"Kenapa sih", kata seorang kaya pada pelayannya,
"orang-orang mengataiku
pelit. Padahal semua orang kan tahu kalau aku wafat nanti,
aku akan
memberikan semua yang aku punya pada yayasan sosial dan
panti asuhan?"
"Akan saya ceritakan fabel tentang ayam dan sapi," jawab
pelayannya.
"Sapi begitu populer, sedangkan sang ayam tidak sama
sekali. Hal ini
sangat mengherankan sang ayam.
'Orang-orang berkata begitu manis tentang kelemahlembutan
dan matamu
yang begitu memancarkan penderitaan', kata ayam pada sapi.
'Mereka
mengira kamu begitu murah hati, karena tiap hari kamu
memberi mereka
krim dan susu. Tapi bagaimana dengan aku? Aku memberikan
semua yang aku
punya. Aku memberikan daging ayam. Aku memberikan
bulu-buluku. Bahkan
mereka memasak dan membuat sup dengan kakiku untuk kaldu.
Tidak ada yang
seperti itu. Kenapa sih kok bisa begitu ?'"
"Apakah anda tahu apa jawaban sang sapi?", kata pelayan.
"Sang sapi berkata, 'Mungkin karena aku memberikannya
sewaktu aku masih
hidup." ( kisah )
"Some people, in working toward a goal, find themselves
seized by inertia when it comes time for action. If this
should happen to you, despite the small graduated steps,
then it is time to reexamine your goal.
Consider how important it actually is and then either
discard the goal (and replace it with a more suitable one)
or continue thesteps with a renewed sense of the value of
achieving it."
"First you write down your goal; your second job is to
break downyour goal into a series of steps, beginning with
steps which are absurdly easy."
-- by Fitzhugh Dodson