ENi6Ma

"Suatu waktu, mutiara di dalam genggaman, bergetar dan kemudian jatuh, pecah dan menjadi serpihan-serpihan kecil. Tapi dia adalah Mutiara, bagaimanapun dia tetap berkilau, dan sempurna sebagai intan permata. Bagaimanapun dia .. adalah mutiara harapanku."

This Real Me



Name : Jaka,-
Nicks : BLu3`Ais-
On Blog : Serpihan Mutiara
On IRC : #heartbeatstation
Age : 22
Work at : Internet Specs
Birthday : 4 March
Place : Jogja City
Mobile : +62817270xxx
ICQ : 122081318
YM ID : blue_indiego
fs : blueais@gmail.com

PreViOus

  • Hanya Atas Kehendak-Nya
  • PINDAHAN LOH...
  • Photobucket
  • Gimana Sih Rasanya Ketemu Presiden ?
  • Pergi Untuk Kembali...
  • Di Surga Kita Kan Bersua
  • "Menanti Sebuah Jawaban"
  • "Cinta Sejati"
  • Kehidupan Tidak Selalu Manis
  • "Don't be afraid my beloved, i'll be right here wi...


  • ArChieVe

  • November 2003
  • December 2003
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • August 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • October 2005

  • Links

    My Friendster BloG
    Situs Ku
    Berita Harian
    Koran Jogja
    Portal Jogja
    eMail Ku
    Cari Berita
    Koran Jateng
    Angkringan Ku
    Blog Aku
    Picture Perfect
    Pabrik Skin
    Hosting Ku

    Layout By "Yiling" Thanks Very Much

    Friends


    Said To Me

    Name :
    Web URL :
    Message :

    CreDits

    This page is powered by Blogger. Isn't yours?

    Powered by Blogbugs

    Komunitas Angkringan Jogjakarta

    Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com



    Site Meter

    Saturday, July 31, 2004

    Friendship vs. Love

    Friendship is a quiet walk in the park with the one you trust
    Love is when you feel like you are the only two around

    Friendship is when they gaze into your eyes and you know they care
    Love is when they gaze into your eyes and it warms your heart

    Friendship is being close even when you are far apart
    Love is when you can still feel their hand on your heart when they are not near

    Friendship is hoping that they experience the very best
    Love is when you bring them the very best

    Friendship occupies your mind
    Love occupies your soul

    Friendship is knowing that you will always try to be there when in need
    Love is when you will give up everything to be at their side

    Friendship is a warm smile in the winter
    Love is a warming touch that sends a pulse through your heart

    Love is a beautiful smile to which nothing compares
    A tender laugh, which opens your heart
    A single touch that melts away your fears
    A smell that reminds you of the tenderness of heaven
    A voice that reminds you of the innocence of youth

    Friendship can survive without love Love cannot live without friendship


    Friday, July 30, 2004

    Emas Olimpiade

    Pernah dengar nama Yudistira Virgus? Atau, Edbert Jarvis Sie? Atau, Ardiansyah? Andika Putra? Atau, Ali Sucipto? Kalau Anda menganggap nama-nama itu terasa asing di telinga, jangan berkecil hati. Maklumlah, mereka memang tidak cukup diekspos media massa. Jangankan tampang, nama mereka saja tidak hadir di halaman satu surat kabar, di halaman depan tabloid dan majalah, apalagi di prime time siaran televisi dan radio kita. Dibandingkan Veri, Kia, dan Mawar (tiga finalis AFI), misalnya, pemberitaan soal Yudistira dan kawan-kawan bisa dibilang 'cuma seujung kuku'.
    Padahal, prestasi mereka sangat membanggakan. Mereka berlima semua siswa SMA membawa Indonesia menempati peringkat lima besar dalam Olimpiade Fisika Internasional di Pohang, Korea Selatan, yang baru berakhir Kamis lalu. Dalam ajang prestisius yang diikuti 73 negara ini, Indonesia hanya berada di bawah Belarusia, Cina, Iran, dan Kanada. Negara-negara besar seperti AS, Jepang, atau Jerman dilibas. Yudistira merebut medali emas untuk kategori total ujian teori dan praktik (eksperimen), sementara keempat teman lainnya merebut medali perak dan perunggu. Tapi, begitulah Indonesia.


    Pencapaian dalam kemampuan menguasai atau mengembangkan ilmu pengetahuan tidak memperoleh perhatian besar. Remaja Indonesia, sejak kecil, diajarkan untuk justru mengagumi hal-hal tidak mendasar. Lihat saja bagaimana saat ini ribuan remaja Indonesia berduyun-duyun mengikuti berbagai ajang kompetisi adu tarik suara atau bahkan adu kecantikan. Impian 'menjadi bintang' terus dipompakan ke benak bangsa ini. Program seperti AFI dan semacamnya tidaklah buruk. Tapi, skalanya sudah menjadi begitu besar dan sama sekali tidak proporsional sehingga bisa menyesatkan rentang pilihan yang terbayang di benak bangsa ini.


    Indonesia adalah negara miskin dan terbelakang. Salah satu syarat utama untuk mengatasi ketertinggalan ini adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, negara ini membutuhkan penghibur (entertainer) dalam jumlah 'secukupnya' saja. Kita tentu perlu mensyukuri lahir dan tumbuhnya sebuah generasi muda yang cantik, gagah, pintar menari dan bernyanyi, atau berakting; namun kita memerlukan lebih banyak lagi orang pintar. Kepintaran rupanya memang tak dianggap punya daya tarik tinggi. Akibatnya, media massa tidak memberi tempat cukup bagi prestasi yang terkait dengan 'keunggulan otak'. Tanpa disengaja, media tidak mengondisikan masyarakat untuk menghargai 'kepintaran'.


    Bahkan, di siaran televisi, lazim kita melihat bagaimana kaum ilmuwan ditampilkan secara karikatural: sebagai profesor pikun beruban dan berkacamata tebal yang tidak punya kehidupan sosial. Pasokan sumber daya manusia unggul di negara ini dipinggirkan. Tentu saja bukan cuma media massa yang berkonstribusi. Kita misalnya juga tidak melihat upaya serius pemerintah untuk memelihara dan mengembangkan kualitas brainware ini. Yudistira dan kawan-kawan pun bisa saja akhirnya tidak akan dapat dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa ini karena mereka keburu digaet pihak asing.


    Yudistira misalnya dikabarkan sudah memperoleh beasiswa dari sebuah universitas teknologi di AS. Dikabarkan pula dua anggota tim Olimpiade Fisika sudah diterima Nanyang University of Singapura (NUS). Maklumlah, perguruan tinggi asing ini aktif mendekati para calon ilmuwan terbaik yang mereka dapati di ajang internasional, sembari mengiming-imingi beasiswa, jaminan hidup, dan bahkan jaminan kerja. Sementara Indonesia, hanya mengamati mereka dari jauh. Tidak pernah dengar nama Yudistira Virgus? Tidak apa-apa, kok. Ia cuma pemenang medali emas di Olimpiade Internasional!


    Sumber: Emas Fisika oleh Ade Armando - Republika, 24 Juli 2004



    Thursday, July 29, 2004

    The Eyes Of Heart

    Ada sayembara menarik di sebuah kerajaan. Menarik, karena pemenang akan dinikahkan dengan puteri raja. Tak ada persyaratan khusus. Siapa pun boleh daftar. Kecuali, mereka yang sudah menikah.
     
    Setelah berlalu tenggat akhir pendaftaran, seleksi pun dilakukan. Mulai dari kesehatan jasmani, ruhani, kelayakan usia, wawasan, keterampilan bela diri, dan tentu saja moralitas. Dari sekian kali seleksi, terpilihlah sepuluh pemuda. Seterusnya, mereka akan dipilih langsung oleh tuan puteri. Siapa diantara mereka yang berkenan di hati puteri.


    Didampingi raja dan penasihat istana, puteri diperkenankan melihat langsung proses akhir seleksi. Satu per satu mereka diminta memaparkan keadaan diri secara jujur. Mereka pun diminta memperlihatkan wawasan politik, kemasyarakatan, hukum, pertahanan negara, dan ruang lingkup kehidupan rumah tangga.
     
    Saat itulah, tuan puteri tampak bingung. Tak mudah menilai seseorang. Apalagi seorang yang akan menjadi pendampingnya seumur hidup. Dengan berat hati, ia bertanya pada salah seorang penasihat. "Guru, dengan cara apa saya menilai mereka. Semuanya tampan. Semuanya cerdas. Dan semuanya tampak jujur dan tegar."


    Sosok tua yang berada tak jauh dari tuan puteri itu pun tampak mengangguk pelan. Matanya tetap terpejam. Senyum segar menghias wajahnya. "Anakku, tataplah mereka dengan mata hatimu. Jangan terpedaya oleh mata di wajahmu. Niscaya, akan kau temui seorang pemuda yang layak untukmu."

    ***

    Saudaraku, dunia memang senantiasa tampil dengan penuh tipu daya. Jerat-jeratnya begitu halus. Hingga seseorang tak lagi sadar kalau mutu hidupnya dalam bayang-bayang fatamorgana dunia. Saat itulah, ia tak lagi mampu menilai: mana baik dan buruk.

    Hidup ini adalah memilih. Akan terbentang luas aneka pilihan. Setiap saat, di hampir semua sisi kehidupan: ideologi, politik, ekonomi, hingga persahabatan dan perjodohan, memilih menjadi sebuah keharusan. Walau, semuanya tampak manis dan menawan.

    Mata pada wajah kadang tak mampu menangkap busuk-busuk di antara pilihan itu. Bahkan, pancaran cahaya Allah yang begitu terang pun kadang sedikit pun tak terlihat olehnya. Semuanya samar dan gelap.

    Hanya mata hati yang mampu menangkap itu. Hanya mata hati yang mampu memilah dan memilih: mana yang baik dan mana yang busuk; mana jalan lurus dan mana jebakan. Maha Benar Allah dengan Firman-Nya, "...Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada." (QS. 22: 46).



    Wednesday, July 28, 2004

    Kekayaan, Kesuksesan & Kasih Sayang

    Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah, dan ia melihat ada 3 orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua.
    Wanita itu berkata: "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut". Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang?" Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar". "Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali", kata pria itu.


    Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini". Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam.
    "Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama sama", kata pria itu hampir bersamaan. "Lho, kenapa? tanya wanita itu karena merasa heran. Salah seseorang pria itu berkata, "Nama dia Kekayaan," katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, "sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Kasih Sayang. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu."


    Wanita itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran. "Ohho... menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan."
    Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, "Sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita."


    Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Kasih Sayang yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih Sayang."
    Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajak masuk si Kasih Sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih Sayang menjadi teman santap malam kita." Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 pria itu. "Siapa diantara Anda yang bernama Kasih Sayang? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini."


    Si Kasih Sayang bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. Ohho.. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan. "Aku hanya mengundang si Kasih Sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?" Kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. "Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Kasih Sayang, maka kemana pun Kasih Sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Kasih Sayang, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta.

    Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si Kasih Sayang yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini."


    Monday, July 26, 2004

    Semoga ...

    Apapun Yang Telah dan Akan Terjadi ...
    Semoga ...
    Kita selalu bersama...
    Selamanya ...

    Allah Maha Tahu ...

    Amin-


    Sunday, July 25, 2004


    Eh! Pengin tahu nursery school yang paling bagus kualitasnya nggak? Cari mereka yang hanya menampung tidak lebih dari 10 anak-anak balita, agar lebih mudah pengawasannya, dan lebih efektif bimbingannya. Itu bagi orang tua yang mau menyekolahkan anak-anak mereka yang berumur di bawah lima tahun.

    Bagaimana dengan para guru taman kanak-kanak yang juga pengin mengajar di nursery school yang balitanya tidak nakal? Jawabnya, cari saja anak-anak Arab. Lho, koq Arab? Lha kalau bukan Arab, siapa lagi? Lihat aja, ada lebih dari dua puluh negara Arab yang ada sekarang ini, para pemimpin negara-negara tersebut tetap saja diam membisu sekalipun saudaranya dibantai oleh musuh! Anak-anak Arab pasti jauh lebih membisu daripada para pemimpinnya kan? Sebulan lalu Sheikh Ahmad Yasin dirudal oleh Israel, kemudian tiga minggu berikut, penggantinya Dr.Abdelaziz Al Rantissi dilenyapkan pula di Gaza City. Apa yang mereka perbuat?

    “Rantissi terbunuh !” kata teman sekerjaku, esok hari sesudah Al Rantissi, dokter ahli anak ini terbunuh oleh pasukan jagal manusia, Ariel Sharon. Aku membisu! Sebisu para pemimpin besar di negara-negara kaya Arab sana. Aku masih ingat betul ketika beberapa jam sesudah pepimpin Hamas sebelumnya, Sheikh Ahmad Yasin diberondong tiga rudal dari sebuah Apache sesaat sesudah beliau Sholat Fajar, Al Rantissi sempat mengumandangkan gelora semangat jihad kepada para pejuang Palestina. “We will fight them everywhere!” Ia begitu antusias mengajak para pemuda disana untuk merebut kemerdekaan tanah mereka yang terampas oleh Israel. “We will hunt them everywhere; we will srtike them everywhere!” sambutan beliau membakar semangat juang rakyat Palestina yang tidak mengenal bahkan apa itu artinya kematian.

    Sesaat sesudah Al Rantissi kembali ke Rahmatullah, Sharon, sang teroris sejati ini, mengadakan pertemuan dan memberikan pujian kepada para prajurit yang telah melaksanakan tugasnya dengan 'baik'. Mereka pikir bahwa dengan gugurnya para pemimpin Palestina satu-persatu akan gugur pula semangat juang rakyat Palestina, sebagaimana ayam kehilangan induknya. “Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup, namun kamu tidak menyadarinya” (Al Baqara: 154).

    “Do you think the assassination of the Hamas leaders will weaken the movement?” tanya Mohammad Yousef, seorang penulis asal Palestina yang tinggal di Gaza kepada seorang pejuang Palestina, Pimpinan Izz Al Din Al Qassam di Gaza Utara. “Pergerakan Hamas bergantung kepada Al Quran, bukannya sebuah ideologi yang diciptakan oleh seseorang. Kami bukanlah semacam orang-orang Marxists! Kami tidak akan punah dengan gugurnya para pendiri kami!”

    Sementara itu, Um Mohammad, istri Al Rantissi menyikapi kepergian suaminya sebagai 'pilihan' dari Allah SWT. “Dia dipilih oleh Allah SWT untuk mati syahid, bukannya dipilih oleh Sharon! Ini adalah suatu 'kehormatan' yang amat dinanti-nantikan beliau!” katanya. Anaknya, Mohammad Al Rantissi, 23 tahun, ketika ditanya bagaimana dia akan meneruskan perjuangan ini tanpa mendiang ayahnya, dia berkomentar, “Ayahku mengajarkan bagaimana menjadi seorang laki-laki, dan saya akan hidup sesuai dengan apa yang diharapkannya. Ada ribuan anak-anak Hamas secara umum yang akan melakukan sebagaimana yang saya lakukan sekarang. Mereka akan melanjutkan perjuangan Rantissi, perjuangan bagi semua rakyat Palestina!” Demikian diungkapkan oleh Mohammad Yousef untuk harian The Gulf News, 19 April 2004.

    Subhanallah! Tidakkah Israel mengetahui hal ini, bahwa tekad para pejuang muda Palestina semacam Mohammad Al Rantissi ini sudah tidak bisa dibendung lagi bahkan dengan berondongan senapan mesin, meriam atau dentuman bom sekalipun? Tidakkah orang-orang Israel merasa bahwa semakin mereka tonjolkan sikap kekerasan dan kriminalitas ini, akan semakin gigih para pejuang Palestina ini untuk maju, membalas kematian kakak, adik, orangtua, kakek, nenek, bahkan teman-teman mereka?

    Orang-orang Israel nampaknya belum sadar, bahwa Surat Al Baqarah: 154 lah yang mendasari semangat juang umat Islam Palestina sebagai jalan menuju jannah. Berjuang melawan keangkuhan penjajah adalah bagian dari perjalanan menuju kehidupan yang lebih menjanjikan. Bagi mereka ada dua pilihan, antara hidup terus dengan status merdeka, atau mati dan bertemu surga. Sementara tentara Israel yang mana yang ingin mati sia-sia? Kehidupan mereka penuh dengan ketakutan. Sharon yang sedang tertawa ria, berpesta pora menikmati 'kemenangan' sesaat ini, pada waktu yang sama tidak sadar bahwa mereka sedang menempuh perjalanan panjang menuju penderitaan yang tidak lebih adalah neraka.

    Neraka? Ya! Karena Sharon dan semua sahabat, pendukung, prajuritnya, juga sanak keluarganya tidak bisa tinggal diam di rumah-rumah, sekolah, kantor-kantor hingga supermarket. Mereka akan selalu dihantui oleh satu perasaan yang amat mencemaskan: bom maut! Bom-bom yang akan ditalikan oleh para pejuang muda Palestina pada perut, diikatkan pada jubah, jaket, ransel hingga mobil. Semuanya bak teror. Pejuang Hamas memilih mati dengan cara demikian adalah lebih mulia daripada hidup dalam cengkeraman orang lain. Khaled Meshaal, tokoh utama Hamas, mengemukakan akan melancarkan beribu cara guna merealisasikan mimpi buruk bagi Sharon dan Israel.

    Menurut Los Angeles Times, Dr. Abdelaziz Al Rantissi lahir di Yebna, 23 Oktober, 1947, sebuah desa di bagian utara Gaza, yang menjadi bagian dari pendudukan Israel setahun kemudian. Ketika negara Israel terbentuk, keluarga Al Rantissi menjadi pengungsi dan pindah ke Gaza Strip. Dr. Rantissi beserta 11 kakak-kakaknya menetap dan tinggal di deaerah Camp penampungan Gaza, di daerah yang disebut Khan Yunis. Al Rantissi meneruskan pendidikan kedokteran di Alexandria, Mesir pada tahun 1965. Ia balik ke Khan Yunis enam tahun kemudian dan terlibat dalam percaturan politik yang pada kemudian hari dimasukkan namanya oleh Pemerintah Israel dan buku Daftar Hitam, one of the most dangerous persons. Bersama-sama Sheikh Ahmad Yasin, Al Rantissi menjadi salah satu pendiri Hamas. Di kalangan Hamas, dia lebih dikenal sebagai penggerak intelektual dan strategist, yang 'cool' namun 'calculating'.

    Siapa lagi yang akan menjadi sasaran pembunuhan Sharon berikutnya? Banyak orang bertanda-tanya. Khaleed Meshaal, figur utama dalam tubuh Hamas yang sekarang tinggal di Damaskus disebut-sebut sebagai oarng yang bakal menggantikan posisi Dr.Al Rantissi. Meshaal dikenal sebagai orang dari kelompok garis keras yang memilih solusi militer dalam konflik Israel-Palestina ini. Gulf News hari ini (19 April 2004) memuat pernyataan Gideon Ezra, Menteri Kabinet Sharon bahwa Meshaal adalah giliran berikutnya menyusul pembunuhan Al Rantissi.
     
    Takutkah Meshaal? Koran berbahasa Arab Al Hayat pada hari Rabu lalu di London mengungkapkan pernyataan pria 48 tahun kelahiran West Bank ini, bahwa hamas akan membalas 'an eye for an eye'! Hamas akan lakukan 100 unique serangan terhadap Israel!
    Apa yang telah terjadi pada Al Rantissi memang tidak jauh dari apa yang pernah dikatakannya bahwa George Bush adalah musuh Arab dan kaum Muslimin. Rantissi tidak perlu menunggu terlalu lama untuk membuktikannya. Menurut Eyad Elsarraj, Chairman of Gaza Community Mental Health Program, dalam artikel khususnya buat Gulf News, hal itu sudah terbukti dengan dibunuhnya Al Rantissi sendiri dengan senapan mesin buatan Amerika Serikat.


    Rakyat Amerika telah dibodohi oleh George Bush, memanfaatkan hasil pengumpulan pajak rakyat, menciptakan mesiu-mesiu dan dimanfaatkannya untuk membunuh Rantassi dan rakyat Palestina. Sistem pemerintahan Amerika tidak mampu menghentikan pengiriman buldozer, helikopter Apache serta F16 ke Israel, meskipun mereka tahu bahwa ketiga 'komoditi' tersebut digunakan untuk membunuh, dengan mengabaikan hukum internasional.

    Bilamana sejumlah resolusi diisukan oleh Dewan Keamanan terhadap pendudukan Israel beserta tindakan kriminalitasnya di bumi Palestina, rejim Amerika tidak akan mengirim pasukan untuk menghentikan tindakan tersebut. Tidak pula mengancam Israel sebagai tindakan yang bertentangan dengan kemanusiaan. Sebaliknya, Amerika semakin memberikan dorongan terhadap perlakuan Israel, rejim Zionis yang pada hakekatnya semakin menebarkan rasa kebencian, ekstrimisme dan horor. Apa yang dilakukan Amerika tidak jauh berbeda dengan sikap Pemerintah Inggris lebih dari seratus tahun lalu ketika akan merencanakan pendirian negara Yahudi di Palestina.

    Sebaliknya, puluhan tetangga Palestina (baca: saudara-saudara) negara-negara Arab tetap diam menyusul pembunuhan tokoh-tokoh Hamas yang beruntun. Kediaman ini seolah-seolah menjadikan semacam legitimasi bagi Israel untuk melancarkan segala operasinya tanpa hambatan. Diam bisa diartikan 'ya'. Jadi apa yang perlu dikhawatirkan?

    Tiga ratus juta lebih orang Arab telah dibuat 'malu'. Rakyat Palestina membutuhkan sikap nyata, bukan pernyataan-pernyataan yang identik dengan 'omong kosong'. Pernah seorang palestina suatu saat berteriak kepada 'tetangga' ini: “Beri kami senjata! Antum tidak perlu datang ke bumi Palestina, biar kami bisa melawan kebengisan Israel!”.

    Benar, rakyat Palestina lebih memahami dan menguasai wilayahnya sendiri. Tanpa bantuan tentara dari luar yang nyaris 'impossible', mereka sebenarnya bisa membalas kekejaman Israel, asalkan dilengkapi senjata yang memadai, bukannya batu-batu kerikil atau 'ketepil' yang nyaris tidak ada apa-apanya dihadapan F16 dan meriam AS. Dimana saudara-saudaramu ya Palestina?

    Dibunuhnya Al Rantissi semakin membuat kita bisa meramalkan bahwa perdamaian antara Palestina-Israel semakin jauh dari yang diharapkan. Terbunuhnya pemimpin-pemimpin Palestina semakin jelas bahwa ada kepentingan AS tertentu di Timur Tengah. Menurut Eyad Elsarraj, AS khawatir jika Palestina merdeka dan demokrasi diterapkan disana, AS akan kehilangan peranan di Arab, setidaknya dominasi mereka akan minyak akan luntur.

    Bagaimanapun, dibalik kematian Sheikh Ahmad Yasin dan Al Rantissi ini ada satu yang pasti: Israel tidak lagi menunjukan minat untuk damai. Naluri hewani Sharon telah membuatnya lupa, bahwa meningkatkan kebrutalannya terhadap rakyat Palestina berarti semakin memperpanjang resistensi pejuang Palestina yang menciptakan ketakutan dan derita luar biasa. Inikah 'surga' yang engkau dambakan wahai Israel?

    Syaiful Hardi, eramuslim.com



    Kesulitan, Jalan Kemudahan

    Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu selalu ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah : 5).
     
    Harapan, itulah sesungguhnya yang menggerakkan manusia untuk menjalani hari-harinya. Dengan harapan, seseorang akan berani melalui segala kesulitan dan pengorbanan yang harus ditempuhnya pada saat ini, sebab ia menatap masa depan yang lebih baik. Harapan pula, yang membuat seseorang akan dapat bertahan dan menambah kesabaran dalam segala suatu yang saat ini dirasakannya sulit dan berat. Semakin besar harapan yang dilihatnya, semakin kokohlah langkah-langkahnya, semakin tinggi pula batas kesabaran yang dimilikinya.

    Itulah sunnatullah! Tidak ada kemenangan tanpa perjuangan. Kemudahan dan kebahagiaan itu didahului oleh usaha dan pengorbanan. Jalan ini, telah ditempuh oleh manusia-manusia terdahulu, ditempuh para Nabi, dijalani oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya, dan oleh generasi shalihin setelahnya. Jalan itu, pun masih terbentang dihadapan kita. Jalan untuk meraih kesuksesan, untuk meraih kebahagiaan, tidak bisa dilalui hanya dengan angan-angan, do'a tanpa ikhtiar, harapan tanpa perjuangan.

    Karena itulah, Allah SWT menegaskan, dibalik semua kesulitan dan penderitaan yang dialami, ada kemudahan dan kemenangan. Lihatlah pada harapan yang ada diujung perjuangan, maka usaha dan perjuangan itu akan terasakan nikmat.

    Bagi seorang muslim, yang berpegang teguh dengan agama yang diyakininya, hidup yang dijalaninya adalah tangga menuju kebahagiaan dan kemenangan. Sepanjang jalan yang dilaluinya, ia merasakan kenikmatan dan kelapangan.
     
    Allah SWT telah memberinya harapan, dengan sebaik-baik harapan. Kewajiban bagi dirinya, hanyalah untuk senantiasa meluruskan niat dan menyempurnakan ikhtiar, selebihnya Allah-lah yang akan membalas semua itu, dengan sebaik-baik balasan… 

    [resonansi]




    Friday, July 23, 2004

    Best Dewa ...

    Aku Milikmu

    Terdengar lirih bisikanmu
    Diantara bayang-bayangmu
    Terucap kata cinta
    Yang dulu tersimpan
    Dan tak mau pergi

    Sekejap cinta terlahir
    Namun jadi sebuah cerita
    Yang tak mungkin terlupa
    Kuukir dihati
    Dan tak mau pergi

    Mungkinkah kumiliki
    Cinta seperti ini lagi
    Jangan biarkan aku
    Kehilangan dirimu

    Coba dengarkanlah sumpahku (Janji suci)
    Dari hati... aku cinta kamu
    Jangan dengar kata mereka
    Yang tak ingin kita satu
    Yakinkan aku milikmu...
    Aku milikmu...

    Jalinan cinta tulus suci
    Terpadu terikat erat
    Jangan terpisah lagi
    Waktu 'kan menguji
    Cinta kita berdua

    best ... thanks for ... dewa ...



    Thursday, July 22, 2004

    10 Kualitas Pribadi yang Disukai

    1. Ketulusan menempati peringkat pertama sebagai sifat yang paling disukaioleh semua orang. Ketulusan membuat orang lain merasa aman dan dihargaikarena yakin tidak akan dibodohi atau dibohongi.Orang yang tulus selalu mengatakan kebenaran, tidak sukamengada-ada,pura-pura, mencari-cari alasan atau memutarbalikkan fakta.Prinsipnya "Ya diatas Ya dan Tidak diatas Tidak". Tentu akan lebih idealbila ketulusan yang selembut merpati itu diimbangi dengan kecerdikan seekorular. Dengan begitu, ketulusan tidak menjadi keluguan yang bisa merugikandiri sendiri.

    2. Berbeda dengan rendah diri yang merupakan kelemahan, kerendahan hatijustru mengungkapkan kekuatan. Hanya orang yang kuat jiwanya yang bisabersikap rendah hati. Ia seperti padi yang semakin berisi semakin menunduk.Orang yang rendah hati bisa mengakui dan menghargai keunggulan orang lain.Ia bisa membuat orang yang diatasnya merasa oke dan membuat orang yangdibawahnya tidak merasa minder.

    3. Kesetiaan sudah menjadi barang langka dan sangat tinggi harganya.Orang yang setia selalu bisa dipercaya dan diandalkan. Dia selalu menepatijanjinya, mempunyai komitmen yang kuat, rela berkorban dan tidak sukaberkhianat.

    4. Orang yang bersikap positif selalu berusaha melihat segala sesuatu darikacamata positif, bahkan dalam situasi yang buruk sekalipun. Dia lebih sukamembicarakan kebaikan daripada keburukan orang lain, lebih suka bicaramengenai harapan daripada keputusasaan, lebih suka mencari solusi daripadafrustasi, lebih suka memuji daripada mengecam, dsb.

    5. Karena tidak semua orang dikaruniai tempramen ceria, maka keceriaan tidakharus diartikan ekspresi wajah dan tubuh, tapi sikap hati. Orang yang ceriaadalah orang yang bisa menikmati hidup, tidak suka mengeluh dan selaluberusaha meraih kegembiraan. Dia bisa mentertawakan situasi, orang lain,juga dirinya sendiri. Dia punya potensi untuk menghibur dan mendorongsemangat orang lain.

    6. Orang yang bertanggung jawab akan melaksanakan kewajibannya dengansungguh-sungguh. Kalau melakukan kesalahan, dia berani mengakuinya.Ketika mengalami kegagalan, dia tidak akan mencari kambing hitam untukdisalahkan. Bahkan kalau dia merasa kecewa dan sakit hati, dia tidak akan menyalahkan siapapun. Dia menyadari bahwa dirinya sendirilah yang bertanggung jawab atas apapun yang dialami dan dirasakannya.

    7. Rasa percaya diri memungkinkan seseorang menerima dirinya sebagaimanaadanya, menghargai dirinya dan menghargai orang lain. Orang yang percayadiri mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan situasi yang baru.Dia tahu apa yang harus dilakukannya dan melakukannya dengan baik.

    8. Kebesaran jiwa dapat dilihat dari kemampuan seseorang memaafkan oranglain. Orang yang berjiwa besar tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh rasabenci dan permusuhan. Ketika menghadapi masa-masa sukar dia tetap tegar,tidak membiarkan dirinya hanyut dalam kesedihan dan keputusasaan.

    9. Orang yang "Easy Going" menganggap hidup ini ringan. Dia tidak sukamembesar-besarkan masalah kecil. Bahkan berusaha mengecilkan masalah-masalahbesar. Dia tidak suka mengungkit masa lalu dan tidak mau khawatir denganmasa depan. Dia tidak mau pusing dan stress dengan masalah-masalah yang berada diluar kontrolnya.

    10. Empati adalah sifat yang sangat mengagumkan. Orang yang berempati bukansaja pendengar yang baik, tapi juga bisa menempatkan diri pada posisi oranglain. Ketika terjadi konflik dia selalu mencari jalan keluar terbaik bagi keduabelah pihak, tidak suka memaksakan pendapat dan kehendaknya sendiri. Diaselalu berusaha memahami dan mengerti orang lain.

    Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)



    Tuesday, July 20, 2004


    Di jaman Yunani kuno, Dr. Socrates, seorang terpelajar dan intelektual yang terkenal reputasinya karena memiliki pengetahuan yang sangat dijunjung tinggi.
    Suatu hari seseorang berjumpa dengan ahli filsafat terkemuka tersebut dan berkata," Tahukah anda apa yang baru saja saya dengar mengenai salah seorang teman anda?"

    "Tunggu sebentar," jawab Dr. Socrates. "Sebelum memberitahukan saya sesuatu, saya ingin anda melewati sebuah ujian kecil. Ujian tersebut dinamakan Ujian Saringan Tiga Kali Lipat."
    "Saringan tiga kali lipat?" tanya pria tersebut.
    "Betul," lanjut Dr. Socrates.
    "Sebelum anda mengatakan kepada saya mengenai teman saya, mungkin merupakan ide yang bagus untuk menyediakan waktu sejenak dan menyaring apa yang anda akan katakan. Itulah kenapa saya sebut sebagai Ujian Saringan Tiga Kali Lipat.

    Saringan yang pertama adalah KEBENARAN. Sudah pastikah anda bahwa apa yang anda akan katakan kepada saya adalah benar?"
    "Tidak," kata pria tersebut,"sesungguhnya saya baru saja mendengarnya dan ingin memberitahukannya kepada anda"
    "Baiklah," kata Socrates. " Jadi anda sungguh tidak tahu apakah hal itu benar atau tidak.

    Sekarang mari kita coba saringan kedua yaitu : KEBAIKAN
    Apakah yang akan anda katakan kepada saya mengenai teman saya adalah sesuatu yang baik ?"
    "Tidak, sebaliknya, mengenai hal yang buruk"
    "Jadi," lanjut Socrates, "anda ingin mengatakan kepada saya sesuatu yang buruk mengenai dia, tetapi anda tidak yakin kalau itu benar.

    Anda mungkin masih bisa lulus ujian selanjutnya, karena masih ada satu ujian lagi yang tersisa yaitu: KEGUNAAN
    Apakah apa yang anda ingin beritahukan kepada saya tentang teman saya tersebut akan berguna buat saya ?"
    "Tidak, sungguh tidak," jawab pria tersebut.
    "Kalau begitu," simpul Dr. Socrates,"jika apa yang anda ingin beritahukan kepada saya... tidak benar, tidak juga baik, bahkan tidak berguna untuk saya, kenapa ingin menceritakan kepada saya ?"
    _______________
    * Renungan:
    Sebuah panah yang telah melesat dari busurnya dan membunuh jiwa yang tak bersalah, dan kata-kata yang telah diucapkan yang menyakiti hati seseorang, keduanya tidak pernah bisa ditarik kembali. Jadi sebelum berbicara, silahkan gunakan Saringan Tiga Kali Lipat.
     
    sumber : web link


    Saturday, July 17, 2004

    engkau miliku, dan aku milikmu satu

    tepat pukul enol enol enol enol
    satu saat sebuah makna alam
    tengah malam
    sabtu hari
    tanggan tujuh belas
    bulan tujuh
    tahun dua ribu empat
    alam
    dan Tuhan
    sbagai saksi
     
    kita saling meng iya kan
    bahwa engkau
    adalah kekasihku
    dan aku
    adalah kekasihmu
     
    aku menyayangimu
    karena Allah
    dan cintailah aku
    karena Allah
     
    smoga
    kita satu
    utuh selamanya
     
    engkau milikku,
    dan aku milikmu
    satu
     
    Jogjakarta, 01.29, 17 Juli 2004


    Saturday, July 10, 2004

    Sweet Wish

    Ada saat-saat dalam hidup ketika kamu sangat merindukan seseorang sehingga ingin hati menjemputnya dari alam mimpi dan memeluknya dalam alam nyata.

    Semoga kamu memimpikan orang seperti itu.

    regards,


    Wednesday, July 07, 2004

    Aku Menangis ...

    Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali

    Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat
    terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning,
    dan punggung mereka menghadap ke langit.
    Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

    Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang
    mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya,
    Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku.
    Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat
    adikku dan aku berlutut di depan tembok,
    dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
    "Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku
    terpaku, terlalu takut untuk berbicara.
    Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi
    Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian
    berdua layak dipukul!"
    Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.
    Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan
    berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"

    Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku
    bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia
    terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.
    Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu
    bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah
    sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ...
    Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

    Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan
    kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata
    setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis
    meraung-raung.
    Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan
    berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

    Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki
    cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi
    insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah
    akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku
    berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

    Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia
    lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya
    diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah
    berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi
    bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan
    hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air
    matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"

    Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah
    dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah
    cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul
    adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu
    keparat lemahnya?
    Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan
    saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Dan begitu
    kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam
    uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang
    membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan
    sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang
    kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi
    meneruskan ke universitas.

    Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang,
    adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit
    kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan
    meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas
    tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."

    Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku,
    dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu,
    adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

    Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan
    uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di
    lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).
    Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku
    masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu
    di luar sana!"

    Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku
    berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor
    tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab,
    tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"

    Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku
    menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam
    kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."

    Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut
    berbentuk kupu-kupu.
    Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan,
    "Saya melihat semua gadis kota memakainya.
    Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."
    Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku
    menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.
    Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

    Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca
    jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana.
    Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.
    "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan
    rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang
    pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka
    pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."

    Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat
    mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku.
    Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.
    "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.
    "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di
    lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap
    waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..."
    Ditengah kalimat itu ia berhenti.
    Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata
    mengalir deras turun ke wajahku.
    Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

    Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali
    suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal
    bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau.
    Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun,
    mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku
    tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan
    menjaga ibu dan ayah di sini."

    Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan
    adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen
    pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.
    Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

    Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk
    memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik,
    dan masuk rumah sakit. Suamiku dan
    aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada
    kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer?
    Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti
    ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak
    mau mendengar kami sebelumnya?"

    Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela
    keputusannya. "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan
    saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu,
    berita seperti apa yang akan dikirimkan?"

    Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar
    kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga
    karena aku!"

    "Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam
    tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

    Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang
    gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara
    perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati
    dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

    Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah
    kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia
    berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan
    selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.
    Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku.
    Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia
    hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.
    Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang
    begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu,
    saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan
    baik kepadanya."

    Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu
    memalingkan perhatiannya kepadaku.

    Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku,
    "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan
    dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan
    perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

    Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six times"


    Tuesday, July 06, 2004

    cayaha kehidupan ...

    dengan langkah gontai
    kuberjalan menuju taman
    di sana di bangku di samping pohon rindang
    aku merebahkan badan lelah ini
    ku tengadakahkan muka ke arah langit malam
    langit yang penuh bintang-bintang
    dan di sana ...
    di sela-sela pohon besar itu
    kulihat temaram rembulan separuh warna jingga
    indah ...
    ku termenung ...
    apa sesungguhnya
    makna kehidupan ini
    dalam diam
    kucari
    kusibak rimbun hutan kehidupan
    kuselusuh rimba dunia
    kucurah lautan

    dan di sana aku lihat
    pancaran cahaya kehidupan
    kutemukan makna
    ku mendekat
    ku serap cahaya itu
    ku simpan

    sejuk ...

    ku terhenyak
    kemudian ku berjalan pulang
    aku masih menelusuri
    kehidupan ini
    bersama cahaya yang telah kutemukan

    taman
    aku akan kembali lagi

    Jogjakarta, -