ENi6Ma

"Suatu waktu, mutiara di dalam genggaman, bergetar dan kemudian jatuh, pecah dan menjadi serpihan-serpihan kecil. Tapi dia adalah Mutiara, bagaimanapun dia tetap berkilau, dan sempurna sebagai intan permata. Bagaimanapun dia .. adalah mutiara harapanku."

This Real Me



Name : Jaka,-
Nicks : BLu3`Ais-
On Blog : Serpihan Mutiara
On IRC : #heartbeatstation
Age : 22
Work at : Internet Specs
Birthday : 4 March
Place : Jogja City
Mobile : +62817270xxx
ICQ : 122081318
YM ID : blue_indiego
fs : blueais@gmail.com

PreViOus

  • Taman di Pelupuk Matanya
  • Penjemputan
  • Izinkan Aku Menciummu, Ibu
  • Satu Menit ???
  • Do'a ketika Gelisah Dalam Tidur
  • Sabarrrrrrrr .....
  • Siapa Yang Tidak RINDU 2
  • Siapa Yang Tidak RINDU 1
  • Kasih Orang Tua
  • Menulis di Atas Pasir


  • ArChieVe

  • November 2003
  • December 2003
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • August 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • October 2005

  • Links

    My Friendster BloG
    Situs Ku
    Berita Harian
    Koran Jogja
    Portal Jogja
    eMail Ku
    Cari Berita
    Koran Jateng
    Angkringan Ku
    Blog Aku
    Picture Perfect
    Pabrik Skin
    Hosting Ku

    Layout By "Yiling" Thanks Very Much

    Friends


    Said To Me

    Name :
    Web URL :
    Message :

    CreDits

    This page is powered by Blogger. Isn't yours?

    Powered by Blogbugs

    Komunitas Angkringan Jogjakarta

    Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com



    Site Meter

    Sunday, December 14, 2003

    Tangis Misterius Ahsan

    "Lha, kok gitu aja nangis…?" Anak Rohis SMU Daya Guna serempak
    melongok ketika Ahsan yang bersandar di dinding dekat pintu Musholla
    menangis.
    "Memangnya kenapa, kok bisa nangis?"
    "Apa karena dia tadi ngeliat petir?"
    "Ah, masak cuma gara-gara petir aja bisa nangis?"
    "Jarang ngeliat petir kali.."
    Komentar dan pertanyaan berbaur dengan suara hujan di luar.
    Malam ini, acara mabid yang sering dilaksanakan oleh Rohis SMU Daya
    Guna sedikit terusik oleh sensasi Ahsan yang menangis ketika suara
    guntur - yang terseling beberapa detik setelah tampak cahaya kilat
    yang hebat - menggelegar mengisi angkasa kota Bandar Lampung.
    Kak Ridwan mendekati Ahsan yang duduk bersila sambil menunduk,
    mencucurkan air mata dalam tangisnya.
    "Antum kenapa dek?" Tanya kak Ridwan sambil melingkarkan tangannya ke
    pundak Ahsan.
    "Nggak apa-apa kok, kak."
    Ahsan menghapus air matanya dengan lengan bajunya.
    "Terus kenapa antum nangis?"
    Reaksi Ahsan hanya diam yang oleh kak Ridwan disangkanya masih malu
    untuk menceritakan masalahnya sehingga kak Ridwan lalu beranjak
    meninggalkan Ahsan dan memimpin acara selanjutnya.
    Peserta mabid pun mengalihkan perhatiannya kepada Ahsan, siswa baru
    di SMU Daya Guna.

    Tepatnya ketika awal catur wulan 2, pindahan dari SMU di Padang itu
    mulai resmi belajar di SMU Daya Guna. Sambutan kawan-kawannya cukup
    ramah. Karena Ahsan orang yang luwes, mudah bergaul, suka membantu
    kecuali dalam ujian, dan tampangnya pun lumayan.
    Anak murah senyum yang di sekolahnya dulu sudah aktif di Rohis itu
    pun langsung bergabung dengan Rohis SMU Daya Guna. Hal yang membuat
    aktifis Rohis seperti mendapat bulan jatuh. Karena mulai saat itu,
    Rohis memiliki ujung tombak dalam perekrutan anggota. Baru sebulan
    Ahsan di sana, sudah lima orang yang direkrutnya untuk masuk Rohis.
    Dakwah Fardiyah Ahsan memang `kenceng'.

    Namun kesan baik itu pada akhirnya tercoreng. Bermula ketika ada
    razia dadakan yang diadakan oleh para guru berhubung adanya isu
    rencana tawuran antara ekskul pecinta alam dan basket.
    Pagi itu para guru memasuki ruang kelas, termasuk kelas 2.2 yang
    ditempati oleh Ahsan. Setelah semua murid keluar oleh perintah guru,
    razia pun dilaksanakan dengan menggeledah setiap tas tak terkecuali.
    Razia hanya berlangsung tak lebih 5 menit. Sebuah obeng didapat dari
    anak yang terkenal nakal di kelas Ahsan. Hanya itu. Tak ada yang
    disita dari tas Ahsan karena Ahsan tak membawa perabotan aneh ke
    sekolah.

    Namun anehnya, setelah seluruh siswa masuk ke kelas, Ahsan terisak
    dibangkunya. Pelan memang, tapi tak dapat menyembunyikannya dari
    perhatian teman-teman Ahsan.
    Teman-temannya menyangka Ahsan shock akibat razia. Meski teman-
    temannya sudah mencoba menghibur Ahsan, namun tangis Ahsan tak
    kunjung reda. Begitulah hingga akhirnya tervonis dalam benak mereka
    bahwa Ahsan itu anak yang cengeng.
    Keheranan orang-orang terhadap Ahsan makin menjadi tatkala malam ini
    Ahsan kembali menangis. Terlalu sepele apabila petir dan guntur itu
    menjadi sebab menangisnya Ahsan.

    *******

    Sehabis ulangan umum cawu ke-2, Rohis SMU Daya Guna mengadakan rihlah
    ke pantai. Tujuannya untuk memperbaharui keimanan dan meningkatkan
    ruhiyah anggota, sekaligus mengikat anggota yang kurang aktif agar
    tetap terjaga hubungannya dengan anggota yang aktif.
    Para rohiser itu begitu menikmati keriangan suasana di pantai yang
    menghebuskan angin perlahan yang menutupi mereka dari panas.
    Sementara debur ombak yang tak terlalu besar menjadi bagian inti dari
    keriangan mereka yang menceburkan diri ke laut - tentu saja dengan
    pakaian yang syar'i. Pasir putih pun menjadi pijakan lembut rohiser
    yang bermain sepakbola di pantai.

    Namun di tengah acara, tersebar berita hilangnya Ahsan. Seketika para
    peserta yang sedang bermain-main terhenti permainannya.
    Atas komando ketua panitia, peserta dibagi beberapa kelompok untuk
    mencari Ahsan yang hilang secara misterius.
    Akhirnya Ahsan pun diketemukan sedang duduk di atas sebuah batang
    pohon kelapa yang sudah tumbang seratus meter di sebelah timur tempat
    rihlah di langsungkan. Dari atas batang pohon itu, Ahsan yang berada
    di tengah-tengah semak tepi pantai tampak termenung memandang ombak
    yang berlarian menuju ketepian.

    "Masya Allah Ahsan, ke mana aja antum?" tanya Arif, ketua rohis.
    Ahsan hanya tersenyum menyambut kedatangan mereka.
    "Alhamdulillah Ahsan ketemu. Kirain udah diculik dedemit." Timpal
    yang lain.
    "Ngapain antum, kok bisa misah dengan kami."
    "Antum nggak tahu tempat ini, jadi jangan misah-misah dong."
    Berbagai komentar mengalir menyayangkan hilangnya Ahsan. Namun…
    "Lho kok nangis, Ahsan." Arif mulai kebingungan. Kemudian kepada
    peserta rihlah Arif memberi komando, "Antum semua bubar. Udah pada
    maen lagi sana!" instruksi Arif. Semua peserta berduyun-duyun
    meninggalkan Arif dengan hati menggerutu. Kalau tidak karena ada
    kewajiban untuk mentaati Amir, tentu mereka tetap di situ. Dan kini
    tinggallah Arif kelabakan menenangkan Ahsan.
    "Udah, antum kan udah bersama kami lagi. Jadi jangan panik lagi. Udah
    diem. Bersyukurlah sama Allah."
    Ahsan tetap saja meneruskan tangisnya.
    "Udah dong akhi." Arif terus membujuk.
    Anehnya Ahsan malah menunjuk ke dahan besar yang didudukinya.
    "Kenapa, ada apa dengan pohon ini?" dahi Afir berkerut. "Ooo, ya
    Allah. Antum ngeliat hantu ya tadi?" Lanjut Arif.
    Ahsan hanya meneruskan tangisnya. Sementara itu Arif mulai
    merinding. "Itu cuma ilusi antum aja. Bener kok…" Ahsan mencoba
    melawan rasa takutnya.
    "Eh ya udah, Ahsan, kita pergi aja dari sini. Yuk!"
    Tak lama Ahsan pun mulai beranjak, dan tangisnya berhenti.
    Namun itu tak lama. Setelah ia duduk di pinggir pantai dan tersenyum
    melihat ombak, ia pun tiba-tiba menangis lagi.
    "Ya Allah Ahsaaan, kok nangis lagi sih?" Arif pun kembali
    kebingungan.
    "Nangis kenapa dia, Rif?" Tanya Kak Ridwan, alumni Rohis SMU Daya
    Guna.
    "Nggak tau kak, tadi dia nunjuk-nunjuk ke pohon gede yang udah rubuh.
    Kayaknya dia ngeliat jin kak."
    "Ah kamu asal."
    "Ia lho kak, kayaknya kali ini dia ngeliat jin lagi di laut sana.
    Abis dia dari tadi duduk aja di sini. Sendirian lagi." Balas Arif.
    "Haa, hantu." Pekik seorang peserta setelah berita menangisnya Ahsan
    sampai kepada para peserta yang sedang bermain.
    "Betulkan, udah ana bilang. Pantai ini angker." Suara Ardi.
    "Tapi antum mau ikut juga." Jawab yang lain.
    "Eh udah-udah. Insya Allah bukan karena hantu. Antum ini belum apa-
    apa udah berfikiran macem-macem lagi." Kak Hendra, alumni, menengahi.
    "Tapi sepertinya memang betul kak. Udahan yuk rihlahnya. Ana jadi
    pengen pulang cepet."
    "Ia lho, ana juga pengen cepet pulang."
    Akhirya rihlah pun berantakan. Bukannya semangat baru yang diraih,
    namun rihlah kali ini membawa kesan yang begitu mendalam. Apalagi
    bila malam tiba, kejadian ini akan hinggap di benak peserta rihlah
    yang memang penakut.

    ********

    "Antum semua kan udah tahu makna al-Ilah." Pidato kak Hendra di
    Mobil. "Kalo sama yang begituan aja antum semua takut, antum bisa
    dicabut syahadatnya. Antum nggak boleh takut sama sesuatu selain
    Allah."
    Sedangkan kak Ridwan berusaha mengorek keterangan dari Ahsan mengapa
    Ahsan menangis. Dan Ahsan hanya diam.
    "Nggak apa-apa kak." Jawab Ahsan.
    "Bilang aja Ahsan! Kalo antum sakit, atau ada apa-apa kami
    bertanggung jawab lho."
    "Udah lupain aja kak. Bukan apa-apa kok. Bener."
    Dan misteri menangisnya Ahsan belum terjawab.

    *******

    Ahsan memang pendiam. Setiap sholat sering menangis. Banyak yang
    kagum dengan anak baru itu. Namun yang membuat orang tak bersimpati
    dengan Ahsan adalah kecengengannya. Bahkan luka sedikit pun ia
    menangis.
    Siang itu anggota Rohis bermain sepak bola yang merupakan olah raga
    favorit anggota Rohis. Banyak yang masuk Rohis karena ingin ikut
    bermain bola bersama anak rohis yang memang rata-rata hobi bola.
    Masalah hantu pada saat rihlah pun terlupakan.
    Namun lagi-lagi anak Rohis dibuat gempar karena tangisan Ahsan.
    Masalahnya sangat sepele. Kaki Ahsan berdarah. Itu adalah hal biasa
    dalam permainan sepak bola. Namun mengapa Ahsan menangis lagi?
    "Wah mulai lagi deh antum." Kata Arif. "Lagian luka beginian kayaknya
    nggak sakit-sakit amat."
    "Udah ah Ahsan. Nangis melulu kayak anak kecil." Anak yang lain
    mencoba mendiamkan.
    "Ciluuk baaa. Nangningnung ningnangningnung." Kali ini Ardi mencoba
    menghibur."
    "Udah antum lanjutin maennya. Biarin aja ana di sini." Ahsan bersuara.
    "Jangan, nanti ngeliat jin lagi kayak waktu itu." Celetuk Ardi.
    "Ngaco kamu Di. Dasar pengecut." Suara anak lain.
    "Udah, ana nangis bukan karena luka ini." Ahsan menengahi.
    "Nah lhooo, ngeliat jin lagi yaa?" Lagi-lagi Ardi membuat gemas anak
    Rohis.
    "Terus kenapa?" Tanya yang lain kepada Ahsan.
    "Nggak apa-apa, kalian main aja terus."
    "Ya udah, antum kalo kenapa-kenapa panggil kami yaa."
    Dan permainan pun diteruskan.

    *******

    Setiap hari Jum'at, tepatnya seusai sholat Jum'at, diadakan pengajian
    rutin. Suasana di Mushola pun hidup pada saat diadakan pengajian.
    Karena malaikat berbaris ke atas langit menaungi kelompok pertemuan
    itu. Pengajian rutin itu terbagi atas beberapa kelompok. Dan setiap
    kelompok ada pembinanya, yaitu dari alumni Rohis SMU Daya Guna itu
    sendiri. Selesai acara, biasanya anggota Rohis pulang, atau bermain
    sepak bola. Namun kali ini ada acara yang menegangkan. Karena Ahsan
    akan menceritakan misteri menangisnya dia. Tadi, para alumni sempat
    menginterogasi Ahsan tentang menangisnya dia. Setelah sempat alot,
    akhirnya Ahsan mau menceritakannya dengan syarat pengakuannya juga
    didengarkan oleh anggota yang lain agar tidak ada lagi salah sangka.
    "Sebenarnya, ana agak berat menceritakan masalah ini. Namun ana
    pikir, mudah-mudahan ini dapat dijadikan pelajaran bagi antum semua."
    Ahsan memulai pengakuannya. "Waktu itu, tepatnya dua bulan setelah
    ana masuk SMU ini, diadakan razia oleh guru dan kepala sekolah. Saat
    tas ana diperiksa…," air mulai mengalir dari mata Ahsan, "ana
    teringat akan pemeriksaan Allah terhadap amal ana di akhirat kelak.
    Ana kebayang kalo selama ini, isi bekal ana yang akan diperiksa Allah
    amat kurang. Ana teringat itu, makanya, ana menangis." Semua orang
    yang mendengar mulai tersentuh cerita Ahsan. Dan beberapa di
    antaranya mulai menangis. "Terus, waktu mabid, saat angin kencang di
    sertai guntur, ana teringat AlQur'an surat Al-Mulk ayat 17, "Apakah
    kamu merasa aman terhadap Allah yang berada di langit bahwa Dia akan
    mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahuinya."
    dan surat ArRa'd ayat 12, "Dialah Tuhan yang memperlihatkan kilat
    kepadamu untuk menimbulkan ketakutan dan harapan, dan Dia mengadakan
    awan mendung." Begitulah hingga ana jadi menangis, karena hik… takut
    kepada Allah Dan bukannya ana bermaksud riya dengan menceritakan ini
    kepada antum semua.. hik. Tapi ana pengen antum juga ikut
    merenunginya." Kali ini semuanya menangis.

    Tak terpikirkan oleh mereka tentang ini semua. "Pada saat rihlah, ana
    sebenarnya tahu jalan, jadi nggak bakal kesasar. Cuma ana ingin
    merenungi keindahan Allah. Dan ana melihat sebuah dahan besar. Ana
    berfikir, bahwa pohon yang sangat besar itu taat kepada Allah,
    sedangkan kita akhi, huuuhuu… yang amat kecil, sering mendurhakai
    Allah. Lalu ana melihat ombak. Ana tersenyum melihat ombak yang
    bergulung bergandengan. Karena ana itu ibarat kokohnya persaudaraan
    Islam. Lalu akhii, huuhuu.. ana menangis melihat ombak yang pecah di
    tepi pantai terlihat seperti bersujud. Ana tersentuh, betapa ana
    sedikit sekali bersujud kepada Allah. Jauh dibandingkan sujudnya
    ombak itu kepada Allah. Huuuhuuu." Seisi Mushola semakin riuh. "Dan
    waktu ana luka, ana teringat bahwa setiap musibah itu karena
    kelalaian kita. Dan ana menyesal karena ana tidak pernah tahu dosa
    apa yang telah menyebabkan ana luka. Selama ini ana merasa seperti
    tidak memiliki dosa. Huuuhuuu. Begitu aja penjelasan dari ana.
    Huuhuu." Tak ada yang berbicara. Yang ada hanya suara isak tangis
    dari jiwa-jiwa yang tersentuh. Kini seisi mushola mulai menyadari
    ketinggian ruhiyah Ahsan, si anak baru. "Ya, itulah penjelasan dari
    Ahsan. Rupanya kita banyak yang salah menduga.Hik… Dan kita mendapat
    pelajaran, betapa banyak sekali kejadian sehari-hari yang patut kita
    renungi agar kita bertambah dekat kepada Allah." Jelas kak
    Hendra. "Jadii…, Ahsan bukan melihat jin?" Celetuk
    Ardi. "Huuuuuuuuuu." Keadaan di Mushola pun geger.

    *******

    TAMAT 16 Juli 2000 malam, diselingi gerhana bulan. Allahu Akbar.
    Untuk akhi, ukhti di mana pun antum berada, banyak kejadian yang
    dapat membuat kita menangis.


    Sumber: Muslimmuda