalkannya) karena takut pada-Ku, maka Aku menggantikannya dengan iman yang dapat dirasakan manisnya dalam hatinya."

    Ath-Thabarani meriwayatkan, Nabi saw. bersabda yang artinya, "Awaslah kamu dari bersendirian dengan wanita, demi Allah yang jiwaku di tangan-Nya, tiada seorang lelaki yang bersendirian (bersembunyian) dengan wanita malainkan dimasuki oleh setan antara keduanya. Dan, seorang yang berdesakkan dengan babi yang berlumuran lumpur yang basi lebih baik daripada bersentuhan bahu dengan bahu wanita yang tidak halal baginya."

    Di dalam kitab Dzamm ul Hawa, Ibnul Jauzi menyebutkan dari Abu al-Hasan al-Wa'ifdz bahwa dia berkata, "Ketika Abu Nashr Habib al-Najjar al-Wa'idz wafat di kota Basrah, dia dimimpikan berwajah bundar seperti bulan di malam purnama. Akan tetapi, ada satu noktah hitam yang ada wajahnya. Maka orang yang melihat noda hitam itu pun bertanya kepadanya, 'Wahai Habib, mengapa aku melihat ada noktah hitam berada di wajah Anda?' Dia menjawab, 'Pernah pada suatu ketika aku melewati kabilah Bani Abbas. Di sana aku melihat seorang anak amrad dan aku memperhatikannya. Ketika aku telah menghadap Tuhanku, Dia berfirman, 'Wahai Habib?' Aku menjawab, 'Aku memenuhi panggilan-Mu ya Allah.' Allah berfirman, 'Lewatlah Kamu di atas neraka.' Maka, aku melewatinya dan aku ditiup sekali sehingga aku berkata, 'Aduh (karena sakitnya).' Maka. Dia memanggilku, 'Satu kali tiupan adalah untuk sekali pandangan. Seandainya kamu berkali-kali memandang, pasti Aku akan menambah tiupan (api neraka)."

    Hal tersebut sebagai gambaran bahwa hanya melihat amrad (anak muda belia yang kelihatan tampan) saja akan mengalami kesulitan yang sangat dalam di akhirat kelak.

    "Semalam aku melihat dua orang yang datang kepadaku. Lantas mereka berdua mengajakku keluar. Maka, aku berangkat bersama keduanya. Kemudian keduanya membawaku melihat lubang (dapur) yang sempit atapnya dan luas bagian bawahnya, menyala api, dan bila meluap apinya naik orang-orang yang di dalamnya sehingga hampir keluar. Jika api itu padam, mereka kembali ke dasar. Lantas aku berkata, 'Apa ini?' Kedua orang itu berkata, 'Mereka adalah orang-orang yang telah melakukan zina." (Isi hadis tersebut kami ringkas redaksinya. Hadis di ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim).

    Di dalam kitab Dzamm ul-Hawa, Ibnul Jauzi menyebutkan bahwa Abu Hurairah r.a. dan Ibn Abbas r.a., keduanya berkata, Rasulullah saw. Berkhotbah, "Barang siapa yang memiliki kesempatan untuk menggauli seorang wanita atau budak wanita lantas dia melakukannya, maka Allah akan mengharamkan surga untuknya dan akan memasukkan dia ke dalam neraka. Barang siapa yang memandang seorang wanita (yang tidak halal) baginya, maka Allah akan memenuhi kedua matanya dengan api dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam neraka. Barang siapa yang berjabat tangan dengan seorang wanita (yang) haram (baginya) maka di hari kiamat dia akan datang dalam keadaan dibelenggu tangannya di atas leher, kemudian diperintahkan untuk masuk ke dalam neraka. Dan, barang siapa yang bersenda gurau dengan seorang wanita, maka dia akan ditahan selama seribu tahun untuk setiap kata yang diucapkan di dunia. Sedangkan setiap wanita yang menuruti (kemauan) lelaki (yang) haram (untuknya), sehingga lelaki itu terus membarengi dirinya, mencium, bergaul, menggoda, dan bersetubuh dengannya, maka wanitu itu juga mendapatkan dosa seperti yang diterima oleh lelaki tersebut."

    'Atha' al-Khurasaniy berkata, "Sesungguhnya neraka Jahanam memiliki tujuh buah pintu. Yang paling menakutkan, paling panas, dan paling bisuk baunya adalah pintu yang diperuntukkan bagi para pezina yang melakukan perbuatan tersebut setelah mengetahui hukumnya."

    Dari Ghazwan ibn Jarir, dari ayahnya bahwa mereka berbicara kepada Ali ibn Abi Thalib mengenai beberapa perbuatan keji. Lantas Ali r.a. berkata kepada mereka, "Apakah kalian tahu perbuatan zina yang paling keji di sisi Allah Jalla Sya'nuhu?" Mereka berkata, "Wahai Amir al-Mukminin, semua bentuk zina adalah perbuatan keji di sisi Allah." Ali r.a. berkata, "Akan tetapi, aku akan memberitahukan kepada kalian sebuah bentuk perbuatan zina yang paling keji di sisi Allah Tabaaraka wa Taala, yaitu seorang hamba berzina dengan istri tetangganya yang muslim. Dengan demikian, dia telah menjadi pezina dan merusak istri seorang lelaki muslim." Kemudian, Ali r.a. berkata lagi, "Sesungguhnya akan dikirim kepada manusia sebuah aroma bisuk pada hari kiamat, sehingga semua orang yang baik maupun orang yang buruk merasa tersiksa dengan bau tersebut. Bahkan, aroma itu melekat di setiap manusia, sehingga ada seseorang yang menyeru untuk memperdengarkan suaranya kepada semua manusia, "Apakah kalian tahu, bau apakah yang telah menyiksa penciuman kalian?" Mereka menjawab, "Demi Allah, kami tidak mengetahuinya. Hanya saja yang paling mengherankan, bau tersebut sampai kepada masing-masing orang dari kita." Lantas suara itu kembali terdengar, "Sesungguhnya itu adalah aroma alat kelamin para pezina yang menghadap Allah dengan membawa dosa zina dan belum sempat bertobat dari dosa tersebut."

    Bukankah banyak kejadian orang-orang yang berpacaran dan bercinta-cinta dengan orang yang telah berkeluarga? Jadi, pacaran tidak hanya mereka yang masih bujangan dan gadis, tetapi dari uisa akil balig hingga kakek nenek bisa berbuat seperti yang diancam oleh hukuman Allah tersebut di atas. Hanya saja, yang umum kelihatan melakukan pacaran adalah para remaja.

    Namun, bukan berarti tidak ada solusi dalam Islam untuk berhubungan dengan nonmahram. Dalam Islam hubungan nonmahram ini diakomodasi dalam lembaga perkawinan melalui sistem khitbah/lamaran dan pernikahan.

    "Hai golongan pemuda, siapa di antara kamu yang mampu untuk menikah, maka hendaklah ia menikah, karena menikah itu lebih menundukkan pandangan, dan lebih memelihara kemaluan. Tetapi, siapa yang tidak mampu menikah, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat mengurangi syahwat." (HR Bukhari, Muslim, Abu Daud, Tirmizi, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan Darami).

    Selain dua hal tersebut di atas, baik itu dinamakan hubungan teman, pergaulan laki perempuan tanpa perasaan, ataupun hubungan profesional, ataupun pacaran, ataupun pergaulan guru dan murid, bahkan pergaulan antar-tetangga yang melanggar aturan di atas adalah haram, meskipun Islam tidak mengingkari adanya rasa suka atau bahkan cinta. Anda bahkan diperbolehkan suka kepada laki-laki yang bukan mahram, tetapi Anda diharamkan mengadakan hubungan terbuka dengan nonmahram tanpa mematuhi aturan di atas. Maka, hubungan atau jenis pergaulan yang Anda sebutkan dalam pertanyaan Anda adalah haram. Kalau masih ingin juga, Anda harus ditemani kakak laki-laki ataupun mahram laki-laki Anda dan Anda harus berhijab dan berjilbab agar memenuhi aturan yang telah ditetapkan Islam.

    Hidup di dunia yang singkat ini kita siapkan untuk memperoleh kemenangan di hari akhirat kelak. Oleh karena itu, marilah kita mulai hidup ini dengan bersungguh-sungguh dan jangan bermain-main. Kita berusaha dan berdoa mengharap pertolongan Allah agar diberi kekuatan untuk menjalankan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Semoga Allah menolong kita, amin.

    Adapun pertanyaan berikutnya kami jawab bahwa cara mengetahui sifat calon pasangan adalah bisa tanya secara langsung dengan memakai pendamping (penengah) yang mahram. Atau, bisa melalui perantara, baik itu dari keluarga atau saudara kita sendiri ataupun dari orang lain yang dapat dipercaya. Hal ini berlaku bagi kedua belah pihak. Kemudian, bagi seorang laki-laki yang menyukai wanita yang hendak dinikahinya, sebelum dilangsungkan pernikahan, maka baginya diizinkan untuk melihat calon pasangannya untuk memantapkan hatinya dan agar tidak kecewa di kemudian hari.

    "Apabila seseorang hendak meminang seorang wanita kemudian ia dapat melihat sebagian yang dikiranya dapat menarik untuk menikahinya, maka kerjakanlah." (HR Abu Daud).

    Hal-hal yang mungkin dapat dilakukan sebagai persiapan seorang muslim apabila hendak melangsungkan pernikahan.
    1. Memilih calon pasangan yang tepat.
    2. Diproses melalui musyawarah dengan orang tua.
    3. Melakukan salat istikharah.
    4. Mempersiapkan nafkah lahir dan batin.
    5. Mempelajari petunjuk agama tentang pernikahan.
    6. Membaca sirah nabawiyah, khususnya yang menyangkut rumah tangga Rasulullah saw.
    7. Menyelesaikan persyaratan administratif sesui dengan peraturan daerah tempat tinggal.
    8. Melakukan khitbah/pinangan.
    9. Memperbanyak taqarrub kepada Allah supaya memperoleh kelancaran.
    10. Mempersiapkan walimah.


    Demikian uraian jawaban kami, wallaahu a'lam.

    Sumber : Al Islam Or Id


    Tuesday, December 16, 2003

    Cinta dan Kasih Sayang

    Abu Hurairah r.a berkata : Bersabda Nabi SAW : "Tujuh macam orang yang bakal dinaungi Allah di bawah naunganNya, pada hari tiada naungan kecuali naungan Allah ; 1. Pemimpin (raja) yang adil, 2. Pemuda yang rajin dalam ibadat kepada Allah, 3. Seseorang yang selalu gandrung hatinyan dengan Masjid, 4. Dua orang yang kasih sayang karena Allah, baik di waktu berkumpul atau berpisah, 5. Seorang lelaki yang diajak berlaku curang oleh wanita bangsawan cantik kemudian berkata : Saya Takut kepada Allah, 6. Seorang bersedekah dengan diam-diam sehingga tangan yang sebelan kanan tidak tahu apa yang disedekahkan oleh tangan sebelah kirinya, dan 7. Seorang yang ingat (berdzikir) pada Allah dengan sendirian, maka mencucurkan air mata. [ Buchari Muslim].



    Sunday, December 14, 2003

    Tangis Misterius Ahsan

    "Lha, kok gitu aja nangis…?" Anak Rohis SMU Daya Guna serempak
    melongok ketika Ahsan yang bersandar di dinding dekat pintu Musholla
    menangis.
    "Memangnya kenapa, kok bisa nangis?"
    "Apa karena dia tadi ngeliat petir?"
    "Ah, masak cuma gara-gara petir aja bisa nangis?"
    "Jarang ngeliat petir kali.."
    Komentar dan pertanyaan berbaur dengan suara hujan di luar.
    Malam ini, acara mabid yang sering dilaksanakan oleh Rohis SMU Daya
    Guna sedikit terusik oleh sensasi Ahsan yang menangis ketika suara
    guntur - yang terseling beberapa detik setelah tampak cahaya kilat
    yang hebat - menggelegar mengisi angkasa kota Bandar Lampung.
    Kak Ridwan mendekati Ahsan yang duduk bersila sambil menunduk,
    mencucurkan air mata dalam tangisnya.
    "Antum kenapa dek?" Tanya kak Ridwan sambil melingkarkan tangannya ke
    pundak Ahsan.
    "Nggak apa-apa kok, kak."
    Ahsan menghapus air matanya dengan lengan bajunya.
    "Terus kenapa antum nangis?"
    Reaksi Ahsan hanya diam yang oleh kak Ridwan disangkanya masih malu
    untuk menceritakan masalahnya sehingga kak Ridwan lalu beranjak
    meninggalkan Ahsan dan memimpin acara selanjutnya.
    Peserta mabid pun mengalihkan perhatiannya kepada Ahsan, siswa baru
    di SMU Daya Guna.

    Tepatnya ketika awal catur wulan 2, pindahan dari SMU di Padang itu
    mulai resmi belajar di SMU Daya Guna. Sambutan kawan-kawannya cukup
    ramah. Karena Ahsan orang yang luwes, mudah bergaul, suka membantu
    kecuali dalam ujian, dan tampangnya pun lumayan.
    Anak murah senyum yang di sekolahnya dulu sudah aktif di Rohis itu
    pun langsung bergabung dengan Rohis SMU Daya Guna. Hal yang membuat
    aktifis Rohis seperti mendapat bulan jatuh. Karena mulai saat itu,
    Rohis memiliki ujung tombak dalam perekrutan anggota. Baru sebulan
    Ahsan di sana, sudah lima orang yang direkrutnya untuk masuk Rohis.
    Dakwah Fardiyah Ahsan memang `kenceng'.

    Namun kesan baik itu pada akhirnya tercoreng. Bermula ketika ada
    razia dadakan yang diadakan oleh para guru berhubung adanya isu
    rencana tawuran antara ekskul pecinta alam dan basket.
    Pagi itu para guru memasuki ruang kelas, termasuk kelas 2.2 yang
    ditempati oleh Ahsan. Setelah semua murid keluar oleh perintah guru,
    razia pun dilaksanakan dengan menggeledah setiap tas tak terkecuali.
    Razia hanya berlangsung tak lebih 5 menit. Sebuah obeng didapat dari
    anak yang terkenal nakal di kelas Ahsan. Hanya itu. Tak ada yang
    disita dari tas Ahsan karena Ahsan tak membawa perabotan aneh ke
    sekolah.

    Namun anehnya, setelah seluruh siswa masuk ke kelas, Ahsan terisak
    dibangkunya. Pelan memang, tapi tak dapat menyembunyikannya dari
    perhatian teman-teman Ahsan.
    Teman-temannya menyangka Ahsan shock akibat razia. Meski teman-
    temannya sudah mencoba menghibur Ahsan, namun tangis Ahsan tak
    kunjung reda. Begitulah hingga akhirnya tervonis dalam benak mereka
    bahwa Ahsan itu anak yang cengeng.
    Keheranan orang-orang terhadap Ahsan makin menjadi tatkala malam ini
    Ahsan kembali menangis. Terlalu sepele apabila petir dan guntur itu
    menjadi sebab menangisnya Ahsan.

    *******

    Sehabis ulangan umum cawu ke-2, Rohis SMU Daya Guna mengadakan rihlah
    ke pantai. Tujuannya untuk memperbaharui keimanan dan meningkatkan
    ruhiyah anggota, sekaligus mengikat anggota yang kurang aktif agar
    tetap terjaga hubungannya dengan anggota yang aktif.
    Para rohiser itu begitu menikmati keriangan suasana di pantai yang
    menghebuskan angin perlahan yang menutupi mereka dari panas.
    Sementara debur ombak yang tak terlalu besar menjadi bagian inti dari
    keriangan mereka yang menceburkan diri ke laut - tentu saja dengan
    pakaian yang syar'i. Pasir putih pun menjadi pijakan lembut rohiser
    yang bermain sepakbola di pantai.

    Namun di tengah acara, tersebar berita hilangnya Ahsan. Seketika para
    peserta yang sedang bermain-main terhenti permainannya.
    Atas komando ketua panitia, peserta dibagi beberapa kelompok untuk
    mencari Ahsan yang hilang secara misterius.
    Akhirnya Ahsan pun diketemukan sedang duduk di atas sebuah batang
    pohon kelapa yang sudah tumbang seratus meter di sebelah timur tempat
    rihlah di langsungkan. Dari atas batang pohon itu, Ahsan yang berada
    di tengah-tengah semak tepi pantai tampak termenung memandang ombak
    yang berlarian menuju ketepian.

    "Masya Allah Ahsan, ke mana aja antum?" tanya Arif, ketua rohis.
    Ahsan hanya tersenyum menyambut kedatangan mereka.
    "Alhamdulillah Ahsan ketemu. Kirain udah diculik dedemit." Timpal
    yang lain.
    "Ngapain antum, kok bisa misah dengan kami."
    "Antum nggak tahu tempat ini, jadi jangan misah-misah dong."
    Berbagai komentar mengalir menyayangkan hilangnya Ahsan. Namun…
    "Lho kok nangis, Ahsan." Arif mulai kebingungan. Kemudian kepada
    peserta rihlah Arif memberi komando, "Antum semua bubar. Udah pada
    maen lagi sana!" instruksi Arif. Semua peserta berduyun-duyun
    meninggalkan Arif dengan hati menggerutu. Kalau tidak karena ada
    kewajiban untuk mentaati Amir, tentu mereka tetap di situ. Dan kini
    tinggallah Arif kelabakan menenangkan Ahsan.
    "Udah, antum kan udah bersama kami lagi. Jadi jangan panik lagi. Udah
    diem. Bersyukurlah sama Allah."
    Ahsan tetap saja meneruskan tangisnya.
    "Udah dong akhi." Arif terus membujuk.
    Anehnya Ahsan malah menunjuk ke dahan besar yang didudukinya.
    "Kenapa, ada apa dengan pohon ini?" dahi Afir berkerut. "Ooo, ya
    Allah. Antum ngeliat hantu ya tadi?" Lanjut Arif.
    Ahsan hanya meneruskan tangisnya. Sementara itu Arif mulai
    merinding. "Itu cuma ilusi antum aja. Bener kok…" Ahsan mencoba
    melawan rasa takutnya.
    "Eh ya udah, Ahsan, kita pergi aja dari sini. Yuk!"
    Tak lama Ahsan pun mulai beranjak, dan tangisnya berhenti.
    Namun itu tak lama. Setelah ia duduk di pinggir pantai dan tersenyum
    melihat ombak, ia pun tiba-tiba menangis lagi.
    "Ya Allah Ahsaaan, kok nangis lagi sih?" Arif pun kembali
    kebingungan.
    "Nangis kenapa dia, Rif?" Tanya Kak Ridwan, alumni Rohis SMU Daya
    Guna.
    "Nggak tau kak, tadi dia nunjuk-nunjuk ke pohon gede yang udah rubuh.
    Kayaknya dia ngeliat jin kak."
    "Ah kamu asal."
    "Ia lho kak, kayaknya kali ini dia ngeliat jin lagi di laut sana.
    Abis dia dari tadi duduk aja di sini. Sendirian lagi." Balas Arif.
    "Haa, hantu." Pekik seorang peserta setelah berita menangisnya Ahsan
    sampai kepada para peserta yang sedang bermain.
    "Betulkan, udah ana bilang. Pantai ini angker." Suara Ardi.
    "Tapi antum mau ikut juga." Jawab yang lain.
    "Eh udah-udah. Insya Allah bukan karena hantu. Antum ini belum apa-
    apa udah berfikiran macem-macem lagi." Kak Hendra, alumni, menengahi.
    "Tapi sepertinya memang betul kak. Udahan yuk rihlahnya. Ana jadi
    pengen pulang cepet."
    "Ia lho, ana juga pengen cepet pulang."
    Akhirya rihlah pun berantakan. Bukannya semangat baru yang diraih,
    namun rihlah kali ini membawa kesan yang begitu mendalam. Apalagi
    bila malam tiba, kejadian ini akan hinggap di benak peserta rihlah
    yang memang penakut.

    ********

    "Antum semua kan udah tahu makna al-Ilah." Pidato kak Hendra di
    Mobil. "Kalo sama yang begituan aja antum semua takut, antum bisa
    dicabut syahadatnya. Antum nggak boleh takut sama sesuatu selain
    Allah."
    Sedangkan kak Ridwan berusaha mengorek keterangan dari Ahsan mengapa
    Ahsan menangis. Dan Ahsan hanya diam.
    "Nggak apa-apa kak." Jawab Ahsan.
    "Bilang aja Ahsan! Kalo antum sakit, atau ada apa-apa kami
    bertanggung jawab lho."
    "Udah lupain aja kak. Bukan apa-apa kok. Bener."
    Dan misteri menangisnya Ahsan belum terjawab.

    *******

    Ahsan memang pendiam. Setiap sholat sering menangis. Banyak yang
    kagum dengan anak baru itu. Namun yang membuat orang tak bersimpati
    dengan Ahsan adalah kecengengannya. Bahkan luka sedikit pun ia
    menangis.
    Siang itu anggota Rohis bermain sepak bola yang merupakan olah raga
    favorit anggota Rohis. Banyak yang masuk Rohis karena ingin ikut
    bermain bola bersama anak rohis yang memang rata-rata hobi bola.
    Masalah hantu pada saat rihlah pun terlupakan.
    Namun lagi-lagi anak Rohis dibuat gempar karena tangisan Ahsan.
    Masalahnya sangat sepele. Kaki Ahsan berdarah. Itu adalah hal biasa
    dalam permainan sepak bola. Namun mengapa Ahsan menangis lagi?
    "Wah mulai lagi deh antum." Kata Arif. "Lagian luka beginian kayaknya
    nggak sakit-sakit amat."
    "Udah ah Ahsan. Nangis melulu kayak anak kecil." Anak yang lain
    mencoba mendiamkan.
    "Ciluuk baaa. Nangningnung ningnangningnung." Kali ini Ardi mencoba
    menghibur."
    "Udah antum lanjutin maennya. Biarin aja ana di sini." Ahsan bersuara.
    "Jangan, nanti ngeliat jin lagi kayak waktu itu." Celetuk Ardi.
    "Ngaco kamu Di. Dasar pengecut." Suara anak lain.
    "Udah, ana nangis bukan karena luka ini." Ahsan menengahi.
    "Nah lhooo, ngeliat jin lagi yaa?" Lagi-lagi Ardi membuat gemas anak
    Rohis.
    "Terus kenapa?" Tanya yang lain kepada Ahsan.
    "Nggak apa-apa, kalian main aja terus."
    "Ya udah, antum kalo kenapa-kenapa panggil kami yaa."
    Dan permainan pun diteruskan.

    *******

    Setiap hari Jum'at, tepatnya seusai sholat Jum'at, diadakan pengajian
    rutin. Suasana di Mushola pun hidup pada saat diadakan pengajian.
    Karena malaikat berbaris ke atas langit menaungi kelompok pertemuan
    itu. Pengajian rutin itu terbagi atas beberapa kelompok. Dan setiap
    kelompok ada pembinanya, yaitu dari alumni Rohis SMU Daya Guna itu
    sendiri. Selesai acara, biasanya anggota Rohis pulang, atau bermain
    sepak bola. Namun kali ini ada acara yang menegangkan. Karena Ahsan
    akan menceritakan misteri menangisnya dia. Tadi, para alumni sempat
    menginterogasi Ahsan tentang menangisnya dia. Setelah sempat alot,
    akhirnya Ahsan mau menceritakannya dengan syarat pengakuannya juga
    didengarkan oleh anggota yang lain agar tidak ada lagi salah sangka.
    "Sebenarnya, ana agak berat menceritakan masalah ini. Namun ana
    pikir, mudah-mudahan ini dapat dijadikan pelajaran bagi antum semua."
    Ahsan memulai pengakuannya. "Waktu itu, tepatnya dua bulan setelah
    ana masuk SMU ini, diadakan razia oleh guru dan kepala sekolah. Saat
    tas ana diperiksa…," air mulai mengalir dari mata Ahsan, "ana
    teringat akan pemeriksaan Allah terhadap amal ana di akhirat kelak.
    Ana kebayang kalo selama ini, isi bekal ana yang akan diperiksa Allah
    amat kurang. Ana teringat itu, makanya, ana menangis." Semua orang
    yang mendengar mulai tersentuh cerita Ahsan. Dan beberapa di
    antaranya mulai menangis. "Terus, waktu mabid, saat angin kencang di
    sertai guntur, ana teringat AlQur'an surat Al-Mulk ayat 17, "Apakah
    kamu merasa aman terhadap Allah yang berada di langit bahwa Dia akan
    mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahuinya."
    dan surat ArRa'd ayat 12, "Dialah Tuhan yang memperlihatkan kilat
    kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan
    awan mendung." Begitulah hingga ana jadi menangis, karena hik… takut
    kepada Allah Dan bukannya ana bermaksud riya dengan menceritakan ini
    kepada antum semua.. hik. Tapi ana pengen antum juga ikut
    merenunginya." Kali ini semuanya menangis.

    Tak terpikirkan oleh mereka tentang ini semua. "Pada saat rihlah, ana
    sebenarnya tahu jalan, jadi nggak bakal kesasar. Cuma ana ingin
    merenungi keindahan Allah. Dan ana melihat sebuah dahan besar. Ana
    berfikir, bahwa pohon yang sangat besar itu taat kepada Allah,
    sedangkan kita akhi, huuuhuu… yang amat kecil, sering mendurhakai
    Allah. Lalu ana melihat ombak. Ana tersenyum melihat ombak yang
    bergulung bergandengan. Karena ana itu ibarat kokohnya persaudaraan
    Islam. Lalu akhii, huuhuu.. ana menangis melihat ombak yang pecah di
    tepi pantai terlihat seperti bersujud. Ana tersentuh, betapa ana
    sedikit sekali bersujud kepada Allah. Jauh dibandingkan sujudnya
    ombak itu kepada Allah. Huuuhuuu." Seisi Mushola semakin riuh. "Dan
    waktu ana luka, ana teringat bahwa setiap musibah itu karena
    kelalaian kita. Dan ana menyesal karena ana tidak pernah tahu dosa
    apa yang telah menyebabkan ana luka. Selama ini ana merasa seperti
    tidak memiliki dosa. Huuuhuuu. Begitu aja penjelasan dari ana.
    Huuhuu." Tak ada yang berbicara. Yang ada hanya suara isak tangis
    dari jiwa-jiwa yang tersentuh. Kini seisi mushola mulai menyadari
    ketinggian ruhiyah Ahsan, si anak baru. "Ya, itulah penjelasan dari
    Ahsan. Rupanya kita banyak yang salah menduga.Hik… Dan kita mendapat
    pelajaran, betapa banyak sekali kejadian sehari-hari yang patut kita
    renungi agar kita bertambah dekat kepada Allah." Jelas kak
    Hendra. "Jadii…, Ahsan bukan melihat jin?" Celetuk
    Ardi. "Huuuuuuuuuu." Keadaan di Mushola pun geger.

    *******

    TAMAT 16 Juli 2000 malam, diselingi gerhana bulan. Allahu Akbar.
    Untuk akhi, ukhti di mana pun antum berada, banyak kejadian yang
    dapat membuat kita menangis.


    Sumber: Muslimmuda


    Taman di Pelupuk Matanya

    Kutatap adik laki-lakiku Eri dengan kepiluan yang mengalir ke seluruh
    nadi darahku. Wajahnya semakin tirus, kurus tubuhnya menampakkan
    tulang yang tinggal berbalut kulit. Leukimia telah menggerogoti
    kegagahannya. Tapi bagiku dia masih tetap gagah. Masih tetap perkasa
    sekaligus lembut, setiap kuingat betapa SABAR ia mengajar baca tulis
    Al Quran pada sesama teman mahasiswanya, betapa SANTUN ia membimbing
    ibu-ibu pengusaha tempe ?plenyet? yang sama sekali buta bisnis untuk
    memahami lika-liku bisnis, betapa manis ia dengan SUKARELA dan IKHLAS
    MEMBANTU dan MENDAHULUKAN KEPENTINGAN KAWAN-KAWANNYA.

    Sudah 47 hari ia terbaring di rumah sakit, dengan darah yang selalu di muntahkan
    dari mulutnya. Dan hari ini, dua puluh mahasiswa teman-teman Eri ikut
    terpekur di sini. Semua keluarga berkumpul. Hanya keheningan,
    kepiluan yang terasa. Tapi Eri seperti tidak merasakan keperihan
    kami, ia tidak pernah mengeluh. Keharuan selalu menyeruak ke segenap
    pori-poriku setiap kali kuingat kata-katanya, ketika seorang teman
    memintanya untuk sabar menghadapi ujian Allah ini, ? Ah, INI BUKAN
    UJIAN. INI KENIKMATAN DARI ALLAH. Dengan begini, saya kan jadi bisa
    MEMPERSIAPKAN DIRI MENGHADAP-NYA.

    Demi Allah, Eri memang seperti layaknya pemuda-pemuda sekarang,
    kadang ? nakal ? dengan selorohan-selorohannya, kadang ia juga takut
    mati. Tapi Eri TIDAK PERNAH LUPA MEMBACA AL QUR'AN DAN
    MENGAJARKANNYA, Eri TIDAK PERNAH LUPA MENDAHULUKAN KEPENTINGAN ORANG
    LAIN, Eri TIDAK PERNAH LUPA MEMBANTU ORANG MISKIN.

    Mbak?Mbak Lina?itu, itu?Masya Allah?ada taman indah sekali, Mbak! Ayo
    cepat difoto?ayo?keburu hilaang?? Rengekan Eri mengejutkanku. Aku
    terhenyak. Telunjuk Eri mengarah pada botol infus. Tapi ia berbicara
    tentang sebuah taman yang indah, taman yang mana? ?Taman mana sih
    Er?, itu kan botol infus?? bujukku perlahan. ?Ah, Mbak Lina sih tidak
    percaya, ayo dong difoto?? ia terus merengek . Aku hanya terdiam.
    Seorang teman menyentuh bahuku lembut, mengisyaratkan untuk
    mengiyakan perkataan Eri, ?Kelihatannya sudah hampir ?waktunya? ,
    Lin.? Bisiknya sambil menunjuk jemari kaki Eri yang mulai mengerucut,
    wajahnya mengerut dan tirus. Tanda-tanda sakratul maut.

    Aku menggigit bibir kuat-kuat. Mataku memanas. Aku?aku tak kuat
    menahan tangis. Kugengam jemari Eri kuat-kuat. Ya Allah?aku ikhlas
    jika Engkau membawanya pergi sekarang?aku ikhlas! Bisikku diantara
    gemuruh tangis yang kucoba untuk menahannya. Tiba-tiba?Eri muntah
    darah. Banyak. Setelah itu tubuhnya berangsur kelihatan bercahaya,
    terlihat sangat sehat dan segar. Berulang kali aku mengucap
    istighfar, takbir dan tahlil.

    ?Mbak, aku merasa sehat. Aku pingin pergi?Ma?Mama?aku pingin pergi
    jauh. Mbak Lina minta ?sangu? doooong?? Eri merajuk lagi. Aku
    tergagap. Refleks meraba kantong bajuku dan menyodorkan uang pada
    Eri. Spontan saja, Eri dengan sigap menerima uluran tanganku, dan
    menyimpan uang itu di sakunya. Ia bahkan sempat mengucapkan
    terimakasih padaku, sebelum memejamkan mata dengan ketenangan yang
    menakjubkan. Hidungnya teratur menghirup dan menghembuskan udara. Aku
    terhenyak. Ia hendak pergi jauh. Ia meminta bekal. Astaghfirullah?
    kenapa aku membekalinya uang?

    Segera aku meraih Quran, kubacakan Yasin persis di sisi telinganya.
    Tuntas hingga ayat terakhir. Kudengar seruan takbir mendesis dari
    mulut Eri, persis ketika surat Yasin selesai kubacakan. Tubuh Eri
    dingin. Hidungnya tak lagi menghembus dan menghirup. Jantungnya
    berhenti berdegup.

    Inna lillahi wa inna ilaihi raji?uun, desis kami berbarengan. Tiba-
    tiba bau yang sangat harum menyergap hidungku. ? Ma, bau wangi
    nggak?? Mama menggeleng sambil menyusut air mata. ?Papa?? tanyaku
    lagi. Papa menggeleng. Kutatap Eri yang memucat, bibirnya tampak
    mengulas senyum. Taman yang indah yang telah diperlihatkan kepadamu
    itukah yang berbau begitu semerbak, Eri sayang?? Tanyaku dalam diam.

    Sumber: istiqomah.org - AUTHOR: Intan Savitri [In Memoriam Eri
    Prastowo] Pelangi Nurani


    Penjemputan

    Pernahkah Anda melihat seseorang menjelang sakratul maut? Berapakali
    Anda melihat mereka yang terbelalak ketakutan, yang kesakitan atau
    yang hanya seperti hendak tidur?

    Aku punya seorang teman dekat di SMU I Binjai bernama Wati. Ia dara
    berjilbab yang sangat cantik, supel, berbudi, senang menolong orang
    lain dan selalu menjadi juara kelas. Maka seperti mendengat petir di
    siang hari, saat kudengar ia yang sudah sekian lama tak masuk sekolah
    ternyata mengidap kanker rahim. Bahkan sudah menyebar hingga stadium
    empat!!

    Sekolah kami berduka. Para aktivis rohis amat sedih. Wati adalah
    motor segala kegiatan dakwah. Ide-idenya segar. Ia selalu punya
    terobosan baru. Ia bisa mendekati dan disukai siapapun. Sungguh, kami
    tak memiliki Wati yang lain.

    Maka betapa pedih menatapnya hari itu. Ia tergolek lemah di ranjang.
    Badannya menjadi amat kurus. Wajahnya pasi. Setelah sakit berbulan-
    bulan, hari ini ia tak mampu lagi mengenali kami!

    "Wati sudah sebulan ini tak bisa bangun-," kata ibunya sambil
    mengusap airmatanya.

    Namun kami berbelalak, saat baru saja ibunya selesai bicara, perlahan
    Wati berusaha untuk bangun. Kami semua tercengang saat ia berdiri dan
    berjalan melintasi kami seraya berkata dengan suara nyaris tak
    terdengar, "Aku mau berwudhu dan shalat Dhuha."

    Serentak kami semua berebutan membimbingnya ke kamar mandi. Setelah
    itu ibunya memakaikannya mukena dan sarung. Sementara ayahnya kembali
    membaringkannya di tempat tidur karena ia terlalu lemah untuk shalat
    sambil berdiri.

    Hening. Tak seorang pun yang bersuara saat ia melakukan sholat Dhuha.
    Selesai sholat, saat ibunya akan membukakan mukena, ia melarang
    dengan halus. Lalu lama sekali dipandanginya wajah ibu, ayah dan adik-
    adiknya satu persatu bergantian. Dari mulutnya terus menerus
    terdengar asma Allah. kami yang menyaksikan tak kuat lagi menahan
    tangis.

    Tiba-tiba Wati tersenyum. Ia memandang kami, teman-temannya, dengan
    penuh sayang. Lalu kembali memandang wajah ayah, ibu dan adik-adiknya
    bergantian. Kini kulihat butiran bening menetes dari sudut matanya.
    Lalu susah payah ia mengangkat kedua tangannya dan mendekapkannya di
    dada. Dengan tersenyum ia menutup kedua matanya sambil mengucapkan
    dua kalimat syahadat dengan sangat lancar.

    Innalillaahi wa inna ilaihi rooji'uun. Ia telah pergi untuk
    selamanya. Bagai melayang aku menyaksikan semua. Dadaku berdebar,
    lututku gemetar. Subhanallah, ia telah kembali dengan sangat sempurna
    dalam usia yang baru 18 tahun.

    Tiba-tiba, antara ilusi dan kenyataan, aku mencium wewangian. Tubuhku
    bergidik. Aku menangis terisak-isak.

    Allah, siapkah aku bila Engkau ingin bertemu??

    Sumber: Seperti dituturkan sahabat Wati kepada Elvy Tiana Rosa -
    disadur dari buku Lentera Kehidupuan: Cerita Luar Biasa dari Orang-
    orang Biasa)


    Izinkan Aku Menciummu, Ibu

    Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia
    selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan
    mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku `dipaksa'
    membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun.
    Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua
    pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya
    sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku
    merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali
    mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.

    Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua.
    Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari
    anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa
    kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang
    baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.

    Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang
    mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia
    menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di
    seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah,
    dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa
    jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku
    sampai bel berbunyi.

    Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain
    bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia
    sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah.
    Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan
    rumah tangga.

    Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan
    bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak
    serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja
    mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak
    menyangka aku sedang bersamanya.

    Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah
    memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi
    perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-
    bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku
    dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang
    dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku
    berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di
    kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.

    Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan
    tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar,
    cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh,
    tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian
    komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas
    permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.

    Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak
    berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas
    yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang
    berpendidikan, tapi do'a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya
    jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah
    menjadi aku yang sekarang.

    Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia
    tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia
    baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih
    indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung
    menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari,
    ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku
    terlahir ke dunia ini.

    Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah
    lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi
    istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku
    membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai
    anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak
    lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan
    menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku. (Bayu
    Gautama, Untuk Semua Ibu Di Seluruh Dunia)

    Sumber: Eramuslim - Publikasi 24/09/2002


    Friday, December 05, 2003

    Satu Menit ???

    Satu menit? Sepertinya tak bermakna, mungkin karena tak berasa. Lewat begitu
    saja. Hanya enam puluh ketukan, jika satu ketukan itu bernilai satu detik.
    Benar-benar tak terasa, hingga akhirnya tak dimaknai. Seringkali kumpulan
    menit itu kita perlakukan seperti air, mengalir begitu saja. Tanpa kita
    berikan arah, tanpa kita tetapkan tempat berakhir. Mengalir, mengalir dan
    mengalir...
    Seringkali himpunan menit itu kita perlakukan seperti gelas, kita isi dan
    nikmati tanpa kita sadari khasiat dari isi gelas itu sendiri. Yang penting
    lezat, segar dan mengusir rasa haus kita.
    Padahal satu menit, enam puluh ketukan itu bisa membawa kita kepada dua
    pilihan tempat berakhir. Keindahan atau kepedihan. Karena enam puluh ketukan
    itu ternyata bernilai, sangat bernilai dimata Sang Pemilik waktu, Sang Maha
    Penghenti waktu. Karena satu menit itu tak pernah luput dari penglihatan dan
    pengawasan Sang Maha Bijak, Sang Maha Pemberi ganjaran. Karena satu menit
    itu memiliki arti bagiNya, atas keputusan yang ditetapkan untuk kita.
    Dia akan menghargai satu menit yang dimiliki dalam hidup ini dengan berlipat
    penghargaan yang tak terbayangkan oleh kita. Karena Dia-lah sebaik-baiknya
    pemberi penghargaan bagi manusia yang tak pernah lelah mencari perhatianNya.

    Satu menit saja, tak lebih, dapat bermakna, jika kita mau. Satu menit saja,
    hanya satu menit, dapat bernilai, jika kita tahu. Karenanya satu menit itu
    tak layak kita buang.
    Dalam satu menit, kita bisa melakukan banyak kebaikan dan kebahagiaan. Dalam
    satu menit kita bisa mendendangkan al-Faatihah dengan penuh cinta sebanyak
    tiga kali. Hanya tiga kali memang, tapi menurut orang-orang bijak, dengan
    membaca al-Faatihah satu kali saja, Allah memberikan 600 kebaikan. Dalam
    satu menit, kita dapat membisikkan surat al Ikhlaas dua puluh kali, tak
    perlu bersuara, hanya berbisik. Allah menilai bisikan penuh makna itu sama
    seperti kita membaca sepertiga kitabNya.
    Dalam enam puluh ketukan itu, kita bisa membaca sedikit saja ayat-ayat dari
    kalimatNya yang dirangkai dalam Al Qur'an. Dalam satu menit itu, kita bisa
    mencoba menghafal ayat-ayatNya untuk senantiasa mengingatnya dan mengiri
    langkah-langkah kita.
    Dalam satu menit, kita bisa mengaturkan dzikir, Laa ilaaha illallaah wahdahu
    laa shariikalah,lahu'l-mulk wa lahu'l-hamd wa huwa 'ala kulli shay'in
    qodiir. Dalam satu menit kita bisa mengirimkan puji Subhaanallaahi wa bi
    hamdihi sebanyak seratus kali. Allah akan mengampuni dosa-dosa kita meski
    dosa itu sebanyak buih di lautan.
    Dalam satu menit kita bisa membalas cintaNya dengan mengucap Subhaan allaahi
    wa bi hamdihi Subhaanallaahil-'Aziim sebanyak lima puluh kali. Allah
    mencintai manusia yang mengucapkan dua kata ini dari bibirnya, demikian yang
    tertulis dalam hadits riwayat Bukhari Muslim. Rasul berkata, "Saat aku
    mengucapkan 'Subhaanallaah, wa'l-hamdu Lillah, wa laa ilaah ill-Allaah, wa
    Allaahu Akbar (Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, Tiada tuhan selain
    Allah, dan Allah Maha Besar), maka cintaNya berhamburan untukku (hadits
    riwayat Muslim). Dalam satu menit, kita dapat mengucapkan itu sebanyak
    delapan belas kali. Karena kata-kata ini senantiasa dicintaiNya, kata-kata
    terbaik penuh dengan makna.
    Dalam satu menit, kita bisa menyatakan Tidak ada kekuatan dan kekuasaan
    selain milikNya, Laa hawla wa laa quwwata illa Billaah. Kata-kata ini adalah
    satu dari kekayaan dari surga, seperti yang tercantum dalam hadits yang
    diriwayatkan Bukhari-Muslim. Kata kata ini membuat Allah mengangkat
    kesulitan yang ada dan membantu kita meraih yang kita inginkan.
    Dalam satu menit, kita bisa menegaskan kembali pernyataan kita terdahulu,
    sebelum kita lahir ke dunia ini, Laa ilaaha ill-Allaah sebanyak lima puluh
    kali. Ini adalah kata-kata terbesar milikNya. Karena dengan memaknai
    kata-kata ini dalam hati, sudah cukup bukti bahwa kita mengakui
    keberadaanNya.
    Dalam enam puluh ketukan kita bisa membaca Subhaanallaah wa bi hamdih,
    'adada khalqihi, wa ridaa nafsihi, wazinata 'arshihi, wa midaada kalimaatihi
    (Maha suci Allah, sebanyak apa yang diciptakanNya, sebanyak keridhoanNya,
    seberat Arasy-Nya dan sebanyak tinta kata-kataNya).

    Dalam satu menit, kita dapat memohon ampunanNya dengan membaca
    Astaghfir-Allaah sebanyak seratus kali. Dengan kesadaran sepenuhnya atas
    berjuta dosa yang kita lakukan. Dalam satu menit, kita dapat mengirim doa
    untuk junjungan kita Nabi besar Muhammad Saw, dengan mengucap Sallallaahu
    'alayhi wasallam (Semoga Allah memberkati dan memberinya kedamaian). Dengan
    doa itu Allah akan memberikan lima ratus kebaikan.
    Dalam satu menit, kita bisa memotivasi hati kita dengan menghaturkan terima
    kasih padaNya, MencntaiNya, hanya berharap padaNya, takut atasNya, dan tetap
    melanjutkan hidup hanya karenaNya. Ini bisa kita lakukan saat kita
    merebahkan tubuh kita untuk beristirahat atau mungkin saat kita berjalan
    menuju suatu tempat.
    Dalam satu menit, kita bisa membaca lebih dari dua halaman dari buku yang
    bermanfaat bagi kita, dan membuat kita lebih memaknai hidup. Dalam satu
    menit, kita bisa mencurahkan kerinduan, berbincang dengan teman lama yang
    terikat karena cinta Allah. Dalam satu menit kita bisa menengadahkan tangan
    dan memanjatkan doa atas apa yang kita harapkan bagi diri ini.
    Dalam satu menit kita bisa mengucapkan salam, mendoakan orang lain atas
    keselamatannya. Dalam satu menit kita bisa sedikit merenung, mengusir
    bisikan setan yang senantiasa tak pernah bosan mengganggu kita untuk
    berpaling dariNya.
    Dalam satu menit kita bisa menikmati sesuatu dengan penuh rasa syukur, bahwa
    kita masih punya waktu menikmatinya. Dalam satu menit kita bisa memberikan
    kata-kata berharga bagi saudara kita, sekedar saling mengingatkan
    ke-alfaannya, menunaikan haknya untuk selalu diingatkan. Dalam satu menit
    kita bisa membuang sesuatu yang berbahaya ditengah jalan.
    Hanya satu menit, dan semoga berarti bagiNya.

    Milis Groups 2003


    Wednesday, December 03, 2003

    Do'a ketika Gelisah Dalam Tidur

    "Angudzu bi kalimaati Allahi attaammaati min ghodobiji wa'iqoobihi wasyarri 'ibaadihi wa min hamazaati assyayaathiini wa an yahdhuruuni."

    Aku berlindung dengan kalimat Allah yang sempurna dari murka dan adzab-Nya dan dari kejelekan hamba-Nya serta bisikan syetan dan kedatangan mereka (HR. Daud)



    Sabar, sabar dan sabar ……………!!!
    Siapa yang tidak pernah mendengar kata ini?
    Berulang-ulang orang menyebutnya. Mudah diucapkan namun berat diamalkan.

    Perkataan dan perintah sabar sangat gampang ditemukan di dalam Al-Qur'an. Salah satu contohnya yang ada di dalam surat Al Ashr. Allah di surat ini memberikan pujian khusus bagi mereka yang mau memberikan nasehat kepada kesabaran. Ayat tersebut adalah:

    Demi masa. Sesungguhnya setiap manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, dan saling nasehat menasehati di dalam kebenaran dan kesabaran.

    Sebagian besar orang, memahami bahwa yang namanya sabar itu terkait dengan musibah yang menimpa. Sehingga kalau ada mereka yang mendapatkan saudaranya meninggal maka tetangganya pun menasehatinya dengan "sabar". Tak salah apa yang diucapkan. Namun ternyata, kesabaran tak hanya sebatas ketika ditimpa musibah saja. Ada kesabaran lain yang tak kalah pentingnya, yaitu:


    Sabar di dalam menjalankan ketaatan kepada Allah. Menjalankan ketaatan kepada Allah bukanlah hal yang ringan. Sangat banyak orang yang paham dengan kebaikan dan ketaatan namun tidak juga mau mengamalkan. Terlebih lagi, menjalankan ketaatan itu ada penghalangnya. Siapakah penghalangnya? Jawabannya, banyak penghalang kita menjalankan ketaatan. Yang pertama adalah jiwa manusia itu sendiri. Jiwa manusia terkadang memerintahkan anggota tubuhnya untuk malas berbuat ketaatan. Yang kedua adalah syetan. Syetan paling tidak suka dengan mereka yang menjalankan ketaatan. Ini persis dengan yang disemboyan nenek moyangnya, yaitu iblis semenjak diusir Allah dari surga. Ia dan anak cucunya berupaya untuk menghalangi manusia dari kebaikan dengan berbagai cara. Tak heranlah bagi para muslimah sangat berat untuk menjalankan ketaatan. Memakai jilbab misalnya. Sangat berat, karena memang syetan terus menarik dan mencegah agar muslimah tidak memakainya. Syetan ini ada macamnya juga. Bisa berasal dari manusia maupun dari bangsa jin. Syetan dari bangsa manusia ini berupaya dengan keras agar kebaikan tidak tersebar luas. Makanya mereka berupaya memadamkan cahaya Allah. Contoh gampangnya, orang yang mau menjalankan syariat Allah dengan benar mereka musuhi dan perangi. Jahat lagi, mereka menyebarkan berita palsu bahwa orang yang menjalankan syariat islam identik dengan teroris. Menghadapi musuh-musuh ketaatan yang betebaran ini butuh dengan kesabaran yang ekstra.

    Sabar dalam meninggalkan perbuatan kemaksiatan. Perbuatan kemaksiatan memang tampak bagus dan indah. Apalagi syetan menghiasi kemungkaran itu dengan hiasan yang luar biasa. Akibatnya? Manusia berbondong-bondong melakukan kemungkaran alias kemaksiatan. Hari ini membuktikan bahwa kemungkaran menjadi sesuatu yang dominan di muka bumi. Orang tak malu lagi berbuat kejelekan di sembarang tempat. Contoh realnya, betapa banyaknya saudara muslimah yang berpakaian minim ala barat. Menampilkan aurat kepada laki-laki yang bukan suaminya. Terus betapa maraknya perjudian di setiap tempat, di sudut kota dan jalanan. Tak ada rasa malu dan merasa bersalah. Kemaksiatan yang lain masih sangat banyak untuk diungkapkan. Lingkungan yang bertebaran dengan maksiat tadi terkadang mempengaruhi kepribadian seorang muslim atawa muslimah. Hingga akhirnya terbawa-bawa tanpa terasa. Maka, bersabar dalam meninggalkan kemaksiatan harus selalu bersanding pada setiap diri muslimah. Tentu, bukan berarti berdiam diri terhadap kemungkaran yang berkembang, namun turut andil dalam memberantasnya.

    Bagus Juga ...
    www.al-madina.s5.com


    Tuesday, December 02, 2003

    Siapa Yang Tidak RINDU 2

    Allah telah memberikan sifat-sifat terindah kepada bidadari-bidadari surga. Mereka diberi pakaian yang paling bagus dan siapapun yang membicarakan diri mereka pasti akan digelitik kerinduan kepada mereka, seakan-akan dia sudah melihat secara langsung bidadari-bidadari itu.

    Ath-Thabarany menuturkan, kami diberi tahu Bakr bin Sahl Ad-Dimyaty, kami diberitahu Amru bin Hisyam Al-Biruny, kami diberitahu Sulaiman bin Abu Karimah, dari Hisyam bin Hassan, dari Al-Hassan, dari ibunya, dari Ummu Salamah Radhiallahuanha, dia berkata, "Saya berkata,'Wahai Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang bermata jeli'."

    Beliau menjawab,"Bidadari yang kulitnya putih, matanya jeli dan lebar, rambutnya berkilau seperti sayap burung nasar."

    Saya berkata lagi,"Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku tentang firman Allah, 'Laksana mutiara yang tersimpan baik'."(Al-Waqi'ah:23)

    Beliau menjawab,"Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia."

    Saya berkata lagi,"Wahai Rasulullah, jelaskan kepadaku firman Allah, 'Di dalam surga-surga ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik'." (Ar-Rahman :70)

    Beliau menjawab,"Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita."

    Saya berkata lagi,"Jelaskan padaku firman Allah, "seakan-akan mereka adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan baik'." (Ash-Shafat:49)

    Beliau menjawab,"Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada di bagian dalam telur dan terlindung kulit bagian luar, atau yang biasa disebut putih telur."

    Saya berkata lagi, "Wahai Rasulullah, jelaskan padaku firman Allah, 'Penuh cinta lagi sebaya umurnya'." (Al-Waqi'ah :37)

    Beliau menjawab," Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal pada usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya."

    Saya bertanya, "Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli ?"

    Beliau menjawab,"Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari bermata jeli, seperti apa yang tampak daripada yang tidak tampak."

    Saya bertanya, "Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?"

    Beliau menjawab, "Karena shalat mereka, puasa mereka dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera, kulitnya kulit bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kunigan, sanggulnya mutiara dan sisinya terbuat dari emas. Mereka berkata, Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya'."

    Saya berkata, "Wahai Rasulullah, salah seorang wanita diantar kami pernah menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu dia meninggal dunia. Dia masuk surga dan mereka masuk surgapula. Siapakah diantara laki-laki itu yang menjadi suaminya di surga?"

    Beliau menjawab,"Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih siapa diantara mereka yang akhlaknya paling bagus, lalu dia berkata,'Wahai Rabbku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya tatkala hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya'. Wahai ummu Salamah, akhlka yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan akhirat."

    (disebutkan dalam catatan kaki buku Raudhatul Muhibbin (terbitan darul falah), halaman 201 :"Pengarang (Ibnul Qoyyim) menyebutkan hadits ini di dalam bukunya Hadil Arwah. Di sana dia memberi catatan : Sulaiman bin Abu Karamah menyendiri dalam riwayat ini. Abu Hatim menganggapnya dha'if. Menurut Ibnu Ady, mayoritas hadits-haditsnya adalah mungkar dan saya tidak melihat orang-orang dahulu membicarakannya. Kemudian dia menyebutkan hadits ini dari jalannya seraya berkata, "Hanya sanad inilah yang diketahui..")

    Allah mensifati wanita-wanita penghuni surga sebagai kawa'ib, jama' dari ka'ib yang artinya gadis-gadis remaja. Payudaranya sudah tumbuh sempurna, bentuknya bulat dan tidak menggelantung ke bawah. Yang seperti ini merupakan bentuk wanita yang paling indah dan pas untuk gadis-gadis remaja. Allah mensifati mereka sebagai bidadari-bidadari, karena kulit mereka yang indah dan putih bersih. Aisyah Radhiallahu anha pernah berkata, "warna puith adalah separoh keindahan." Bangsa Arab biasa menyanjung wanita dengan warna puith. Seorang penyair berkata,

    Kulitnya putih bersih gairahnya tiada diragukan
    laksana kijang Makkah yang tidak boleh dijadikan buruan
    dia menjadi perhatian karena perkataannya lembut
    Islam menghalanginya untuk mengucapkan perkataan jahat

    Al-'In jama' dari aina', artinya wanita yang matanya lebar, yang berwarna hitam sangat hitam, dan yang berwarna puith sangat putih, bulu matanya panjang dan hitam. Allah mensifati mereka sebagai bidadari-bidadari yang baik-baik lag cantik, yaitu wanita yang menghimpun semua pesona lahir dan batin. Ciptaan dan akhlaknya sempurna, akhlaknya baik dan wajahnya cantk menawan. Allah juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang suci. Firman-Nya,

    "Dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri yang suci." (Al-Baqarah:25)

    Artinya. mereka suci, tidak pernah haid, tidak buang air kecil dan besar serta tidak kentut. MEreka tidak diusik dengan urusan-urusan wanita yang menggangu seperti yang terjadi di dunia. Batin mereka juga suci, tidak cemburu, tidak menyakiti dan tidak jahat. Allah juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang dipingit di dalam rumah. Artinya mereka hanya berhias dan bersolek untuk suaminya. Bahkan mereka tidak pernah keluar dari rumah suaminya, tidak melayani kecuali suaminya. Allah juga mensifati mereka sebagai wanita-wanita yang tidak liar pandangannya. Sifat ini lebih sempurna lagi. Oleh karena itu bidadari yang seperti ini diperuntukkan bagi para penghuni dua surga yang tertinggi. Diantara wanita memang ada yang tidak mau memandang suaminya dengan pandangan yang liar, karena cinta dan keridhaanyya, dan dia juga tidak mau memamndang kepada laki-laki selain suaminya, sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah syair,

    Ku tak mau pandanganmu liar ke sekitar
    jika kau ingin cinta kita selalu mekar

    Di samping keadaan mereka yang dipingit di dalam rumah dan tidak liar pandangannnya, mereka juga merupakan wanita-wanita gaids, bergairah penuh cinta dan sebaya umurnya. Hal ini menunjukkan kenikmatan bercinta dan bersetubuh dengan perawan daripada bersetubuh dengan wanita janda.

    Aisyah Radhiallahu anha, pernah bertanya kepad Rasulullah Shallallau Alaihi wa Sallam, "Wahai rasulullah, andaikata engkau melewati rerumputan yang pernah dijadikan tempat menggembala dan rerumputan yang belum pernah dijadikan tempat menggambala, maka dimanakah engkau menempatkan onta gembalamu?"

    Beliau menjawab,"Di tempat yan belum dijadikan tempat gembalaan."(Ditakhrij Muslim)

    Dengan kata lain, beliau tidak pernah menikahi perawan selain dari Aisyah.

    Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepada Jabir yang menikahi seoran janda, "Mengapa tidak engkau nikahi wanita gadis agar engkau bisa mencandainya dan ia pun mencandaimu?" (Diriwayatkan Asy-Syaikhany)

    Jika ada yang berkata, "kenikmatan itu justru tidak begitu terasa nikmat saat mengadakan hubungan pertama kali bagi perawan, yang berbeda dengan wanita janda." Hal ini bisa dijawab sebagai berikut :

    Pertama, yang dimaksudkan kenikmatan bersetubuh dengan perawan ialah karena wanita perawan belum pernah merasakannya dengan lelaki lain sebelumnya, sehingga cintanya lebih tertanam di dalam hati dan dapat menjaga kelanggengan hubungan, Ini ditilik dari keadaan wanita. Jika ditilik dari keadaan suami, maka ia merasa mendapat kebun yang masih asli, tidak pernah dijamah orang lain sebelumnya. Allah telah mengisyaratkan pengertian ini di dalam firmanNya,

    "Mereka tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni surga yang menjadi suami mereka) dan tidak pula oleh jin." (Ar-Rahman:74)

    Setelah itu kenikmatan persetubuhan masih tetap terasa seperti keadaan yang masih perawan.

    Kedua, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat, bahwa setiap kali penghuni surga menyetubuhi seorang wanita dalam keadaan perawan, maka wanita itu kembali menjadi perawan seperti keadaan sebelumya. Jadi, setiap kali dia menyetubuhinya, maka wanita itu tetap dalam keadaan sebelumnya. Jadi, setiap kali dia menyetubuhinya, maka wanita itu tetap dalam keadaan perawan.

    Sifat bidadari penghuni surga yang lain adalah Al-'Urub, jama' dari al-arub, artinya mencerminkan rupa yang lemah lembut, sikap yang luwes, perlakuan yang baik terhadap suami dan penuh cinta. Ucapan, tingkah laku dan gerak-geriknya serba halus.

    Al-Bukhary berkata di dalam Shahihnya, "Al-'Urub, jama' dari tirbin. Jika dikatakan, Fulan tirbiyyun", artinya Fulan berumur sebagay dengan orang yang dimaksudkan. Jadi mereka itu sebaya umurnya, sama-sama masih muda, tidak terlalu muda dan tidak pula tua. Usia mereka adalah usia remaja. Allah menyerupakan mereka dengan mutiara yang terpendam, dengan telur yang terjaga, seperti Yaqut dan Marjan. Mutiara diambil kebeningan, kecemerlangan dan kehalusan sentuhannya. Putih telor yang tersembunyi, adalah sesuatu yang tidak pernah dipegang oleh tangan manusia, berwarna puith kekuning-kuningan. Berbeda dengan putih murni yang tidak ada warna kuning atau merehnya. Yaqut dan Marjan diambil keindahan warnanya dan kebeningannya.

    --------------------------
    [dinukil dari Raudhah Al-Muhibbin wa Nuzhah Al-Musytaqin (Taman Orang-orang Jatuh Cinta dan Memendam Rindu), karya Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, terbitan Darul Falah]