"Lha, kok gitu aja nangis…?" Anak Rohis SMU Daya Guna serempak
melongok ketika Ahsan yang bersandar di dinding dekat pintu Musholla
menangis.
"Memangnya kenapa, kok bisa nangis?"
"Apa karena dia tadi ngeliat petir?"
"Ah, masak cuma gara-gara petir aja bisa nangis?"
"Jarang ngeliat petir kali.."
Komentar dan pertanyaan berbaur dengan suara hujan di luar.
Malam ini, acara mabid yang sering dilaksanakan oleh Rohis SMU Daya
Guna sedikit terusik oleh sensasi Ahsan yang menangis ketika suara
guntur - yang terseling beberapa detik setelah tampak cahaya kilat
yang hebat - menggelegar mengisi angkasa kota Bandar Lampung.
Kak Ridwan mendekati Ahsan yang duduk bersila sambil menunduk,
mencucurkan air mata dalam tangisnya.
"Antum kenapa dek?" Tanya kak Ridwan sambil melingkarkan tangannya ke
pundak Ahsan.
"Nggak apa-apa kok, kak."
Ahsan menghapus air matanya dengan lengan bajunya.
"Terus kenapa antum nangis?"
Reaksi Ahsan hanya diam yang oleh kak Ridwan disangkanya masih malu
untuk menceritakan masalahnya sehingga kak Ridwan lalu beranjak
meninggalkan Ahsan dan memimpin acara selanjutnya.
Peserta mabid pun mengalihkan perhatiannya kepada Ahsan, siswa baru
di SMU Daya Guna.
Tepatnya ketika awal catur wulan 2, pindahan dari SMU di Padang itu
mulai resmi belajar di SMU Daya Guna. Sambutan kawan-kawannya cukup
ramah. Karena Ahsan orang yang luwes, mudah bergaul, suka membantu
kecuali dalam ujian, dan tampangnya pun lumayan.
Anak murah senyum yang di sekolahnya dulu sudah aktif di Rohis itu
pun langsung bergabung dengan Rohis SMU Daya Guna. Hal yang membuat
aktifis Rohis seperti mendapat bulan jatuh. Karena mulai saat itu,
Rohis memiliki ujung tombak dalam perekrutan anggota. Baru sebulan
Ahsan di sana, sudah lima orang yang direkrutnya untuk masuk Rohis.
Dakwah Fardiyah Ahsan memang `kenceng'.
Namun kesan baik itu pada akhirnya tercoreng. Bermula ketika ada
razia dadakan yang diadakan oleh para guru berhubung adanya isu
rencana tawuran antara ekskul pecinta alam dan basket.
Pagi itu para guru memasuki ruang kelas, termasuk kelas 2.2 yang
ditempati oleh Ahsan. Setelah semua murid keluar oleh perintah guru,
razia pun dilaksanakan dengan menggeledah setiap tas tak terkecuali.
Razia hanya berlangsung tak lebih 5 menit. Sebuah obeng didapat dari
anak yang terkenal nakal di kelas Ahsan. Hanya itu. Tak ada yang
disita dari tas Ahsan karena Ahsan tak membawa perabotan aneh ke
sekolah.
Namun anehnya, setelah seluruh siswa masuk ke kelas, Ahsan terisak
dibangkunya. Pelan memang, tapi tak dapat menyembunyikannya dari
perhatian teman-teman Ahsan.
Teman-temannya menyangka Ahsan shock akibat razia. Meski teman-
temannya sudah mencoba menghibur Ahsan, namun tangis Ahsan tak
kunjung reda. Begitulah hingga akhirnya tervonis dalam benak mereka
bahwa Ahsan itu anak yang cengeng.
Keheranan orang-orang terhadap Ahsan makin menjadi tatkala malam ini
Ahsan kembali menangis. Terlalu sepele apabila petir dan guntur itu
menjadi sebab menangisnya Ahsan.
*******
Sehabis ulangan umum cawu ke-2, Rohis SMU Daya Guna mengadakan rihlah
ke pantai. Tujuannya untuk memperbaharui keimanan dan meningkatkan
ruhiyah anggota, sekaligus mengikat anggota yang kurang aktif agar
tetap terjaga hubungannya dengan anggota yang aktif.
Para rohiser itu begitu menikmati keriangan suasana di pantai yang
menghebuskan angin perlahan yang menutupi mereka dari panas.
Sementara debur ombak yang tak terlalu besar menjadi bagian inti dari
keriangan mereka yang menceburkan diri ke laut - tentu saja dengan
pakaian yang syar'i. Pasir putih pun menjadi pijakan lembut rohiser
yang bermain sepakbola di pantai.
Namun di tengah acara, tersebar berita hilangnya Ahsan. Seketika para
peserta yang sedang bermain-main terhenti permainannya.
Atas komando ketua panitia, peserta dibagi beberapa kelompok untuk
mencari Ahsan yang hilang secara misterius.
Akhirnya Ahsan pun diketemukan sedang duduk di atas sebuah batang
pohon kelapa yang sudah tumbang seratus meter di sebelah timur tempat
rihlah di langsungkan. Dari atas batang pohon itu, Ahsan yang berada
di tengah-tengah semak tepi pantai tampak termenung memandang ombak
yang berlarian menuju ketepian.
"Masya Allah Ahsan, ke mana aja antum?" tanya Arif, ketua rohis.
Ahsan hanya tersenyum menyambut kedatangan mereka.
"Alhamdulillah Ahsan ketemu. Kirain udah diculik dedemit." Timpal
yang lain.
"Ngapain antum, kok bisa misah dengan kami."
"Antum nggak tahu tempat ini, jadi jangan misah-misah dong."
Berbagai komentar mengalir menyayangkan hilangnya Ahsan. Namun…
"Lho kok nangis, Ahsan." Arif mulai kebingungan. Kemudian kepada
peserta rihlah Arif memberi komando, "Antum semua bubar. Udah pada
maen lagi sana!" instruksi Arif. Semua peserta berduyun-duyun
meninggalkan Arif dengan hati menggerutu. Kalau tidak karena ada
kewajiban untuk mentaati Amir, tentu mereka tetap di situ. Dan kini
tinggallah Arif kelabakan menenangkan Ahsan.
"Udah, antum kan udah bersama kami lagi. Jadi jangan panik lagi. Udah
diem. Bersyukurlah sama Allah."
Ahsan tetap saja meneruskan tangisnya.
"Udah dong akhi." Arif terus membujuk.
Anehnya Ahsan malah menunjuk ke dahan besar yang didudukinya.
"Kenapa, ada apa dengan pohon ini?" dahi Afir berkerut. "Ooo, ya
Allah. Antum ngeliat hantu ya tadi?" Lanjut Arif.
Ahsan hanya meneruskan tangisnya. Sementara itu Arif mulai
merinding. "Itu cuma ilusi antum aja. Bener kok…" Ahsan mencoba
melawan rasa takutnya.
"Eh ya udah, Ahsan, kita pergi aja dari sini. Yuk!"
Tak lama Ahsan pun mulai beranjak, dan tangisnya berhenti.
Namun itu tak lama. Setelah ia duduk di pinggir pantai dan tersenyum
melihat ombak, ia pun tiba-tiba menangis lagi.
"Ya Allah Ahsaaan, kok nangis lagi sih?" Arif pun kembali
kebingungan.
"Nangis kenapa dia, Rif?" Tanya Kak Ridwan, alumni Rohis SMU Daya
Guna.
"Nggak tau kak, tadi dia nunjuk-nunjuk ke pohon gede yang udah rubuh.
Kayaknya dia ngeliat jin kak."
"Ah kamu asal."
"Ia lho kak, kayaknya kali ini dia ngeliat jin lagi di laut sana.
Abis dia dari tadi duduk aja di sini. Sendirian lagi." Balas Arif.
"Haa, hantu." Pekik seorang peserta setelah berita menangisnya Ahsan
sampai kepada para peserta yang sedang bermain.
"Betulkan, udah ana bilang. Pantai ini angker." Suara Ardi.
"Tapi antum mau ikut juga." Jawab yang lain.
"Eh udah-udah. Insya Allah bukan karena hantu. Antum ini belum apa-
apa udah berfikiran macem-macem lagi." Kak Hendra, alumni, menengahi.
"Tapi sepertinya memang betul kak. Udahan yuk rihlahnya. Ana jadi
pengen pulang cepet."
"Ia lho, ana juga pengen cepet pulang."
Akhirya rihlah pun berantakan. Bukannya semangat baru yang diraih,
namun rihlah kali ini membawa kesan yang begitu mendalam. Apalagi
bila malam tiba, kejadian ini akan hinggap di benak peserta rihlah
yang memang penakut.
********
"Antum semua kan udah tahu makna al-Ilah." Pidato kak Hendra di
Mobil. "Kalo sama yang begituan aja antum semua takut, antum bisa
dicabut syahadatnya. Antum nggak boleh takut sama sesuatu selain
Allah."
Sedangkan kak Ridwan berusaha mengorek keterangan dari Ahsan mengapa
Ahsan menangis. Dan Ahsan hanya diam.
"Nggak apa-apa kak." Jawab Ahsan.
"Bilang aja Ahsan! Kalo antum sakit, atau ada apa-apa kami
bertanggung jawab lho."
"Udah lupain aja kak. Bukan apa-apa kok. Bener."
Dan misteri menangisnya Ahsan belum terjawab.
*******
Ahsan memang pendiam. Setiap sholat sering menangis. Banyak yang
kagum dengan anak baru itu. Namun yang membuat orang tak bersimpati
dengan Ahsan adalah kecengengannya. Bahkan luka sedikit pun ia
menangis.
Siang itu anggota Rohis bermain sepak bola yang merupakan olah raga
favorit anggota Rohis. Banyak yang masuk Rohis karena ingin ikut
bermain bola bersama anak rohis yang memang rata-rata hobi bola.
Masalah hantu pada saat rihlah pun terlupakan.
Namun lagi-lagi anak Rohis dibuat gempar karena tangisan Ahsan.
Masalahnya sangat sepele. Kaki Ahsan berdarah. Itu adalah hal biasa
dalam permainan sepak bola. Namun mengapa Ahsan menangis lagi?
"Wah mulai lagi deh antum." Kata Arif. "Lagian luka beginian kayaknya
nggak sakit-sakit amat."
"Udah ah Ahsan. Nangis melulu kayak anak kecil." Anak yang lain
mencoba mendiamkan.
"Ciluuk baaa. Nangningnung ningnangningnung." Kali ini Ardi mencoba
menghibur."
"Udah antum lanjutin maennya. Biarin aja ana di sini." Ahsan bersuara.
"Jangan, nanti ngeliat jin lagi kayak waktu itu." Celetuk Ardi.
"Ngaco kamu Di. Dasar pengecut." Suara anak lain.
"Udah, ana nangis bukan karena luka ini." Ahsan menengahi.
"Nah lhooo, ngeliat jin lagi yaa?" Lagi-lagi Ardi membuat gemas anak
Rohis.
"Terus kenapa?" Tanya yang lain kepada Ahsan.
"Nggak apa-apa, kalian main aja terus."
"Ya udah, antum kalo kenapa-kenapa panggil kami yaa."
Dan permainan pun diteruskan.
*******
Setiap hari Jum'at, tepatnya seusai sholat Jum'at, diadakan pengajian
rutin. Suasana di Mushola pun hidup pada saat diadakan pengajian.
Karena malaikat berbaris ke atas langit menaungi kelompok pertemuan
itu. Pengajian rutin itu terbagi atas beberapa kelompok. Dan setiap
kelompok ada pembinanya, yaitu dari alumni Rohis SMU Daya Guna itu
sendiri. Selesai acara, biasanya anggota Rohis pulang, atau bermain
sepak bola. Namun kali ini ada acara yang menegangkan. Karena Ahsan
akan menceritakan misteri menangisnya dia. Tadi, para alumni sempat
menginterogasi Ahsan tentang menangisnya dia. Setelah sempat alot,
akhirnya Ahsan mau menceritakannya dengan syarat pengakuannya juga
didengarkan oleh anggota yang lain agar tidak ada lagi salah sangka.
"Sebenarnya, ana agak berat menceritakan masalah ini. Namun ana
pikir, mudah-mudahan ini dapat dijadikan pelajaran bagi antum semua."
Ahsan memulai pengakuannya. "Waktu itu, tepatnya dua bulan setelah
ana masuk SMU ini, diadakan razia oleh guru dan kepala sekolah. Saat
tas ana diperiksa…," air mulai mengalir dari mata Ahsan, "ana
teringat akan pemeriksaan Allah terhadap amal ana di akhirat kelak.
Ana kebayang kalo selama ini, isi bekal ana yang akan diperiksa Allah
amat kurang. Ana teringat itu, makanya, ana menangis." Semua orang
yang mendengar mulai tersentuh cerita Ahsan. Dan beberapa di
antaranya mulai menangis. "Terus, waktu mabid, saat angin kencang di
sertai guntur, ana teringat AlQur'an surat Al-Mulk ayat 17, "Apakah
kamu merasa aman terhadap Allah yang berada di langit bahwa Dia akan
mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahuinya."
dan surat ArRa'd ayat 12, "Dialah Tuhan yang memperlihatkan kilat
kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan
awan mendung." Begitulah hingga ana jadi menangis, karena hik… takut
kepada Allah Dan bukannya ana bermaksud riya dengan menceritakan ini
kepada antum semua.. hik. Tapi ana pengen antum juga ikut
merenunginya." Kali ini semuanya menangis.
Tak terpikirkan oleh mereka tentang ini semua. "Pada saat rihlah, ana
sebenarnya tahu jalan, jadi nggak bakal kesasar. Cuma ana ingin
merenungi keindahan Allah. Dan ana melihat sebuah dahan besar. Ana
berfikir, bahwa pohon yang sangat besar itu taat kepada Allah,
sedangkan kita akhi, huuuhuu… yang amat kecil, sering mendurhakai
Allah. Lalu ana melihat ombak. Ana tersenyum melihat ombak yang
bergulung bergandengan. Karena ana itu ibarat kokohnya persaudaraan
Islam. Lalu akhii, huuhuu.. ana menangis melihat ombak yang pecah di
tepi pantai terlihat seperti bersujud. Ana tersentuh, betapa ana
sedikit sekali bersujud kepada Allah. Jauh dibandingkan sujudnya
ombak itu kepada Allah. Huuuhuuu." Seisi Mushola semakin riuh. "Dan
waktu ana luka, ana teringat bahwa setiap musibah itu karena
kelalaian kita. Dan ana menyesal karena ana tidak pernah tahu dosa
apa yang telah menyebabkan ana luka. Selama ini ana merasa seperti
tidak memiliki dosa. Huuuhuuu. Begitu aja penjelasan dari ana.
Huuhuu." Tak ada yang berbicara. Yang ada hanya suara isak tangis
dari jiwa-jiwa yang tersentuh. Kini seisi mushola mulai menyadari
ketinggian ruhiyah Ahsan, si anak baru. "Ya, itulah penjelasan dari
Ahsan. Rupanya kita banyak yang salah menduga.Hik… Dan kita mendapat
pelajaran, betapa banyak sekali kejadian sehari-hari yang patut kita
renungi agar kita bertambah dekat kepada Allah." Jelas kak
Hendra. "Jadii…, Ahsan bukan melihat jin?" Celetuk
Ardi. "Huuuuuuuuuu." Keadaan di Mushola pun geger.
*******
TAMAT 16 Juli 2000 malam, diselingi gerhana bulan. Allahu Akbar.
Untuk akhi, ukhti di mana pun antum berada, banyak kejadian yang
dapat membuat kita menangis.
Sumber: Muslimmuda