ENi6Ma

"Suatu waktu, mutiara di dalam genggaman, bergetar dan kemudian jatuh, pecah dan menjadi serpihan-serpihan kecil. Tapi dia adalah Mutiara, bagaimanapun dia tetap berkilau, dan sempurna sebagai intan permata. Bagaimanapun dia .. adalah mutiara harapanku."

This Real Me



Name : Jaka,-
Nicks : BLu3`Ais-
On Blog : Serpihan Mutiara
On IRC : #heartbeatstation
Age : 22
Work at : Internet Specs
Birthday : 4 March
Place : Jogja City
Mobile : +62817270xxx
ICQ : 122081318
YM ID : blue_indiego
fs : blueais@gmail.com

PreViOus

  • Hanya Atas Kehendak-Nya
  • PINDAHAN LOH...
  • Photobucket
  • Gimana Sih Rasanya Ketemu Presiden ?
  • Pergi Untuk Kembali...
  • Di Surga Kita Kan Bersua
  • "Menanti Sebuah Jawaban"
  • "Cinta Sejati"
  • Kehidupan Tidak Selalu Manis
  • "Don't be afraid my beloved, i'll be right here wi...


  • ArChieVe

  • November 2003
  • December 2003
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • August 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • October 2005

  • Links

    My Friendster BloG
    Situs Ku
    Berita Harian
    Koran Jogja
    Portal Jogja
    eMail Ku
    Cari Berita
    Koran Jateng
    Angkringan Ku
    Blog Aku
    Picture Perfect
    Pabrik Skin
    Hosting Ku

    Layout By "Yiling" Thanks Very Much

    Friends


    Said To Me

    Name :
    Web URL :
    Message :

    CreDits

    This page is powered by Blogger. Isn't yours?

    Powered by Blogbugs

    Komunitas Angkringan Jogjakarta

    Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com



    Site Meter

    Tuesday, May 25, 2004

    Jika Waktu Itu Tiba...

    Seperti biasa saya sehabis pulang kantor tiba dirumah langsung duduk bersantai sambil melepas penat. Sepertinya saya sangat enggan untuk membersihkan diri dan langsung sholat.
    Sementara anak2 & istri sedang berkumpul diruang tengah. Dalam kelelahan tadi, saya disegarkan dengan adanya angin dingin sepoi2 yang menghembus tepat dimuka saya. Selang beberapa lama seorang yang tak tampak mukanya berjubah putih dengan tongkat ditangannya tiba2 sudah berdiri didepanku.
    Saya sangat kaget dengan kedatangannya yang tiba2 itu.
    Sebelum sempat bertanya.....siapa dia...tiba2 saya merasa dada saya sesak... sulit untuk bernafas.... namun saya berusaha untuk tetap menghirup udara..sebisanya......

    Yang saya rasakan waktu itu ada sesuatu yang berjalan pelan2 dari
    dadaku......terus berjalan......kekerongkonganku....
    sakittttttttt........sakit........rasanya. Keluar airmataku
    menahan rasa sakitnya,.... oh tuhan ada apa dengan diriku..... dalam kondisi yang masih sulit bernafas tadi , benda tadi terus memaksa untuk keluar dari tubuhku... kkhh.........khhhh..... kerongkonganku berbunyi.
    Seolah tak mampu menahan benda tadi... badanku gemetar... peluh keringat mengucur deras....mataku terbelalak..... air mataku seolah tak berhenti....tangan & kakiku kejang2 sedetik setelah benda itu meninggalkan
    aku.

    Aku melihat benda tadi dibawa oleh orang misterius itu...pergi...berlalu begitu saja....hilang dari pandangan. Namun setelah itu.........aku merasa aku jauh lebih ringan, sehat, segar, cerah... tidak seperti biasanya. Aku herann... istri & anak2 ku yang sedari tadi ada diruang tengah,,,,tiba2
    terkejut berhamburan kearahku..
    Disitu aku melihat ada seseorang yang terbujur kaku ada tepat dibawah sofa yang kududuki tadi . badannya dingin kulitnya membiru. Siapa dia????????........ mengapa anak2 & istriku memeluknya sambil menangis...
    mereka menjerit...histeris ...terlebih istriku seolah tak mau melepaskan orang yang terbujur tadi... siapa dia.............???????? Betapa terkejutnya aku ketika wajahnya dibalikkan..... dia........dia.......dia mirip dengan aku....ada apa ini Tuhan...???????? Aku mencoba menarik tangan
    istriku tapi tak mampu..... Aku mencoba merangkul anak2 ku tapi tak bisa ...Aku coba jelaskan kalau itu bukan aku. Aku coba jelaskan kalau aku ada disini.. Aku mulai berteriak.....tapi mereka seolah tak mendengarkan aku.........seolah mereka tak melihatku...

    Dan mereka terus-menerus menangis....aku sadar..aku sadar...bahwa orang misterius tadi telah membawa roh ku.. Aku telah mati...aku telah mati. Aku telah meninggalkan mereka ..tak kuasa aku menangis..........berteriak......aku tak kuat melihat mereka menangisi mayatku. Aku sangat sedih.. selama hidupku belum banyak yang kulakukan untuk membahagiakan mereka. Belum banyak yang bisa kulakukan untuk membimbing mereka. Tapi waktuku telah habis.......masaku telah terlewati........aku sudah tutup usia ....pada saat aku terduduk disofa setelah lelah seharian bekerja. Sungguh bila aku tau aku akan mati, aku akan membagi waktu kapan harus bekerja, beribadah, untuk keluarga dll.

    Aku menyesal aku terlambat menyadarinya. Aku mati dalam keadaan belum sholat. Ohh Tuhan, Jika kau ijinkan keadaanku masih hidup masih bisa membaca ini. sungguh aku amat sangat bahagia. Karena aku masih mempunyai waktu untuk bersimpuh, mengakui segala dosa & berjanji bila maut menjemputku kelak. aku telah berada pada keadaan yang siap.

    Sumber: Unknown et resonansi


    Monday, May 24, 2004

    Dialog Para Mujahid Kecil

    Seorang anak, mungkin menjadi dambaan setiap keluarga. Aku teringat dengan kehadiran Daffa empat tahun yang lalu. Kami bahagia menyambutnya, seorang anak yang kami harapkan sebagai generasi penerus dakwah di muka bumi ini. Kami sengaja memberi nama dia Daffa yang berarti berani dan mempunyai pertahanan diri yang kuat. Ya, kami ingin dia punya keberanian untuk menyuarakan kebenaran. Sebuah nama merupakan doa bukan ?

    Temanku pernah bilang bahwa mengamati setiap perkembangan anak ternyata sangat menyenangkan. Dan aku mengalaminya sendiri. Selama empat tahun ini, aku selalu merasa takjub dengan nikmat Alloh ini.
    ” Umi mau ngapain kok pakai kain kayak gitu ?” . Pernah Daffa bertanya kepadaku ketika melihatku memakai mukena.
    “ Umi mau sholat, sayang .”
    “ Emang sholat itu apaan ? Kok pakai kain kayak gitu ?”
    “ Sholat itu beribadah kepada Alloh. Trus yang umi pakai sekarang namanya mukena biar bisa menutupi aurat umi.”
    “ Alloh itu siapa ? Memang aurat itu apa sih, Mi. “
    Aduh, Ya Alloh, semua jawabanku dikejarnya. Ternyata bingung juga menjelaskan sesuatu dengan menggunakan bahasa anak-anak. Kuputar otak untuk mencari jawaban yang pas.
    Kujelaskan pertanyaan Daffa sebisa mungkin, walaupun terus muncul pertanyaan-pertanyaan baru yang semakin membuat dia penasaran. Walaupun kewalahan, tetapi aku bersyukur memiliki Daffa meskipun masih kecil tetapi dia cerdas. Semoga kecerdasannya nanti bermanfaat untuk agama dan kepentingan umat.
    Sebuah pertanyaan yang cukup membuatku terhenyak ketika anakku bertanya :
    “ Umi, Alloh itu di mana sih? Apakah Dia punya rumah seperti kita ? Punya TV gak Mi ? Punya Umi sama Abi gak ? “
    Pertanyaan ini membuatku terdiam dan berpikir, bagaimana memberi pemahaman tentang Arasy kepada anakku. Akhirnya aku hanya menjawab :
    “ Alloh berada di Arsy, sayang dan umi tidak tahu dimanakah letak Arsy Alloh itu. “
    “ Berarti kata ibunya Mas Bagas salah dong ya Mi. Kata mas Bagas, ibunya bilang kalau Alloh tempat tinggalnya di langit yang jauuuh….”, tiru Daffa sambil menunjuk ke atas.
    Aku tersenyum getir. Ya Alloh ampuni kami karena belum mampu menjelaskan tentang Engkau.

    Seringkali para orang tua, terutama ibu menjelaskan pertanyaan-pertanyaan kritis anaknya dengan jawaban yang asal, asal anak tidak berisik, asal bisa jawab atau bahkan ketika anak bertanya lebih lanjut malah mendapat jawaban : “Sudah, kamu tuh masih kecil, nanti kalau sudah besar pasti tahu sendiri.”
    Padahal menurut buku psikologi yang aku baca, seorang anak mempunyai masa emas perkembangannya yaitu mulai umur 2 tahun. Seharusnya para orang tua, khususnya ibu membiasakan menjawab pertanyaan-pertanyaan anaknya yang memang memiliki keingintahuan yang besar tetapi hendaknya jawaban yang diberikan tidak asal-asalan karena jawaban itu yang akan terekam dalam otaknya.

    Aku baru menyadari hal itu, ketika Daffa mendatangiku dan bertanya dengan arti “takut”.
    “ Umi, kenapa orang takut sama hantu ya ? Kemarin Budi (nama temennya) gak mau pas diajak nonton film hantu-hantuan itu lho, Mi .”
    “ Dedek, memang hantu itu apa sih sayang ?”
    “Ah, Umi, itu lho Mi, kayak yang di TV itu lho, dia pakainya baju putih-putih dan jalannya loncat-loncat,” jelas anakku sambil memeragakan.
    Aku tersenyum sambil berfikir ternyata memang TV menjadi media yang sangat berpengaruh pada cara berfikir anak.
    “ Sini, anak sholeh…Hantu itu tidak ada. Yang diciptakan Allah itu hanyalah orang (aku sengaja tidak menggunakan kata “manusia” agar mudah dipahami oleh Daffa), hewan, tumbuhan, langit, semua isi bumi, serta yang tidak kelihatan seperti malaikat, setan, jin, iblis….”.

    Aku mulai menjelaskan konsep penciptaan dan penghambaan manusia, malaikat, setan, jin dan iblis. Banyak protes dari Daffa kalau dia tidak puas akan jawabanku, terutama kenapa manusia berasal dari tanah, “ berarti kalau Ammah Dany yang sedang hamil itu, perutnya isinya tanah dong Mi ?”.
    Sambil menahan geli, aku menjelaskan lagi. Pusing kan ?
    Belum lagi protes dia yang bertanya kenapa malaikat dari cahaya, kenapa setan dan iblis diciptakan dari api.
    “ Umi, berarti kalau pas kita membakar sampah sama saja dengan memanggil setan ya ?. Kan apinya besar ? “
    Masya Allah, tambah pusing aku. Akhirnya kuraih kepala Daffa dan kupeluk.
    “ Sayang, kita hanya boleh takut pada Alloh. Jin, setan, iblis itu takut sama manusia dan manusia yang sholeh hanya takut sama Alloh. Daffa sholeh gak ?”
    “ InsyaAlloh dong, Mi. Allahu Akbar !”
    Daffa dengan wajah polosnya berlari ke luar karena Budi memanggilnya.

    Subhanallah, betapa sempurna ciptaanNYA yang berbentuk anak kecil. Mereka dianugerahi rasa keingintahuan yang besar. Semua itu membuatku merenung, betapa banyak yang harus aku pelajari lagi.

    Aku hampir terlupa tentang dialog arti takut sampai suatu ketika Daffa mengucapkannya pada teman-temannya.
    Siang itu aku sedang berbaring di kamar yang bersebelahan dengan ruang tamu. Saat itu aku sedang menyelesaikan buku yang sudah hampir tiga hari ini belum kusentuh lagi. Apalagi pekerjaan rumah sudah selesai dan abi-nya Daffa baru akan pulang jam 5 nanti. Daffaku sedang bermain bersama teman-temannya di ruang tamu. Kudengar percakapan di antara mereka.
    “ Fa, tau gak kemarin Bi Iyem kemarin liat hantu lho di pohon jambu depan rumah Joko ”, kudengar Budi sedang bercerita.
    Wawan , teman Daffa yang lain terdengar menimpali :” Masak ? Memang hantunya gimana ? “
    “ Wah gak tau. Bi Iyem gak cerita gimana wajah hantunya. Katanya menyeramkan. Cuman dia bilang ‘awas kalau tidak mau makan nanti dikejar hantu yang ada di pohon jambu !’. Gitu bilangnya .”
    “ Kalo gitu nanti pulangnya jangan lewat rumah Joko ya, “ ternyata Wawan ketakutan juga.
    Di dalam kamar aku tersenyum mendengar dialog mereka. Memang seringkali orang tua selalu menakut-nakuti anaknya dengan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu ditakuti. Sering kita mendengar ibu-ibu yang berkata ‘awas kalo tidak mau makan biar disuntik pak dokter’ atau ‘kalo tidak mau tidur siang, nanti mama bilang ke pak polisi biar ditangkap’. Mungkin ancaman itu berhasil, anak mau makan atau tidur siang. Tetapi ada dampak psikologis yang tidak disadari oleh para orang tua. Akan ada phobia terhadap sosok-sosok tersebut. Pernah ada anak saudara yang jadi ketakutan ketika melihat sosok dokter ataupun polisi. Baru melihat dokter atau polisi di pinggir jalan saja, anak itu langsung nangis meronta-ronta ketakutan. Hal ini berakibat anak akan menolak jika diajak berobat ke dokter saat sakit. Tentu saja akan merepotkan orang tuanya juga.

    Tak lama kemudian, kudengar Daffa bersuara :
    “ Eh, hantu itu tidak ada. Kata Umiku yang ada itu jin, setan ama iblis. Dan mereka takut sama manusia. Sedangkan manusia takutnya cuman sama Alloh. Gimana sih ?”

    Subhanallah..Allahu Akbar…hatiku bertakbir mendengar jawaban Daffa. Alhamdulillah, apa yang aku jelaskan kemarin dimengertinya, dan sekarang dia mengulang penjelasanku. Semoga penjelasanku yang sederhana akan mampu memperkuat pemahaman awal aqidah mujahid kecilku.

    Alunan kehidupan tetap berjalan dan membuatku semakin mensyukuri semua nikmatNya ini.
    Seorang anak kecil tetaplah sosok yang menyimpan karakter yang unik, termasuk bandel dan masih suka membangkang. Misalkan ketika abinya meminta tolong mengambilkan buku sedangkan Daffa sedang asyik menonton film kartun di hari ahad pagi ini.
    “ Daffa, ambilkan buku abi di atas meja ! “
    “ Gak mau, Daffa lagi sibuk….”.
    Aku geli mendengar jawaban Daffa, padahal dia hanya duduk di depan TV.
    “ Daffa….”. Suara abinya terdengar lagi. Panggilan itu berulang sampai 3 kali kudengar dan belum juga Daffa melangkah. Sepertinya suamiku tidak sabar lagi, dia menghampiri Daffa dan langsung mematikan TV.
    “Telinganya di mana sih ? Kok gak jawab panggilang abi ?”. Suara suamiku terdengar lebih keras dibanding biasanya, menandakan ada kemarahan di sana.
    Daffa langsung berlari menghampiriku, dia memang lebih takut sama abinya apalagi abinya jarang marah tetapi sekali marah membuat keder.
    “ Dedek juga salah, kenapa tadi tidak membantu abi ? Kan tadi cuma liat TV, bisa ditinggal sebentar kan ?. Sana minta maaf sama Abi.”
    “ Tapi, Mi ….”
    Aku menggelengkan kepala menunjukkan tidak mau mendengar alasan anakku lagi. Dengan langkah berat, Daffa menuju kamar tamu, tempat abinya sedang membaca. Aku mengikuti langkahnya, karena ingin tahu apakah anakku akan berani minta maaf atas kesalahannya.
    “ Bi, Daffa minta maaf ya. Tadi Daffa gak menjawab panggilan Abi.”
    Suamiku menatap ke arahku dan langsung kujawab dengan anggukan. Dia langsung mengelus kepala Daffa dan mengangguk. Belum sempat dia melanjutkan perkataannya, Daffa sudah memotong :
    “ Asyik, berarti Daffa sudah boleh nonton TV lagi….”. Katanya sambil berlari ke depan TV lagi.
    Suamiku ingin marah lagi tetapi segera kucegah.
    “ Sudah, Bi, yang penting Daffa sudah belajar tentang keberanian untuk minta maaf.”
    Dan suamiku tetap cemberut tetapi ia memilih untuk melanjutkan bacaannya dan aku pun kembali ke dapur membereskan masakanku.

    Seiring waktu berjalan, seiring bertambah kesibukan di luar rumah ternyata menimbulkan protes dari Daffa. Dia sudah mulai cemberut ketika aku mencium keningnya seperti biasa yang kulakukan jika akan pergi mengisi kajian atau untuk urusan umat yang lain.
    “ Pergi lagi, pergi lagi. Setiap hari pergi terus…. Daffa sebel sama Umi .”
    Aku terhenyak, Ya Allah inikah yang dinamakan cinta keluarga, tetapi jangan sampai cinta ini menghalangiku untuk menjalankan amanah dakwah. Tetapi anakku juga menjadi amanahku. Silih berganti perasaanku muncul, ada yang menahan langkahku tetapi ada pula yang mendorong langkahku. Ya Allah Bantu aku….
    Akhirnya aku menelpon temenku untuk minta izin telat beberapa menit dan minta tolong untuk menghandle acara sementara waktu. Aku ingin menjelaskan kepada anakku.
    Aku pingin menjelaskan bahwa ibunya ini bukan miliknya seorang. Aku pingin memberi pengertian padanya bahwa orang lain pun ingin berbagi perhatian ibunya dengannya. Tapi aku juga jadi merenung, apakah aku sudah berlaku tidak adil pada keluargaku? Apakah aku sudah mulai tidak tawazun lagi? Ya, Alloh, aku ingin menyerahkan segala kebingungan dan kepenatan hati ini hanya kepadaMU.
    Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in….

    Waktu berjalan terasa menyenangkan ketika kudapati dua sosok mujahid yang menambah lengkap hidupku. Kesibukan-kesibukan tetap menyertai langkahku. Tetapi sekarang perhatian kepada Daffa lebih banyak karena dia semakin kritis. Pemahaman-pemahaman yang kuberikan kepadanya mulai diterima tetapi dengan argumen-argumen yang cerdas, tetapi tetap sesuai fitrah anak kecil.
    Tetapi yang menyenangkan adalah ketika amalan-amalan sunnah yang berusaha aku dan suamiku biasakan ternyata dicontoh oleh anakku. Walaupun aku belum memaksa dia. Kami biarkan Daffa melihat apa yang kami lakukan. Ketika kami sholat, kami biarkan dia melihat dan mencontoh gerakan kami, walaupun masih banyak gerakan yang tidak beraturan. Ketika kami tilawah, dia biasa menyimak bacaan kami walaupun asyik dengan mainannya.
    Sebuah ungkapan ringan yang terluncur dari bibirnya sempat membuat kami terhenyak. Malam itu, menjelang tidur aku sengaja membakar sebatang obat nyamuk supaya tidur Daffa nyenyak tanpa terganggu dengungan dan gigitan nyamuk. Tapi tidak kusangka, tindakanku itu malah mendapat protes dari Daffa.
    “Umi, kok masang obat nyamuk bakar sih? Nanti Daffa tidurnya terlalu pulas, sholat tahajudnya ketinggalan dong. Kalo nanti malam digigit nyamuk kan Daffa bisa terbangun jadi bisa ikut sholat tahajud sama abi dan umi….”
    Subhanallah, hatiku bergetar. Aku merasa bersalah karena selama ini belum membiasakan Daffa untuk ikut sholat tahajud bersama karena kami tidak tega membangunkan Daffa dari mimpi indahnya.
    Spontan aku meraih obat nyamuk bakar tersebut dan mematikannya. Aku tersenyum dan meninabobokan anakku. Kutatap wajah anakku, kutemukan sepasang bola mata coklat di sana. Aku seperti melihat mata suamiku di sana. Ya Alloh, terima kasih Engkau telah memberiku dua buah telaga yang sangat menyejukkanku. Tak lama kemudian kami pun terlelap.

    Sepertiga Malam…..

    “Umi, Mi,….Mi…”, kurasakan goyangan tangan kecil dibahuku.
    Ternyata usikan Daffa belum mampu membuatku bangun.
    “Bentar ya, nak, umi masih pingin tiduran bentar.”
    “Umi capek ya ? Kemarin Umi sih seharian sibuk…, “ protes jundi kecilku sambil cemberut.
    “Iya deh, lima menit lagi. Daffa tungguin sambil ngaji sama abi ya. Nanti Daffa bangunin Umi lagi. Tapi nanti harus mau bangun beneran lho ya,” ultimatum Daffa.
    Aku tersenyum, kulihat Daffa keluar kamar dan menutup daun pintu. Ah, anakku memang pengertian.

    Karena memang capek, aku tertidur lagi. Tapi … belum lima menit –seperti janji Daffa – aku terlelap. Aku tergagap dikejutkan suara alarm HP-ku.

    Ah, Ternyata aku hanya bermimpi …. Karena saat ini aku belum dikaruniai Daffa, dan aku pun baru saja menikah. Kutatap sesosok ikhwan yang ikut terbangun karena deringan HP-ku. Dialah sosok suamiku. Seorang ikhwan yang kupilih jadi qowwamku, seorang ikhwan yang kupilih jadi telagaku. Sambil tersenyum aku berkata padanya :
    “ Mas, bantu aku menjadi seorang istri dan ibu yang sholehah ya !”
    Suamiku hanya tersenyum dan mengajakku untuk sholat tahajud.

    Aku jadi teringat sebuah hadist Rasulullah :
    “ Setiap anak lahir dalam keadaan suci dan orang tuanya lah yang menjadikan anaknya Nasrani, Yahudi, dan Majusi. “

    Sepenggal mimpi tadi bergerak seperti siluet tanpa bentuk. Semua membuatku berpikir betapa berharganya seorang anak, karena memang dia investasi terbesar dari orang tua. Maka tidak salah jika ALLOH mengatakan bahwa doa anak sholeh merupakan tabungan yang amalannya tidak pernah putus walaupun orang tuanya sudah meninggal.

    Terima kasih, Ya Robbana, Engkau telah menyadarkanku melalui mimpi bahwa seorang ibu memang madrasah bagi anak-anaknya. Aku tersenyum dan menghilangkan kemalasan yang masih tersisa. Aku bangkit dan berusaha melepaskan borgol-borgol setan yang mau membuatku berat untuk melangkah. Kusibakkan selimut, dan berjalan mengambil air wudhu. Kali ini aku melakukan Qiyamullail dengan senyum dan ringan hati karena aku sadar bahwa ini salah satu ikhtiarku untuk mempersiapkan diri menjadi madrasah bagi anak-anakku nanti.
    Ya, Alloh, bantu aku,….

    *******************************************************
    *Terinspirasi dari dialog-dialog ringan dengan para calon mujahid-mujahidah kecil di sekitarku. “Berbicara dengan kalian membuat Ammah Huning menjadi berbinar”

    *Spesial Untuk : Dhek Faiz dan abinya di Bumi Alloh, “ Semoga Umi mampu. Bantu Umi ya !”

    *******************************************************
    (ummu daffa)

    Dipetik : Boemi-islam.com


    Sunday, May 23, 2004

    Cinta dan Waktu ...

    Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak : ada CINTA, KEKAYAAN, KECANTIKAN, KESEDIHAN, KEGEMBIRAAN dan sebagainya. Awalnya mereka hidup berdampingan dengan baik dan saling melengkapi. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik semakin tinggi dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri.

    CINTA sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencuba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki CINTA. Tak lama CINTA melihat KEKAYAAN sedang mengayuh perahu.

    "KEKAYAAN! KEKAYAAN! Tolong aku!" teriak CINTA. Lalu apa jawab KEKAYAAN, "Aduh! Maaf,CINTA!" kata KEKAYAAN. "Perahuku telah penuh dengan harta bendaku. Aku tak dapat membawamu serta, nanti perahu ini tenggelam. Lagipula tak ada tempat lagi bagimu di perahuku ini." Lalu KEKAYAAN cepat-cepat mengayuh perahunya pergi meninggalkan CINTA tenggelam.

    CINTA sedih sekali, namun kemudian dilihatnya KEGEMBIRAAN lewat dengan perahunya. "KEGEMBIRAAN! Tolong aku!", teriak CINTA. Namun apa yang terjadi, KEGEMBIRAAN terlalu gembira karena ia menemukan perahu sehingga ia tuli tak mendengar teriakan CINTA. Air makin tinggi membasahi CINTA sampai ke pinggang dan CINTA semakin panik.

    Tak lama lewatlah KECANTIKAN. "KECANTIKAN! Bawalah aku bersamamu!", teriak CINTA. Lalu apa jawab KECANTIKAN, "Wah, CINTA, kamu basah dan kotor. Aku tak bisa membawamu ikut. Nanti kamu mengotori perahuku yang indah ini." sahut KECANTIKAN. CINTA sedih sekali mendengarnya. CINTA mulai menangis terisak-isak.

    Apa kesalahanku, mengapa semua orang melupakan aku. Saat itu lewatlah KESEDIHAN. Lalu CINTA memelas, "Oh, KESEDIHAN, bawalah aku bersamamu", kata CINTA. Lalu apa kata KESEDIHAN, "Maaf, CINTA. Aku sedang sedih dan aku ingin sendirian saja...", kata KESEDIHAN sambil terus mengayuh perahunya. CINTA putus asa. Ia merasakan air makin naik dan akan menenggelamkannya. CINTA terus berharap kalau dirinya dapat diselamatlkan.

    Lalu ia berdoa kepada Tuhannya, oh tuhan tolonglah aku, apa jadinya dunia tanpa aku, tanpa CINTA? Pada saat kritis itulah tiba-tiba terdengar suara, "CINTA! Mari cepat naik ke perahuku!" CINTA menoleh ke arah suara itu dan melihat seorang tua reyot berjanggut putih panjang sedang mengayuh perahunya. Lalu Cepat-cepat CINTA naik ke perahu itu, tepat sebelum air menenggelamkannya. Kemudian di pulau terdekat, orang tua itu menurunkan CINTA dan segera pergi lagi. Pada saat itu barulah CINTA sadar, bahwa ia sama sekali tidak mengetahui siapa orang tua yang baik hati menyelamatkannya itu. CINTA segera menanyakannya kepada seorang penduduk tua di pulau itu, siapa sebenarnya orang tua itu.

    "Oh, orang tua tadi? Dia adalah "WAKTU", kata orang itu. Lalu CINTA bertanya "Tapi, mengapa ia menyelamatkanku? Aku tak mengenalnya. Bahkan teman-teman yang mengenalku pun enggan menolongku", tanya CINTA heran. "Sebab", kata orang itu, "hanya WAKTU lah yang tahu berapa nilainya harga sebuah CINTA itu......"


    Kue dari Tuhan

    Seorang anak memberitahu ibunya kalau segala sesuatu tidak berjalan seperti
    yang dia harapkan. Dia mendapatkan nilai jelek dalam raport, putus dengan
    pacarnya, dan sahabat terbaiknya pindah ke luar kota.

    Saat itu ibunya sedang membuat kue, dan menawarkan apakah anaknya mau
    mencicipinya, dengan senang hati dia berkata, "Tentu saja, I love your cake."
    "Nih, cicipi mentega ini," kata Ibunya menawarkan. "Yaiks," ujar anaknya.
    "Bagaimana dgn telur mentah ?"
    "You're kidding me, Mom."
    "Mau coba tepung terigu atau baking soda ?"
    "Mom, semua itu menjijikkan."
    Lalu Ibunya menjawab, "ya, semua itu memang kelihatannya tidak enak jika
    dilihat satu per satu. Tapi jika dicampur jadi satu melalui satu proses
    yang benar, akan menjadi kue yang enak."

    Tuhan bekerja dengan cara yang sama. Seringkali kita bertanya kenapa Dia
    membiarkan kita melalui masa-masa yang sulit dan tidak menyenangkan. Tapi
    Tuhan tahu jika Dia membiarkan semuanya terjadi satu per satu sesuai dgn
    rancanganNya, segala sesuatunya akan menjadi sempurna tepat pada waktunya.
    Kita hanya perlu percaya proses ini diperlukan untuk menyempurnakan hidup kita.

    Tuhan teramat sangat mencintai kita. Dia mengirimkan bunga setiap musim
    semi, sinar matahari setiap pagi. Setiap saat kita ingin bicara, Dia akan
    mendengarkan. Dia ada setiap saat kita membutuhkanNya, Dia ada di setiap
    tempat, dan Dia memilih untuk berdiam di hati kita.

    Sumber: resonansi


    Friday, May 14, 2004

    Sekali Lagi .. Bolehkah Pacaran ???

    Melihat kecenderungan aktifitas pasangan muda yang berpacaran, sesungguhnya sangat sulit untuk mengatakan bahwa pacaran itu adalah media untuk saling mencinta satu sama lain. Sebab sebuah cinta sejati tidak berbentuk sebuah perkenalan singkat, misalnya dengan bertemu di suatu kesempatan tertentu lalu saling bertelepon, tukar menukar SMS, chatting dan diteruskan dengan janji bertemua langsung.

    Semua bentuk aktifitas itu sebenarnya bukanlah aktifitas cinta, sebab yang terjadi adalah kencan dan bersenang-senang. Sama sekali tidak ada ikatan formal yang resmi dan diakui. Juga tidak ada ikatan tanggung-jawab antara mereka. Bahkan tidak ada ketentuan tentang kesetiaan dan seterusnya.

    Padahal cinta itu pada hakikatnya adalah rasa ikut memiliki, sebuah apresiasi dari sebuah rasa tanggung-jawab, sebuah ikatan yang teramat kuat, sah serta resmi dengan landasan hukum. Dan cinta adalah harga dari sebuah kesetiaan. Dalam format pacaran, semua instrumen itu tidak ada, sehingga jelas sekali bahwa pacaran itu sangat berbeda dengan cinta.

    Batas Pacaran

    Hampir sulit membuat batasan mana pacaran yang dibolehkan dan mana yang tidak. Sebab sekali dibuka pintu untuk membolehkannya, hampir tidak ada batas lagi untuk melakukan hal-hal yang lebih jauh. Meski awalnya hanya sekedar saling bertemu dengan didampingin mahram, tetapi siapakah yang bisa menjadi untuk tidak terjadinya hal-hal yang lebih lanjut seiring dengan perjalanan waktu dan berbunganya hati.

    Hampir semua kencan yang sampai kepada zina berawal dari yang biasa-biasa saja. Atau yang belum melanggar norma etika masyarakat. Tapi hampir bisa dipastikan bahwa semua itu akan terus berlanjut sebagaimana iringan musik syetani, sehingga lama-lama bukan sekedar kencan, jalan-jalan dan berduaan, tetapi data menunjukkan bahwa ciuman, rabaan anggota tubuh dan bersetubuh secara langsung sudah merupakan hal yang biasa terjadi pada pasangan yang pacaran. Sekali tidak ada yang bisa menjaganya, sehingga kalimat yang pasti hanya satu: JANGAN DEKATI ZINA.

    Sehingga kita juga sering mendengar istilah Chek-In, yang awalnya adalah istilah dalam dunia perhotelan buat mereka yang menginap. Namun hotel pada hari ini juga berfungsi sebagai tempat untuk berzina pasangan pelajar dan mahasiswa, selain pasangan tidak syah lainnya. Bahkan hal ini sudah menjadi bagian dari lahan pemasukan hotel sendiri dengan memberi kesempatan untuk short time, yaitu kamar yang disewakan secara jam-jaman untuk pasangan di luar nikah. Pihak pengelola hotel sama sekali tidak mempedulikan apakah pasangan yang melakukan chek-in itu suami istri atau bulan, sebab hal itu dianggap sebagai hak asasi setiap orang.

    Selain di hotel, aktifitas percumbuan dan hubungan seksual di luar nikah juga sering dilakukan di dalam rumah sendiri, yaitu memanfaatkan kesibukan kedua orang tua. Maka para pelajar dan mahasiswa bisa lebih bebas melakukan hubungan seksual di luar nikah di dalam rumah mereka sendiri tanpa kecurigaan, pengawasan dan perhatian dari anggota keluarga lainnya.

    Data menunjukkan bahwa seks di luar nikah itu sudah dilakukan bukan hanya oleh pasangan mahasiswa dan orang dewasa, namun anak-anak pelajar menengah atas (SLTA) dan menengah pertama (SLTP) juga terbiasa melakukannya. Pola budaya yang permisif (serba boleh) telah menjadikan hubungan pacaran sebagai legalisasi kesempatan berzina. Dan terbukti dengan maraknya kasus 'hamil duluan' dan aborsi ilegal.

    Fakta dan data lebih jujur berbicara kepada kita ketimbang apologi. Maka jelaslah bahwa praktek pacaran pelajar dan mahasiswa sangat rentan dengan perilaku zina yang oleh sistem hukum di negeri ini sama sekali tidak dilarang. Sebab buat sistem hukum sekuler warisan penjajah, zina adalah hak asasi yang harus dilindungi. Sepasang pelajar atau mahasiswa yang berzina, tidak akan bisa dituntut secara hukum. Bahkan bila seks bebas itu menghasilkan hukuman dari Allah berupa AIDS, para pelakunya justru akan diberi simpati.

    Maka kalau boleh disebutkan secara tegas sesungguhnya Islam tidak mengenal istilah pacaran, paling tidak dengan pengetian pacaran yang selama ini dikenal masyarakat umum.

    Pacaran Bukanlah Penjajakan/Perkenalan

    Bahkan kalau pun pacaran itu dianggap sebagai sarana untuk saling melakukan penjajakan, perkenalan atau mencari titik temu antara kedua calon suami istri, bukanlah anggapan yang benar. Sebab penjajagan itu tidak adil dan kurang memberikan gambaran sesungguhnya dari data yang diperlukan dalam sebuah persiapan pernikahan.

    Dalam format mencari pasangan hidup, Islam telah memberikan panduan yang jelas tentang apa saja yang perlu diperhitungkan. Misalnya sabda Rasulullah SAW tentang 4 kriteria yang terkenal itu.

    Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Wanita itu dinikahi karena 4 hal : [1] hartanya, [2] keturunannya, [3] kecantikannya dan [4] agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat." (HR Bukhari, Kitabun Nikah Bab Al-Akfa' fiddin nomor 4700, Muslim Kitabur-Radha' Bab Istihbabu Nikah zatid-diin nomor 2661).

    Selain keempat kriteria itu, Islam membenarkan bila ketika seorang memilih pasangan hidup untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi yang tidak mungkin diceritakan langsung oleh yang bersangkutan. Maka dalam masalah ini, peran orang tua atau pihak keluarga menjadi sangat penting.

    Inilah proses yang dikenal dalam Islam sebagai ta'aruf. Jauh lebih bermanfaat dan objektif ketimbang kencan berduaan. Sebab kecenderungan pasangan yang sedang kencan adalah menampilkan sisi-sisi terbaiknya saja. Terbukti dengan mereka mengenakan pakaian yang terbaik, bermake-up, berparfum dan mencari tempat-tempat yang indah dalam kencan. Padahal nantinya dalam berumah tangga tidak lagi demikian kondisinya.

    Istri tidak selalu dalam kondisi bermake-up, tidak setiap saat berbusana terbaik dan juga lebih sering bertemu dengan suaminya dalam keadaan tanpa parfum. Bahkan rumah yang mereka tempati itu bukanlah tempat-tempat indah mereka dulu kunjungi sebelumnya. Setelah menikah mereka akan menjalani hari-hari biasa yang kondisinya jauh dari suasana romantis saat pacaran.

    Maka kesan indah saat pacaran itu tidak akan ada terus menerus di dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian, pacaran bukanlah sebuah penjajakan yang jujur, sebaliknya sebuah penyesatan dan pengelabuhan.

    Dan tidak heran kita dapati pasangan yang cukup lama berpacaran, namun segera mengurus perceraian belum lama setelah pernikahan terjadi. Padahal mereka pacaran bertahun-tahun dan membina rumah tangga dalam hitungan hari. Pacaran bukanlah perkenalan melainkan ajang kencan saja.

    Wallahu a'lam

    (sumber : eramuslim.com by Ust. Ahmad Sarwat, Lc.)


    Cinta Lelaki Mulia

    Di Thaif, lelaki mulia itu terluka. Zaid bin Haritsah yang mendampinginya pun ikut berdarah ketika berusaha memberikan perlindungan. Penduduk negeri itu melemparinya dengan batu. Padahal, ajakannya adalah ajakan tauhid. Seruannya adalah seruan untuk mengesakan Allah. "Agar Allah diesakan dan tidak disekutukan dengan apapun." Namun, Bani Tsaqif malah memusuhinya. Pejabat negeri itu menghasut khalayak ramai untuk menyambutnya dengan cercaan dan timpukan batu.

    Meski diperlakukan sedemikian kasar, Rasulullah tetap pemaaf. Kecintaannya kepada umat mengobati derita yang dialaminya. Beliau menolak tawaran Jibril yang siap mengazab penduduk Thaif dengan himpitan gunung. Sebaliknya, ia mendoakan kebaikan bagi kaum yang mencemoohnya itu, “Ya Allah, berilah kaumku hidayah, sebab mereka belum tahu.”

    ***

    Di Bukit Uhud, pribadi pilihan itu kembali terluka. Wajah Rasulullah SAW terluka, gigi seri beliau patah, serta topi pelindung beliau hancur. Fatimah Az-Zahra, putri beliau, bersusah payah untuk menghentikan pendarahan tersebut. Dua pelindungnya terakhir, Ali ra dan Thalhah ra juga terluka parah.

    Bukit Uhud menjadi saksi kekalahan pahit itu. Pasukan pemanah yang diperintahkan menjaga bukit, dijangkiti gila dunia. Silaunya harta rampasan menggerogoti keikhlasan mereka. Akibatnya, pasukan kaum muslimin porak-poranda dan Rasul pun terluka. Meski kembali disakiti, cinta lelaki mulia itu tetap bergema, “Ya Tuhanku! Berilah ampunan kepada kaumku karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”

    ***

    Thaif dan Uhud merupakan hari-hari terberat sang Nabi. Pengorbanannya bagi umat tiada berbanding. Iltizam terhadap dakwah mewarnai hari-hari Rasul akhir zaman itu. Kecemasannya pada nasib umat selalu mengemuka. Ia adalah Rasul yang penuh cinta kepada umatnya. Cinta itu berbalas, generasi sahabat (generasi pertama) adalah generasi yang juga sangat mencintainya. Cinta yang diperlihatkan Zaid bin Haritsah di Thaif ketika menjadi tameng bagi rasulnya. Cinta yang dibuktikan Abu Dujanah, Hamzah dan Mush'ab bin Umair di bukit Uhud. Tapi, adakah generasi terkini masih mencintainya? Apakah umatnya sekarang tetap menyimak sunnah yang diwariskannya?

    Sejarah berbicara, semakin panjang umur generasi umatnya, semakin menjauh pula generasi itu dari risalahnya. Umatnya saat ini, cenderung mencemooh segelintir mukmin yang masih menghidupkan sunnah. Buku-buku sunnah mulai terpinggirkan. Kitab Bukhari-Muslim harus bersaing dengan textbook dan diktat yang lebih menjanjikan keahlian dan masa depan. Serial sirah nabawiyah hampir menghilang dari tumpukan handbook dan ensiklopedia yang biasanya menjadi asksesoris di ruang tamu keluarga muslim.

    Aspek sunnah dalam ber-penampilan dan berpakaian, ramai dikritisi dengan alasan tidak praktis. Contoh dari Rasul dalam keseharian, pun semakin dihindari. Sunnah dianggap simbol yang sifatnya tentatif, bukan sebagai panduan kehidupan (minhaaj al-hayaah).

    Apatah lagi aspek syar'i. Begitu banyak argumen yang dihembuskan sebagai 'pembenaran' untuk berkelit dan menghindari aspek syar'i dari sunnah. Wabah 'ingkar sunnah' ini mulai terjangkit dalam komunitas yang mengaku sebagai pengikutnya.

    Keutamaan ber-shalawat kepada nabi pun nyaris terlupakan. Padahal Rasul berjanji untuk menghadiahkan syafaat bagi umatnya. “Setiap nabi memiliki doa yang selalu diucapkan. Aku ingin menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari kiamat” (HR Muslim).

    Jurang antara umat dengan warisan risalah Nabinya ini tentu merugikan. Kecemerlangan pribadi Rasul nyaris tak dikenali umatnya. Padahal, dalam pribadinya ada teladan yang sempurna. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (Al-Ahzab (33): 21).

    Merujuk kepada sunnah yang diwariskan Rasulullah adalah ungkapan kecintaan kepadanya. Cinta pada Rasul yang lahir dari keimanan kepada Allah. “Katakanlah jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Ali Imran (3): 31).

    Mencintai manusia mulia itu, berarti meneladani sirah nabawiyah sebagai panduan dalam mengarungi kehidupan. Kecintaan yang akan meluruskan langkah kita untuk ittibaa' (mengikuti) dan mewarisi komitmen untuk menyampaikan risalah kepada masyarakat.

    Nabi Muhammad SAW pernah bersabda, “Seorang hamba tidak beriman sebelum aku lebih dicintainya dari keluarganya, hartanya dan semua orang.” (HR Muslim)

    Omurazza-Delft, Rabiul Awwal, 1425 H

    Sumber : eramuslim.com
    Publikasi: 03/05/2004 16:46 WIB


    Thursday, May 13, 2004

    Kata-Kata Kasar

    Saya menabrak seorang yang tidak dikenal ketika ia lewat. "Oh, maafkan saya" adalah reaksi saya. Ia berkata, "Maafkan saya juga; Saya tidak melihat Anda." Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan. Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kitamemperlakukan orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda. Pada hari itu juga, saat saya tengah memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di samping saya. Ketika saya berbalik, hampir saja saya membuatnya jatuh. "Minggir," kata saya dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur.Saya tidak menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya. Ketika saya berbaring di tempat tidur, dengan halus Tuhan berbicara padaku, "Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal,etika kesopanan kamu gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan dengan sewenang-wenang. Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan beberapa kuntum bunga dekat pintu." "Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda, kuning dan biru.Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu." Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes.Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat tidurnya, "Bangun, nak, bangun," kataku "Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?" Ia tersenyum, " Aku menemukannya jatuh dari pohon. " "Aku mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu.Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru." Aku berkata, "Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; Ibu seharusnya tidak membentakmu seperti tadi." Si kecilku berkata, "Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu." Aku pun membalas,"Anakku, aku mencintaimu juga, dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru."

    Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok, perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari? Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan kehilangan selama sisa hidup mereka. Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita ketimbang keluarga kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang bijaksana, bukan? Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas? Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA?
    Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY. FAMILY = (F)ATHER (A)ND (M)OTHER, (I), (L)OVE, (Y)OU

    Diterjemahkan dari : HARSH WORDS


    Wednesday, May 12, 2004

    Kisah Ma'iz dan Kekasihnya

    Oleh: Muh. Khairuddin Rendusara

    Ma`iz bin Malik datang menemui Rasulullah saw. seraya berkata: "Ya Rasulullah, bersihkanlah saya dari dosa yang telah saya lakukan.” Rasulullah saw. menjawab: “Celaka engkau ! Pulanglah !, Mintalah ampun kepada Allah swt. dan bertaubatlah kepada-Nya !. Ma`iz lalu berpaling, tapi tidak berapa jauh dari tempat itu, ia kembali lagi menghadap Rasulullah saw. dan berkata lagi: “Ya, Rasulullah. sucikanlah diri saya dari dosa yang telah saya lakukan.”


    Nabi saw. berkata seperti sebelumnya, sampai terulang kejadian semacam itu tiga kali. Dan ketika untuk keempat kalinya Ma`iz menghadapnya dan mengulangi perkataannya itu, maka Rasulpun akhirnya bertanya kepadanya: "Dalam perkara apa?", ia menjawab: "Dari perbuatan zina". Kemudian Rasulullah saw bertanya kepada yang hadir ketika itu: “Apakah ia gila?”, dan salah seorang sahabat mengabari bahwa Ma`iz sama sekali tidak gila. “Apa ia mabuk khamar?” tanya Rasulullah saw. selanjutnya. Lalu salah seorang di antara para sahabat itu bangkit dan mencium nafas yang keluar dari mulutnya, namun ia sama sekali tidak mencium bau minuman keras disitu. Kemudian Rasulullah saw. mengintrogasinya: “Apa engkau telah berzina?”, Ma`iz menjawab: “Benar, ya Rasulullah.” Segera Rasulullah saw. memerintahkan kepada para sahabat untuk merajamnya. Pada saat itu, yang hadir terbagi menjadi dua kelompok, yaitu pihak yang tidak senang atas perbuatan zina dengan berpendapat: "Celakalah, ia telah terjerat oleh dosa-dosanya." Sedang pihak yang simpati atas pengakuan Ma`iz mengatakan: "Tidak ada taubat yang melebihi taubatnya Ma`iz." Akhirnya Ma`iz menghampiri Rasulullah saw, dan berjabat tangan dengannya. Kemudian ia berkata: "Lemparilah aku dengan batu-batu sampai aku mati." Ia dirajam dua atau tiga hari, kemudian datanglah Rasul sambil memberikan salam kepada para sahabat yang sedang duduk, kemudian beliau duduk. Rasulullah saw. berkata: “Mintalah ampunan kepada Allah swt. untuk Ma`iz bin Malik, sungguh ia telah benar-benar bertaubat kepada Allah swt., seandainya taubatnya itu kamu bagi-bagikan kepada satu ummat pasti akan mencukupinya.”

    Beberapa hari sesudah itu, tiba-tiba datang seorang wanita dari daerah Ghamid menghadap Rasulullah saw. seraya berkata: “Ya Rasulullah saw., sucikanlah diriku dari dosa-dosa yang telah aku lakukan.” Rasul menjawab: “Celakalah engkau, pulanglah!, mintalah ampun kepada Allah swt. dan bertaubatlah kepada-Nya!”. Namun wanita itu kemudian bertanya: “Apakah tuan akan mengulangi sikap tuan terhadap Ma`iz kemarin kepada saya?". "Ada apa dengan anda?" Rasul bertanya kepadanya. Sambil mengusap perutnya yang sedang hamil, wanita itu menjawab: "Kehamilanku ini adalah hasil dari perbuatan mesum yang aku lakukan bersama Ma`iz!". Dengan terkejut Rasûlullâh saw. berkata: “Jadi engkau adalah wanita yang dihamilinya?”. Wanita itu menjawab “Benar!”. Baiklah, tunggu sampai engkau melahirkan anak yang ada dalam perutmu ini.” (Diriwayatkan dari Buraidah)

    Buraidah selanjutnya berkata: “Kemudian wanita itupun dirawat oleh seorang Anshar sampai akhirnya ia melahirkan anaknya. Kemudian ia pun kembali mendatangi Rasulullah saw. dan berkata: “Aku telah melahirkan bayi dalam kandunganku”. Namun Rasulullah saw. menjawab: “Tetapi saya tidak akan merajamnya dengan meninggalkan bayinya tanpa seorangpun yang menyusuinya.” Saat itu tampillah seorang dari kaum Anshar seraya berkata: “Saya akan menanggung penyusuannya ya Nabiyullah.” Selanjutnya Buraidah berkata: “Kemudian dirajamnya wanita itu.” (H.R. Muslim, No.1695). Dalam riwayat An-Nasa`i, disebutkan bahwa Rasulullah saw memerintahkan menggali sebuah lubang dan mengubur wanita itu sampai ke dadanya, kemudian memerintahkan kepada kaum muslimin untuk merajamnya. Pada saat itu datanglah Khalid bin al-Walid dengan menggenggam sebuah batu dan melemparkannya kearah wanita itu, sehingga darahnya memercik mengenai wajah atau dahi Khalid. Melihat itu, Khalid pun menyumpahi wanita itu, dan Rasulullah saw.mendengar umpatan Khalid, dan memperingatinya: “Wahai Khalid, jangan engkau berkata demikian, demi Zat Yang jiwaku berada ditangan-Nya, Sungguh wanita ini telah melakukan taubat yang sebenar-benarnya, yang apabila taubatnya dibagikan kepada satu kaum pasti akan mencukupnya.” Setelah itu Rasulullah saw. memerintahkan mengangkat mayat wanita itu untuk dishalatkan dan dikuburkan. (H.R. An-Nasa`i, dalam As-Sunan Al-Kubra, No. 7197).

    Dari fakta historis Islam ini, kita dapat menangkap betapa tingginya kesadaran kaum muslimin terdahulu terhadap penarapan syariat Islam, kisah Ma`iz bin Malik dan kekasihnya merupakan salah satu dari banyak contoh tentang kesadaran dan semangat penerapan syariat Allah. Meski tidak ada seorang pun mengetahui perbuatan zina yang mereka lakukan, dan sekalipun terbuka berbagai kesempatan untuk terhindar dari jeratan hukum atas perbuatan mesum yang dilakukannya, namun mereka berdua menutup semua pintu dan celah itu bagi dirinya, bahkan sebaliknya ia mengakui segala kesalahannya dan memohon untuk diterapkan hukum pidana Islam atas dirinya. Ungkapan historis yang terlontar dari Ma`iz dan kekasihnya "Bersihkan diri saya, ya Rasulullah !", mencerminkan suatu kesadaran yang kuat, mengalahkan keinginan manusiawi mereka berdua untuk tetap survival (bertahan hidup) di dunia yang fana ini. Mereka berdua lebih senang memilih disucikan dari dosa melalui rajam terhadap perbuatan yang tidak diketahui oleh siapa pun selain Allah swt dan terbebas dari pengadilan akhirat, daripada menutup-nutupi kesalahan dirinya demi untuk tetap mempertahankan keinginan menikmati manisnya kehidupan dunia sambil bermohon ampunan kepada Allah atas kesalahannya, yang siapa tahu akan dapat diampuni-Nya juga tanpa melalui hukum rajam tersebut.

    Kekuatan kesadaran dan ketetapan hati yang mantap yang dimiliki Ma`iz dan kekasihnya, maupun para sahabat lainnya r.a tidak semata-mata muncul begitu saja melainkan lahir dari sebuah konsepsi yang sama di kalangan mereka mengenai wahyu Allah swt, sebuah konsepsi yang terpatri kuat dalam hati dan pikiran mereka, konsepsi yang ditanamkan oleh Rasulullah saw. melalui berbagai peperangan, dakwah, dan berbagai cobaan kehidupan dunia, dan dengan konsepsi ini mereka mampu menerapkan syariat Islam dan menciptakan keadilan, perluasan wilayah pembebasan dan menjaga stabilitas regional. Bahkan melalui konsepsi ini terbentuklah komunitas Muslim yang pertama secara unik (Q.S.3:110). Konsepsi itu adalah keharusan bagi mereka untuk menerima al-Qur`an dan melaksanakannya dalam kehidupan keseharian, baik yang berkaitan dengan segala urusan pribadi maupun dalam komunitas yang hidup bersamanya (Q.S. 285). Sikap mereka kepada al-Qur`an tak ubahnya bagaikan prajurit yang menerima “perintah harian” di lapangan, dengan segera melaksanakannya setelah mendengar perintah tersebut. Dari Ibnu Mas`ud r.a. berkata : “Dahulu kami, jika mempelajari 10 ayat kami tidak melaluinya sehingga kami mengerti maknanya dan mengimplementasikannya”. (Lihat “ Tafsir Al Qur`an Al `Azhim” oleh Imam Ibnu Katsir, dalam Muqaddimah At-Tafsir / 22).

    Konsepsi ini sangat berbeda dengan sistem kajian sebagian orang “Tokoh pembaharu Islam” dalam menela`ah al-Qur`an. Mereka tidak menghadap al-Qur`an untuk diimplementasikan melainkan hanya untuk mengkritisi, mengkoreksi bahkan merombak tatanan nilai di dalamnya. Kalau dulu para sahabat sebelum menghadap ke al-Qur`an membuang terlebih dahulu segala persepsi dan ketentuan pribadinya, untuk selanjutnya mengambil jawaban al-Qur`an atas segala pertanyaan yang bergejolak dalam diri mereka, sedang para “Tokoh pembaharu Islam” menghadap al-Qur`an dengan membawa persepsi dan ketentuan personal sebagai parameternya dalam menilai atau menafsirkan al-Qur`an untuk kemudian mencari dalil yang membenarkan apa yang telah ada dalam pemikiran dan benak mereka. Sehingga lebih mudahnya mereka menjadikan akal mereka sebagai timbangan terhadap wahyu. Maka wajar sekali apabila karya-karya mereka banyak mengandung kerancuan dan jauh dari semangat Qur`ani. Sampa-sampai seorang penafsir mengatakan bahwa nash al-Qur`an wajib ditakwilkan agar cocok dengan pemahaman akal !, suatu prinsip yang berbahaya mengingat wahyu dan akal bukanlah merupakan dua hal yang sepadan karena wahyu adalah pokok rujukan bagi akal, yang menimbang dan menguji kesimpulan serta meluruskan kekurangan dan penyimpangan akal. Sesungguhnya menerima otoritas wahyu tidaklah berarti mendepak akal, diantara keduanya tentu saja terdapat kesesuaian dan keserasian, namun akal bukanlah pemegang keputusan terakhir.

    Ringkasnya, menjadikan kitab Allah swt. sebagai sumber petunjuk satu-satunya dalam kehidupan dan mengembalikan segala masalah hanya kepada-Nya merupakan suatu keharusan oleh setiap diri kita. Kita sama-sama bersepakat bahwa dalam menanggulangi masalah kerusakan sebuah pesawat terbang, kita harus memanggil seorang insinyur yang membuat pesawat itu, dan kita sama-sama bersepakat bahwa seorang pilot yang akan mengoperasionalkan suatu pesawat terbang harus mengikuti buku petunjuk opersional pesawat yang dikeluarkan dari perusahaan yang memproduksinya. Tetapi mengapa kita tidak mau menerapkan prinsip ini dalam diri kita sendiri. Allah swt. lah yang menciptakan kita dan hanya petunjuk-Nya yang benar. Sedang kita mengetahui bahwa pegangan yang mantap dan pengarahan yang benar hanyalah:

    Katakanlah:"Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya)". (QS. 2:120)


    Sunday, May 09, 2004


    Hari ini aku dapat cerita indah ... Mungkin kita bisa memetik sedikit banyak hikmah di dalamnya ... sebuah cita-cita .. sebuah impian ... yang tidak mungkin tidak kita akan melewatinya dalam detik-detik kehidupan kita ... Subhanallah ...

    eramuslim - “De’… de’… Selamat Ulang Tahun…” bisik seraut wajah tampan tepat di hadapanku. “Hmm…” aku yang sedang lelap hanya memicingkan mata dan tidur kembali setelah menunggu sekian detik tak ada kata-kata lain yang terlontar dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di hadapanku.

    Shubuh ini usiaku dua puluh empat tahun. Ulang tahun pertama sejak pernikahan kami lima bulan yang lalu. Nothing special. Sejak bangun aku cuma diam, kecewa. Tak ada kado, tak ada black forest mini, tak ada setangkai mawar seperti mimpiku semalam. Malas aku beranjak ke kamar mandi. Shalat Subuh kami berdua seperti biasa. Setelah itu kuraih lengan suamiku, dan selalu ia mengecup kening, pipi, terakhir bibirku. Setelah itu diam. Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan apa-apa, padahal ini hari istimewaku. Orang yang aku harapkan akan memperlakukanku seperti putri hari ini cuma memandangku.

    Alat shalat kubereskan dan aku kembali berbaring di kasur tanpa dipanku. Memejamkan mata, menghibur diri, dan mengucapkan. Happy Birthday to Me… Happy Birthday to Me…. Bisik hatiku perih. Tiba-tiba aku terisak. Entah mengapa. Aku sedih di hari ulang tahunku. Kini aku sudah menikah. Terbayang bahwa diriku pantas mendapatkan lebih dari ini. Aku berhak punya suami yang mapan, yang bisa mengantarku ke mana-mana dengan kendaraan. Bisa membelikan blackforest, bisa membelikan aku gamis saat aku hamil begini, bisa mengajakku menginap di sebuah resor di malam dan hari ulang tahunku. Bukannya aku yang harus sering keluar uang untuk segala kebutuhan sehari-hari, karena memang penghasilanku lebih besar. Sampai kapan aku mesti bersabar, sementara itu bukanlah kewajibanku.

    “De… Ade kenapa?” tanya suamiku dengan nada bingung dan khawatir.

    Aku menggeleng dengan mata terpejam. Lalu membuka mata. Matanya tepat menancap di mataku. Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan warna merah jambu. Ada tatapan rasa bersalah dan malu di matanya. Sementara bungkusan itu enggan disodorkannya kepadaku.

    “Selamat ulang tahun ya De’…” bisiknya lirih. “Sebenernya aku mau bangunin kamu semalam, dan ngasih kado ini… tapi kamu capek banget ya? Ucapnya takut-takut.

    Aku mencoba tersenyum. Dia menyodorkan bungkusan manis merah jambu itu. Dari mana dia belajar membukus kado seperti ini? Batinku sedikit terhibur. Aku buka perlahan bungkusnya sambil menatap lekat matanya. Ada air yang menggenang.

    “Maaf ya de, aku cuma bisa ngasih ini. Nnnng… Nggak bagus ya de?” ucapnya terbata. Matanya dihujamkan ke lantai.

    Kubuka secarik kartu kecil putih manis dengan bunga pink dan ungu warna favoritku. Sebuah tas selempang abu-abu bergambar Mickey mengajakku tersenyum. Segala kesahku akan sedikitnya nafkah yang diberikannya menguap entah ke mana. Tiba-tiba aku malu, betapa tak bersyukurnya aku.

    “Jelek ya de’? Maaf ya de’… aku nggak bisa ngasih apa-apa…. Aku belum bisa nafkahin kamu sepenuhnya. Maafin aku ya de’…” desahnya.

    Aku tahu dia harus rela mengirit jatah makan siangnya untuk tas ini. Kupeluk dia dan tangisku meledak di pelukannya. Aku rasakan tetesan air matanya juga membasahi pundakku. Kuhadapkan wajahnya di hadapanku. Masih dalam tunduk, air matanya mengalir. Rabbi… mengapa sepicik itu pikiranku? Yang menilai sesuatu dari materi? Sementara besarnya karuniamu masih aku pertanyakan.

    “A’ lihat aku…,” pintaku padanya. Ia menatapku lekat. Aku melihat telaga bening di matanya. Sejuk dan menenteramkan. Aku tahu ia begitu menyayangi aku, tapi keterbatasan dirinya menyeret dayanya untuk membahagiakan aku. Tercekat aku menatap pancaran kasih dan ketulusan itu. “Tahu nggak… kamu ngasih aku banyaaaak banget,” bisikku di antara isakan. “Kamu ngasih aku seorang suami yang sayang sama istrinya, yang perhatian. Kamu ngasih aku kesempatan untuk meraih surga-Nya. Kamu ngasih aku dede’,” senyumku sambil mengelus perutku. “Kamu ngasih aku sebuah keluarga yang sayang sama aku, kamu ngasih aku mama....” bisikku dalam cekat.

    Terbayang wajah mama mertuaku yang perhatiannya setengah mati padaku, melebihi keluargaku sendiri. “Kamu yang selalu nelfon aku setiap jam istirahat, yang lain mana ada suaminya yang selalu telepon setiap siang,” isakku diselingi tawa. Ia tertawa kemudian tangisnya semakin kencang di pelukanku.

    Rabbana… mungkin Engkau belum memberikan kami karunia yang nampak dilihat mata, tapi rasa ini, dan rasa-rasa yang pernah aku alami bersama suamiku tak dapat aku samakan dengan mimpi-mimpiku akan sebuah rumah pribadi, kendaraan pribadi, jabatan suami yang oke, fasilitas-fasilitas. Harta yang hanya terasa dalam hitungan waktu dunia. Mengapa aku masih bertanya. Mengapa keberadaan dia di sisiku masih aku nafikan nilainya. Akan aku nilai apa ketulusannya atas apa saja yang ia berikan untukku? Hanya dengan keluhan? Teringat lagi puisi pemberiannya saat kami baru menikah… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana…

    To my luv, thank u 4 d best gift I ever have

    Al Birru
    emine_mm@maktoob.com