Seorang anak, mungkin menjadi dambaan setiap keluarga. Aku teringat dengan kehadiran Daffa empat tahun yang lalu. Kami bahagia menyambutnya, seorang anak yang kami harapkan sebagai generasi penerus dakwah di muka bumi ini. Kami sengaja memberi nama dia Daffa yang berarti berani dan mempunyai pertahanan diri yang kuat. Ya, kami ingin dia punya keberanian untuk menyuarakan kebenaran. Sebuah nama merupakan doa bukan ?
Temanku pernah bilang bahwa mengamati setiap perkembangan anak ternyata sangat menyenangkan. Dan aku mengalaminya sendiri. Selama empat tahun ini, aku selalu merasa takjub dengan nikmat Alloh ini.
” Umi mau ngapain kok pakai kain kayak gitu ?” . Pernah Daffa bertanya kepadaku ketika melihatku memakai mukena.
“ Umi mau sholat, sayang .”
“ Emang sholat itu apaan ? Kok pakai kain kayak gitu ?”
“ Sholat itu beribadah kepada Alloh. Trus yang umi pakai sekarang namanya mukena biar bisa menutupi aurat umi.”
“ Alloh itu siapa ? Memang aurat itu apa sih, Mi. “
Aduh, Ya Alloh, semua jawabanku dikejarnya. Ternyata bingung juga menjelaskan sesuatu dengan menggunakan bahasa anak-anak. Kuputar otak untuk mencari jawaban yang pas.
Kujelaskan pertanyaan Daffa sebisa mungkin, walaupun terus muncul pertanyaan-pertanyaan baru yang semakin membuat dia penasaran. Walaupun kewalahan, tetapi aku bersyukur memiliki Daffa meskipun masih kecil tetapi dia cerdas. Semoga kecerdasannya nanti bermanfaat untuk agama dan kepentingan umat.
Sebuah pertanyaan yang cukup membuatku terhenyak ketika anakku bertanya :
“ Umi, Alloh itu di mana sih? Apakah Dia punya rumah seperti kita ? Punya TV gak Mi ? Punya Umi sama Abi gak ? “
Pertanyaan ini membuatku terdiam dan berpikir, bagaimana memberi pemahaman tentang Arasy kepada anakku. Akhirnya aku hanya menjawab :
“ Alloh berada di Arsy, sayang dan umi tidak tahu dimanakah letak Arsy Alloh itu. “
“ Berarti kata ibunya Mas Bagas salah dong ya Mi. Kata mas Bagas, ibunya bilang kalau Alloh tempat tinggalnya di langit yang jauuuh….”, tiru Daffa sambil menunjuk ke atas.
Aku tersenyum getir. Ya Alloh ampuni kami karena belum mampu menjelaskan tentang Engkau.
Seringkali para orang tua, terutama ibu menjelaskan pertanyaan-pertanyaan kritis anaknya dengan jawaban yang asal, asal anak tidak berisik, asal bisa jawab atau bahkan ketika anak bertanya lebih lanjut malah mendapat jawaban : “Sudah, kamu tuh masih kecil, nanti kalau sudah besar pasti tahu sendiri.”
Padahal menurut buku psikologi yang aku baca, seorang anak mempunyai masa emas perkembangannya yaitu mulai umur 2 tahun. Seharusnya para orang tua, khususnya ibu membiasakan menjawab pertanyaan-pertanyaan anaknya yang memang memiliki keingintahuan yang besar tetapi hendaknya jawaban yang diberikan tidak asal-asalan karena jawaban itu yang akan terekam dalam otaknya.
Aku baru menyadari hal itu, ketika Daffa mendatangiku dan bertanya dengan arti “takut”.
“ Umi, kenapa orang takut sama hantu ya ? Kemarin Budi (nama temennya) gak mau pas diajak nonton film hantu-hantuan itu lho, Mi .”
“ Dedek, memang hantu itu apa sih sayang ?”
“Ah, Umi, itu lho Mi, kayak yang di TV itu lho, dia pakainya baju putih-putih dan jalannya loncat-loncat,” jelas anakku sambil memeragakan.
Aku tersenyum sambil berfikir ternyata memang TV menjadi media yang sangat berpengaruh pada cara berfikir anak.
“ Sini, anak sholeh…Hantu itu tidak ada. Yang diciptakan Allah itu hanyalah orang (aku sengaja tidak menggunakan kata “manusia” agar mudah dipahami oleh Daffa), hewan, tumbuhan, langit, semua isi bumi, serta yang tidak kelihatan seperti malaikat, setan, jin, iblis….”.
Aku mulai menjelaskan konsep penciptaan dan penghambaan manusia, malaikat, setan, jin dan iblis. Banyak protes dari Daffa kalau dia tidak puas akan jawabanku, terutama kenapa manusia berasal dari tanah, “ berarti kalau Ammah Dany yang sedang hamil itu, perutnya isinya tanah dong Mi ?”.
Sambil menahan geli, aku menjelaskan lagi. Pusing kan ?
Belum lagi protes dia yang bertanya kenapa malaikat dari cahaya, kenapa setan dan iblis diciptakan dari api.
“ Umi, berarti kalau pas kita membakar sampah sama saja dengan memanggil setan ya ?. Kan apinya besar ? “
Masya Allah, tambah pusing aku. Akhirnya kuraih kepala Daffa dan kupeluk.
“ Sayang, kita hanya boleh takut pada Alloh. Jin, setan, iblis itu takut sama manusia dan manusia yang sholeh hanya takut sama Alloh. Daffa sholeh gak ?”
“ InsyaAlloh dong, Mi. Allahu Akbar !”
Daffa dengan wajah polosnya berlari ke luar karena Budi memanggilnya.
Subhanallah, betapa sempurna ciptaanNYA yang berbentuk anak kecil. Mereka dianugerahi rasa keingintahuan yang besar. Semua itu membuatku merenung, betapa banyak yang harus aku pelajari lagi.
Aku hampir terlupa tentang dialog arti takut sampai suatu ketika Daffa mengucapkannya pada teman-temannya.
Siang itu aku sedang berbaring di kamar yang bersebelahan dengan ruang tamu. Saat itu aku sedang menyelesaikan buku yang sudah hampir tiga hari ini belum kusentuh lagi. Apalagi pekerjaan rumah sudah selesai dan abi-nya Daffa baru akan pulang jam 5 nanti. Daffaku sedang bermain bersama teman-temannya di ruang tamu. Kudengar percakapan di antara mereka.
“ Fa, tau gak kemarin Bi Iyem kemarin liat hantu lho di pohon jambu depan rumah Joko ”, kudengar Budi sedang bercerita.
Wawan , teman Daffa yang lain terdengar menimpali :” Masak ? Memang hantunya gimana ? “
“ Wah gak tau. Bi Iyem gak cerita gimana wajah hantunya. Katanya menyeramkan. Cuman dia bilang ‘awas kalau tidak mau makan nanti dikejar hantu yang ada di pohon jambu !’. Gitu bilangnya .”
“ Kalo gitu nanti pulangnya jangan lewat rumah Joko ya, “ ternyata Wawan ketakutan juga.
Di dalam kamar aku tersenyum mendengar dialog mereka. Memang seringkali orang tua selalu menakut-nakuti anaknya dengan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu ditakuti. Sering kita mendengar ibu-ibu yang berkata ‘awas kalo tidak mau makan biar disuntik pak dokter’ atau ‘kalo tidak mau tidur siang, nanti mama bilang ke pak polisi biar ditangkap’. Mungkin ancaman itu berhasil, anak mau makan atau tidur siang. Tetapi ada dampak psikologis yang tidak disadari oleh para orang tua. Akan ada phobia terhadap sosok-sosok tersebut. Pernah ada anak saudara yang jadi ketakutan ketika melihat sosok dokter ataupun polisi. Baru melihat dokter atau polisi di pinggir jalan saja, anak itu langsung nangis meronta-ronta ketakutan. Hal ini berakibat anak akan menolak jika diajak berobat ke dokter saat sakit. Tentu saja akan merepotkan orang tuanya juga.
Tak lama kemudian, kudengar Daffa bersuara :
“ Eh, hantu itu tidak ada. Kata Umiku yang ada itu jin, setan ama iblis. Dan mereka takut sama manusia. Sedangkan manusia takutnya cuman sama Alloh. Gimana sih ?”
Subhanallah..Allahu Akbar…hatiku bertakbir mendengar jawaban Daffa. Alhamdulillah, apa yang aku jelaskan kemarin dimengertinya, dan sekarang dia mengulang penjelasanku. Semoga penjelasanku yang sederhana akan mampu memperkuat pemahaman awal aqidah mujahid kecilku.
Alunan kehidupan tetap berjalan dan membuatku semakin mensyukuri semua nikmatNya ini.
Seorang anak kecil tetaplah sosok yang menyimpan karakter yang unik, termasuk bandel dan masih suka membangkang. Misalkan ketika abinya meminta tolong mengambilkan buku sedangkan Daffa sedang asyik menonton film kartun di hari ahad pagi ini.
“ Daffa, ambilkan buku abi di atas meja ! “
“ Gak mau, Daffa lagi sibuk….”.
Aku geli mendengar jawaban Daffa, padahal dia hanya duduk di depan TV.
“ Daffa….”. Suara abinya terdengar lagi. Panggilan itu berulang sampai 3 kali kudengar dan belum juga Daffa melangkah. Sepertinya suamiku tidak sabar lagi, dia menghampiri Daffa dan langsung mematikan TV.
“Telinganya di mana sih ? Kok gak jawab panggilang abi ?”. Suara suamiku terdengar lebih keras dibanding biasanya, menandakan ada kemarahan di sana.
Daffa langsung berlari menghampiriku, dia memang lebih takut sama abinya apalagi abinya jarang marah tetapi sekali marah membuat keder.
“ Dedek juga salah, kenapa tadi tidak membantu abi ? Kan tadi cuma liat TV, bisa ditinggal sebentar kan ?. Sana minta maaf sama Abi.”
“ Tapi, Mi ….”
Aku menggelengkan kepala menunjukkan tidak mau mendengar alasan anakku lagi. Dengan langkah berat, Daffa menuju kamar tamu, tempat abinya sedang membaca. Aku mengikuti langkahnya, karena ingin tahu apakah anakku akan berani minta maaf atas kesalahannya.
“ Bi, Daffa minta maaf ya. Tadi Daffa gak menjawab panggilan Abi.”
Suamiku menatap ke arahku dan langsung kujawab dengan anggukan. Dia langsung mengelus kepala Daffa dan mengangguk. Belum sempat dia melanjutkan perkataannya, Daffa sudah memotong :
“ Asyik, berarti Daffa sudah boleh nonton TV lagi….”. Katanya sambil berlari ke depan TV lagi.
Suamiku ingin marah lagi tetapi segera kucegah.
“ Sudah, Bi, yang penting Daffa sudah belajar tentang keberanian untuk minta maaf.”
Dan suamiku tetap cemberut tetapi ia memilih untuk melanjutkan bacaannya dan aku pun kembali ke dapur membereskan masakanku.
Seiring waktu berjalan, seiring bertambah kesibukan di luar rumah ternyata menimbulkan protes dari Daffa. Dia sudah mulai cemberut ketika aku mencium keningnya seperti biasa yang kulakukan jika akan pergi mengisi kajian atau untuk urusan umat yang lain.
“ Pergi lagi, pergi lagi. Setiap hari pergi terus…. Daffa sebel sama Umi .”
Aku terhenyak, Ya Allah inikah yang dinamakan cinta keluarga, tetapi jangan sampai cinta ini menghalangiku untuk menjalankan amanah dakwah. Tetapi anakku juga menjadi amanahku. Silih berganti perasaanku muncul, ada yang menahan langkahku tetapi ada pula yang mendorong langkahku. Ya Allah Bantu aku….
Akhirnya aku menelpon temenku untuk minta izin telat beberapa menit dan minta tolong untuk menghandle acara sementara waktu. Aku ingin menjelaskan kepada anakku.
Aku pingin menjelaskan bahwa ibunya ini bukan miliknya seorang. Aku pingin memberi pengertian padanya bahwa orang lain pun ingin berbagi perhatian ibunya dengannya. Tapi aku juga jadi merenung, apakah aku sudah berlaku tidak adil pada keluargaku? Apakah aku sudah mulai tidak tawazun lagi? Ya, Alloh, aku ingin menyerahkan segala kebingungan dan kepenatan hati ini hanya kepadaMU.
Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in….
Waktu berjalan terasa menyenangkan ketika kudapati dua sosok mujahid yang menambah lengkap hidupku. Kesibukan-kesibukan tetap menyertai langkahku. Tetapi sekarang perhatian kepada Daffa lebih banyak karena dia semakin kritis. Pemahaman-pemahaman yang kuberikan kepadanya mulai diterima tetapi dengan argumen-argumen yang cerdas, tetapi tetap sesuai fitrah anak kecil.
Tetapi yang menyenangkan adalah ketika amalan-amalan sunnah yang berusaha aku dan suamiku biasakan ternyata dicontoh oleh anakku. Walaupun aku belum memaksa dia. Kami biarkan Daffa melihat apa yang kami lakukan. Ketika kami sholat, kami biarkan dia melihat dan mencontoh gerakan kami, walaupun masih banyak gerakan yang tidak beraturan. Ketika kami tilawah, dia biasa menyimak bacaan kami walaupun asyik dengan mainannya.
Sebuah ungkapan ringan yang terluncur dari bibirnya sempat membuat kami terhenyak. Malam itu, menjelang tidur aku sengaja membakar sebatang obat nyamuk supaya tidur Daffa nyenyak tanpa terganggu dengungan dan gigitan nyamuk. Tapi tidak kusangka, tindakanku itu malah mendapat protes dari Daffa.
“Umi, kok masang obat nyamuk bakar sih? Nanti Daffa tidurnya terlalu pulas, sholat tahajudnya ketinggalan dong. Kalo nanti malam digigit nyamuk kan Daffa bisa terbangun jadi bisa ikut sholat tahajud sama abi dan umi….”
Subhanallah, hatiku bergetar. Aku merasa bersalah karena selama ini belum membiasakan Daffa untuk ikut sholat tahajud bersama karena kami tidak tega membangunkan Daffa dari mimpi indahnya.
Spontan aku meraih obat nyamuk bakar tersebut dan mematikannya. Aku tersenyum dan meninabobokan anakku. Kutatap wajah anakku, kutemukan sepasang bola mata coklat di sana. Aku seperti melihat mata suamiku di sana. Ya Alloh, terima kasih Engkau telah memberiku dua buah telaga yang sangat menyejukkanku. Tak lama kemudian kami pun terlelap.
Sepertiga Malam…..
“Umi, Mi,….Mi…”, kurasakan goyangan tangan kecil dibahuku.
Ternyata usikan Daffa belum mampu membuatku bangun.
“Bentar ya, nak, umi masih pingin tiduran bentar.”
“Umi capek ya ? Kemarin Umi sih seharian sibuk…, “ protes jundi kecilku sambil cemberut.
“Iya deh, lima menit lagi. Daffa tungguin sambil ngaji sama abi ya. Nanti Daffa bangunin Umi lagi. Tapi nanti harus mau bangun beneran lho ya,” ultimatum Daffa.
Aku tersenyum, kulihat Daffa keluar kamar dan menutup daun pintu. Ah, anakku memang pengertian.
Karena memang capek, aku tertidur lagi. Tapi … belum lima menit –seperti janji Daffa – aku terlelap. Aku tergagap dikejutkan suara alarm HP-ku.
Ah, Ternyata aku hanya bermimpi …. Karena saat ini aku belum dikaruniai Daffa, dan aku pun baru saja menikah. Kutatap sesosok ikhwan yang ikut terbangun karena deringan HP-ku. Dialah sosok suamiku. Seorang ikhwan yang kupilih jadi qowwamku, seorang ikhwan yang kupilih jadi telagaku. Sambil tersenyum aku berkata padanya :
“ Mas, bantu aku menjadi seorang istri dan ibu yang sholehah ya !”
Suamiku hanya tersenyum dan mengajakku untuk sholat tahajud.
Aku jadi teringat sebuah hadist Rasulullah :
“ Setiap anak lahir dalam keadaan suci dan orang tuanya lah yang menjadikan anaknya Nasrani, Yahudi, dan Majusi. “
Sepenggal mimpi tadi bergerak seperti siluet tanpa bentuk. Semua membuatku berpikir betapa berharganya seorang anak, karena memang dia investasi terbesar dari orang tua. Maka tidak salah jika ALLOH mengatakan bahwa doa anak sholeh merupakan tabungan yang amalannya tidak pernah putus walaupun orang tuanya sudah meninggal.
Terima kasih, Ya Robbana, Engkau telah menyadarkanku melalui mimpi bahwa seorang ibu memang madrasah bagi anak-anaknya. Aku tersenyum dan menghilangkan kemalasan yang masih tersisa. Aku bangkit dan berusaha melepaskan borgol-borgol setan yang mau membuatku berat untuk melangkah. Kusibakkan selimut, dan berjalan mengambil air wudhu. Kali ini aku melakukan Qiyamullail dengan senyum dan ringan hati karena aku sadar bahwa ini salah satu ikhtiarku untuk mempersiapkan diri menjadi madrasah bagi anak-anakku nanti.
Ya, Alloh, bantu aku,….
*******************************************************
*Terinspirasi dari dialog-dialog ringan dengan para calon mujahid-mujahidah kecil di sekitarku. “Berbicara dengan kalian membuat Ammah Huning menjadi berbinar”
*Spesial Untuk : Dhek Faiz dan abinya di Bumi Alloh, “ Semoga Umi mampu. Bantu Umi ya !”
*******************************************************
(ummu daffa)
Dipetik : Boemi-islam.com