ENi6Ma

"Suatu waktu, mutiara di dalam genggaman, bergetar dan kemudian jatuh, pecah dan menjadi serpihan-serpihan kecil. Tapi dia adalah Mutiara, bagaimanapun dia tetap berkilau, dan sempurna sebagai intan permata. Bagaimanapun dia .. adalah mutiara harapanku."

This Real Me



Name : Jaka,-
Nicks : BLu3`Ais-
On Blog : Serpihan Mutiara
On IRC : #heartbeatstation
Age : 22
Work at : Internet Specs
Birthday : 4 March
Place : Jogja City
Mobile : +62817270xxx
ICQ : 122081318
YM ID : blue_indiego
fs : blueais@gmail.com

PreViOus

  • Penjemputan
  • Izinkan Aku Menciummu, Ibu
  • Satu Menit ???
  • Do'a ketika Gelisah Dalam Tidur
  • Sabarrrrrrrr .....
  • Siapa Yang Tidak RINDU 2
  • Siapa Yang Tidak RINDU 1
  • Kasih Orang Tua
  • Menulis di Atas Pasir
  • H Deddy Mizwar


  • ArChieVe

  • November 2003
  • December 2003
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • August 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • October 2005

  • Links

    My Friendster BloG
    Situs Ku
    Berita Harian
    Koran Jogja
    Portal Jogja
    eMail Ku
    Cari Berita
    Koran Jateng
    Angkringan Ku
    Blog Aku
    Picture Perfect
    Pabrik Skin
    Hosting Ku

    Layout By "Yiling" Thanks Very Much

    Friends


    Said To Me

    Name :
    Web URL :
    Message :

    CreDits

    This page is powered by Blogger. Isn't yours?

    Powered by Blogbugs

    Komunitas Angkringan Jogjakarta

    Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com



    Site Meter

    Sunday, December 14, 2003

    Taman di Pelupuk Matanya

    Kutatap adik laki-lakiku Eri dengan kepiluan yang mengalir ke seluruh
    nadi darahku. Wajahnya semakin tirus, kurus tubuhnya menampakkan
    tulang yang tinggal berbalut kulit. Leukimia telah menggerogoti
    kegagahannya. Tapi bagiku dia masih tetap gagah. Masih tetap perkasa
    sekaligus lembut, setiap kuingat betapa SABAR ia mengajar baca tulis
    Al Quran pada sesama teman mahasiswanya, betapa SANTUN ia membimbing
    ibu-ibu pengusaha tempe ?plenyet? yang sama sekali buta bisnis untuk
    memahami lika-liku bisnis, betapa manis ia dengan SUKARELA dan IKHLAS
    MEMBANTU dan MENDAHULUKAN KEPENTINGAN KAWAN-KAWANNYA.

    Sudah 47 hari ia terbaring di rumah sakit, dengan darah yang selalu di muntahkan
    dari mulutnya. Dan hari ini, dua puluh mahasiswa teman-teman Eri ikut
    terpekur di sini. Semua keluarga berkumpul. Hanya keheningan,
    kepiluan yang terasa. Tapi Eri seperti tidak merasakan keperihan
    kami, ia tidak pernah mengeluh. Keharuan selalu menyeruak ke segenap
    pori-poriku setiap kali kuingat kata-katanya, ketika seorang teman
    memintanya untuk sabar menghadapi ujian Allah ini, ? Ah, INI BUKAN
    UJIAN. INI KENIKMATAN DARI ALLAH. Dengan begini, saya kan jadi bisa
    MEMPERSIAPKAN DIRI MENGHADAP-NYA.

    Demi Allah, Eri memang seperti layaknya pemuda-pemuda sekarang,
    kadang ? nakal ? dengan selorohan-selorohannya, kadang ia juga takut
    mati. Tapi Eri TIDAK PERNAH LUPA MEMBACA AL QUR'AN DAN
    MENGAJARKANNYA, Eri TIDAK PERNAH LUPA MENDAHULUKAN KEPENTINGAN ORANG
    LAIN, Eri TIDAK PERNAH LUPA MEMBANTU ORANG MISKIN.

    Mbak?Mbak Lina?itu, itu?Masya Allah?ada taman indah sekali, Mbak! Ayo
    cepat difoto?ayo?keburu hilaang?? Rengekan Eri mengejutkanku. Aku
    terhenyak. Telunjuk Eri mengarah pada botol infus. Tapi ia berbicara
    tentang sebuah taman yang indah, taman yang mana? ?Taman mana sih
    Er?, itu kan botol infus?? bujukku perlahan. ?Ah, Mbak Lina sih tidak
    percaya, ayo dong difoto?? ia terus merengek . Aku hanya terdiam.
    Seorang teman menyentuh bahuku lembut, mengisyaratkan untuk
    mengiyakan perkataan Eri, ?Kelihatannya sudah hampir ?waktunya? ,
    Lin.? Bisiknya sambil menunjuk jemari kaki Eri yang mulai mengerucut,
    wajahnya mengerut dan tirus. Tanda-tanda sakratul maut.

    Aku menggigit bibir kuat-kuat. Mataku memanas. Aku?aku tak kuat
    menahan tangis. Kugengam jemari Eri kuat-kuat. Ya Allah?aku ikhlas
    jika Engkau membawanya pergi sekarang?aku ikhlas! Bisikku diantara
    gemuruh tangis yang kucoba untuk menahannya. Tiba-tiba?Eri muntah
    darah. Banyak. Setelah itu tubuhnya berangsur kelihatan bercahaya,
    terlihat sangat sehat dan segar. Berulang kali aku mengucap
    istighfar, takbir dan tahlil.

    ?Mbak, aku merasa sehat. Aku pingin pergi?Ma?Mama?aku pingin pergi
    jauh. Mbak Lina minta ?sangu? doooong?? Eri merajuk lagi. Aku
    tergagap. Refleks meraba kantong bajuku dan menyodorkan uang pada
    Eri. Spontan saja, Eri dengan sigap menerima uluran tanganku, dan
    menyimpan uang itu di sakunya. Ia bahkan sempat mengucapkan
    terimakasih padaku, sebelum memejamkan mata dengan ketenangan yang
    menakjubkan. Hidungnya teratur menghirup dan menghembuskan udara. Aku
    terhenyak. Ia hendak pergi jauh. Ia meminta bekal. Astaghfirullah?
    kenapa aku membekalinya uang?

    Segera aku meraih Quran, kubacakan Yasin persis di sisi telinganya.
    Tuntas hingga ayat terakhir. Kudengar seruan takbir mendesis dari
    mulut Eri, persis ketika surat Yasin selesai kubacakan. Tubuh Eri
    dingin. Hidungnya tak lagi menghembus dan menghirup. Jantungnya
    berhenti berdegup.

    Inna lillahi wa inna ilaihi raji?uun, desis kami berbarengan. Tiba-
    tiba bau yang sangat harum menyergap hidungku. ? Ma, bau wangi
    nggak?? Mama menggeleng sambil menyusut air mata. ?Papa?? tanyaku
    lagi. Papa menggeleng. Kutatap Eri yang memucat, bibirnya tampak
    mengulas senyum. Taman yang indah yang telah diperlihatkan kepadamu
    itukah yang berbau begitu semerbak, Eri sayang?? Tanyaku dalam diam.

    Sumber: istiqomah.org - AUTHOR: Intan Savitri [In Memoriam Eri
    Prastowo] Pelangi Nurani