ENi6Ma

"Suatu waktu, mutiara di dalam genggaman, bergetar dan kemudian jatuh, pecah dan menjadi serpihan-serpihan kecil. Tapi dia adalah Mutiara, bagaimanapun dia tetap berkilau, dan sempurna sebagai intan permata. Bagaimanapun dia .. adalah mutiara harapanku."

This Real Me



Name : Jaka,-
Nicks : BLu3`Ais-
On Blog : Serpihan Mutiara
On IRC : #heartbeatstation
Age : 22
Work at : Internet Specs
Birthday : 4 March
Place : Jogja City
Mobile : +62817270xxx
ICQ : 122081318
YM ID : blue_indiego
fs : blueais@gmail.com

PreViOus

  • Satu Menit ???
  • Do'a ketika Gelisah Dalam Tidur
  • Sabarrrrrrrr .....
  • Siapa Yang Tidak RINDU 2
  • Siapa Yang Tidak RINDU 1
  • Kasih Orang Tua
  • Menulis di Atas Pasir
  • H Deddy Mizwar
  • Yang Datang dan Yang Pergi
  • Makna Hidup


  • ArChieVe

  • November 2003
  • December 2003
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • August 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • October 2005

  • Links

    My Friendster BloG
    Situs Ku
    Berita Harian
    Koran Jogja
    Portal Jogja
    eMail Ku
    Cari Berita
    Koran Jateng
    Angkringan Ku
    Blog Aku
    Picture Perfect
    Pabrik Skin
    Hosting Ku

    Layout By "Yiling" Thanks Very Much

    Friends


    Said To Me

    Name :
    Web URL :
    Message :

    CreDits

    This page is powered by Blogger. Isn't yours?

    Powered by Blogbugs

    Komunitas Angkringan Jogjakarta

    Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com



    Site Meter

    Sunday, December 14, 2003

    Izinkan Aku Menciummu, Ibu

    Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia
    selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan
    mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku `dipaksa'
    membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun.
    Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua
    pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya
    sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku
    merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali
    mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.

    Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua.
    Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari
    anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa
    kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang
    baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.

    Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang
    mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia
    menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di
    seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah,
    dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa
    jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku
    sampai bel berbunyi.

    Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain
    bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia
    sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah.
    Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan
    rumah tangga.

    Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan
    bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak
    serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja
    mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak
    menyangka aku sedang bersamanya.

    Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah
    memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi
    perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-
    bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku
    dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang
    dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku
    berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di
    kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.

    Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan
    tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar,
    cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh,
    tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian
    komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas
    permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.

    Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak
    berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas
    yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang
    berpendidikan, tapi do'a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya
    jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah
    menjadi aku yang sekarang.

    Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia
    tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia
    baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih
    indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung
    menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari,
    ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku
    terlahir ke dunia ini.

    Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah
    lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi
    istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku
    membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai
    anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak
    lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan
    menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku. (Bayu
    Gautama, Untuk Semua Ibu Di Seluruh Dunia)

    Sumber: Eramuslim - Publikasi 24/09/2002