ENi6Ma

"Suatu waktu, mutiara di dalam genggaman, bergetar dan kemudian jatuh, pecah dan menjadi serpihan-serpihan kecil. Tapi dia adalah Mutiara, bagaimanapun dia tetap berkilau, dan sempurna sebagai intan permata. Bagaimanapun dia .. adalah mutiara harapanku."

This Real Me



Name : Jaka,-
Nicks : BLu3`Ais-
On Blog : Serpihan Mutiara
On IRC : #heartbeatstation
Age : 22
Work at : Internet Specs
Birthday : 4 March
Place : Jogja City
Mobile : +62817270xxx
ICQ : 122081318
YM ID : blue_indiego
fs : blueais@gmail.com

PreViOus

  • Detik-detik Sakaratul Maut Rasulullah SAW
  • Tanda-Tanda Saat-Saat Kematian
  • KISAH WAHYU TERAKHIR KEPADA RASULULLAH S.A.W.
  • Temukan Cinta Anda dalam Kerja
  • Semarakan Salam
  • Jilbab ... Bagaimana Berjilbab ???
  • Nabi pun Terasa Sepi tanpa Wanita
  • Siapa Yang Lagi Nyari Istri ??? [20 Petunjuk Memil...
  • Hukum Pacaran dalam Islam
  • Cinta dan Kasih Sayang


  • ArChieVe

  • November 2003
  • December 2003
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • August 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • October 2005

  • Links

    My Friendster BloG
    Situs Ku
    Berita Harian
    Koran Jogja
    Portal Jogja
    eMail Ku
    Cari Berita
    Koran Jateng
    Angkringan Ku
    Blog Aku
    Picture Perfect
    Pabrik Skin
    Hosting Ku

    Layout By "Yiling" Thanks Very Much

    Friends


    Said To Me

    Name :
    Web URL :
    Message :

    CreDits

    This page is powered by Blogger. Isn't yours?

    Powered by Blogbugs

    Komunitas Angkringan Jogjakarta

    Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com



    Site Meter

    Monday, December 22, 2003

    Air Mata Rasulullah SAW

    Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak
    mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah
    yang membalikkan badan dan menutup pintu.

    Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata
    dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?" "Tak tahulah ayahku,
    orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

    Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang
    menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

    "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut," kata Rasulullah,
    Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.

    Kemudian dipanggilah Jib! ril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

    "Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?" Tanya Rasululllah
    dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para
    malaikat telah menanti ruhmu".

    Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata Jibril.Tapi itu
    ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

    "Engkau tidak senang mendengar khabar ini?" Tanya Jibril lagi."Khabarkan
    kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir,wahai Rasul
    Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:

    'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada
    di dalamnya," kata Jibril.

    Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh
    Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh,
    urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."

    Perlahan Rasulull ah m! engaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di
    sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada
    Malaikat pengantar wahyu itu. "Siapakah yang sanggup, melihat kekasih
    Allah direnggut ajal," kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah
    mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.

    "Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini
    kepadaku, jangan pada umatku. "Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan
    dadanya sudah tidak bergerak lagi.

    Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera
    mendekatkan telinganya.

    "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku"
    "peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah diantaramu."

    Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.

    "Ummatii,ummatii,ummatiii?" - "Umatku, umatku, umatku"

    Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.


    NB:
    Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul
    kesadaran untuk mengingat maut dan mencintai Allah dan RasulNya, seperti
    Allah dan Rasulnya mencintai kita.