ENi6Ma

"Suatu waktu, mutiara di dalam genggaman, bergetar dan kemudian jatuh, pecah dan menjadi serpihan-serpihan kecil. Tapi dia adalah Mutiara, bagaimanapun dia tetap berkilau, dan sempurna sebagai intan permata. Bagaimanapun dia .. adalah mutiara harapanku."

This Real Me



Name : Jaka,-
Nicks : BLu3`Ais-
On Blog : Serpihan Mutiara
On IRC : #heartbeatstation
Age : 22
Work at : Internet Specs
Birthday : 4 March
Place : Jogja City
Mobile : +62817270xxx
ICQ : 122081318
YM ID : blue_indiego
fs : blueais@gmail.com

PreViOus

  • cayaha kehidupan ...
  • Install Cinta Kasih ...
  • Ketika Kumohon ...
  • Lucu Ya ...
  • Merindu Aku ...
  • Jika Waktu Itu Tiba...
  • Dialog Para Mujahid Kecil
  • Cinta dan Waktu ...
  • Kue dari Tuhan
  • Sekali Lagi .. Bolehkah Pacaran ???


  • ArChieVe

  • November 2003
  • December 2003
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • August 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • October 2005

  • Links

    My Friendster BloG
    Situs Ku
    Berita Harian
    Koran Jogja
    Portal Jogja
    eMail Ku
    Cari Berita
    Koran Jateng
    Angkringan Ku
    Blog Aku
    Picture Perfect
    Pabrik Skin
    Hosting Ku

    Layout By "Yiling" Thanks Very Much

    Friends


    Said To Me

    Name :
    Web URL :
    Message :

    CreDits

    This page is powered by Blogger. Isn't yours?

    Powered by Blogbugs

    Komunitas Angkringan Jogjakarta

    Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com



    Site Meter

    Wednesday, July 07, 2004

    Aku Menangis ...

    Aku Menangis untuk Adikku 6 Kali

    Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat
    terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning,
    dan punggung mereka menghadap ke langit.
    Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

    Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang
    mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya,
    Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku.
    Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat
    adikku dan aku berlutut di depan tembok,
    dengan sebuah tongkat bambu di tangannya.
    "Siapa yang mencuri uang itu?" Beliau bertanya. Aku
    terpaku, terlalu takut untuk berbicara.
    Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi
    Beliau mengatakan, "Baiklah, kalau begitu, kalian
    berdua layak dipukul!"
    Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi.
    Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan
    berkata, "Ayah, aku yang melakukannya!"

    Tongkat panjang itu menghantam punggung adikku
    bertubi-tubi. Ayah begitu marahnya sehingga ia
    terus menerus mencambukinya sampai Beliau kehabisan nafas.
    Sesudahnya, Beliau duduk di atas ranjang batu
    bata kami dan memarahi, "Kamu sudah belajar mencuri dari rumah
    sekarang, hal memalukan apa lagi yang akan kamu lakukan di masa mendatang? ...
    Kamu layak dipukul sampai mati! Kamu pencuri tidak tahu malu!"

    Malam itu, ibu dan aku memeluk adikku dalam pelukan
    kami. Tubuhnya penuh dengan luka, tetapi ia tidak menitikkan air mata
    setetes pun. Di pertengahan malam itu, saya tiba-tiba mulai menangis
    meraung-raung.
    Adikku menutup mulutku dengan tangan kecilnya dan
    berkata, "Kak, jangan menangis lagi sekarang. Semuanya sudah terjadi."

    Aku masih selalu membenci diriku karena tidak memiliki
    cukup keberanian untuk maju mengaku. Bertahun-tahun telah lewat, tapi
    insiden tersebut masih kelihatan seperti baru kemarin. Aku tidak pernah
    akan lupa tampang adikku ketika ia melindungiku. Waktu itu, adikku
    berusia 8 tahun. Aku berusia 11.

    Ketika adikku berada pada tahun terakhirnya di SMP, ia
    lulus untuk masuk ke SMA di pusat kabupaten. Pada saat yang sama, saya
    diterima untuk masuk ke sebuah universitas propinsi. Malam itu, ayah
    berjongkok di halaman, menghisap rokok tembakaunya, bungkus demi
    bungkus. Saya mendengarnya memberengut, "Kedua anak kita memberikan
    hasil yang begitu baik...hasil yang begitu baik..." Ibu mengusap air
    matanya yang mengalir dan menghela nafas, "Apa gunanya? Bagaimana mungkin kita bisa membiayai keduanya sekaligus?"

    Saat itu juga, adikku berjalan keluar ke hadapan ayah
    dan berkata, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, telah
    cukup membaca banyak buku." Ayah mengayunkan tangannya dan memukul
    adikku pada wajahnya. "Mengapa kau mempunyai jiwa yang begitu
    keparat lemahnya?
    Bahkan jika berarti saya mesti mengemis di jalanan
    saya akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai!" Dan begitu
    kemudian ia mengetuk setiap rumah di dusun itu untuk meminjam
    uang. Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang
    membengkak, dan berkata, "Seorang anak laki-laki harus meneruskan
    sekolahnya; kalau tidak ia tidak akan pernah meninggalkan jurang
    kemiskinan ini." Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi
    meneruskan ke universitas.

    Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang,
    adikku meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh dan sedikit
    kacang yang sudah mengering. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan
    meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas
    tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."

    Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku,
    dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang. Tahun itu,
    adikku berusia 17 tahun. Aku 20.

    Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan
    uang yang adikku hasilkan dari mengangkut semen pada punggungnya di
    lokasi konstruksi, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).
    Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku
    masuk dan memberitahukan, "Ada seorang penduduk dusun menunggumu
    di luar sana!"

    Mengapa ada seorang penduduk dusun mencariku? Aku
    berjalan keluar, dan melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor
    tertutup debu semen dan pasir. Aku menanyakannya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?" Dia menjawab,
    tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"

    Aku merasa terenyuh, dan air mata memenuhi mataku. Aku
    menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam
    kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."

    Dari sakunya, ia mengeluarkan sebuah jepit rambut
    berbentuk kupu-kupu.
    Ia memakaikannya kepadaku, dan terus menjelaskan,
    "Saya melihat semua gadis kota memakainya.
    Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."
    Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku
    menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.
    Tahun itu, ia berusia 20. Aku 23.

    Kali pertama aku membawa pacarku ke rumah, kaca
    jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana.
    Setelah pacarku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.
    "Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan
    rumah kita!" Tetapi katanya, sambil tersenyum, "Itu adalah adikmu yang
    pulang awal untuk membersihkan rumah ini. Tidakkah kamu melihat luka
    pada tangannya? Ia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."

    Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat
    mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku.
    Aku mengoleskan sedikit saleb pada lukanya dan mebalut lukanya.
    "Apakah itu sakit?" Aku menanyakannya.
    "Tidak, tidak sakit. Kamu tahu, ketika saya bekerja di
    lokasi konstruksi, batu-batu berjatuhan pada kakiku setiap
    waktu. Bahkan itu tidak menghentikanku bekerja dan..."
    Ditengah kalimat itu ia berhenti.
    Aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata
    mengalir deras turun ke wajahku.
    Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26.

    Ketika aku menikah, aku tinggal di kota. Banyak kali
    suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal
    bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau.
    Mereka mengatakan, sekali meninggalkan dusun,
    mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa. Adikku
    tidak setuju juga, mengatakan, "Kak, jagalah mertuamu aja. Saya akan
    menjaga ibu dan ayah di sini."

    Suamiku menjadi direktur pabriknya. Kami menginginkan
    adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departemen
    pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut.
    Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

    Suatu hari, adikku diatas sebuah tangga untuk
    memperbaiki sebuah kabel, ketika ia mendapat sengatan listrik,
    dan masuk rumah sakit. Suamiku dan
    aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada
    kakinya, saya menggerutu, "Mengapa kamu menolak menjadi manajer?
    Manajer tidak akan pernah harus melakukan sesuatu yang berbahaya seperti
    ini. Lihat kamu sekarang, luka yang begitu serius. Mengapa kamu tidak
    mau mendengar kami sebelumnya?"

    Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia membela
    keputusannya. "Pikirkan kakak ipar--ia baru saja jadi direktur, dan
    saya hampir tidak berpendidikan. Jika saya menjadi manajer seperti itu,
    berita seperti apa yang akan dikirimkan?"

    Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar
    kata-kataku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga
    karena aku!"

    "Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam
    tanganku. Tahun itu, ia berusia 26 dan aku 29.

    Adikku kemudian berusia 30 ketika ia menikahi seorang
    gadis petani dari dusun itu. Dalam acara pernikahannya, pembawa acara
    perayaan itu bertanya kepadanya, "Siapa yang paling kamu hormati
    dan kasihi?" Tanpa bahkan berpikir ia menjawab, "Kakakku."

    Ia melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah
    kisah yang bahkan tidak dapat kuingat. "Ketika saya pergi sekolah SD, ia
    berada pada dusun yang berbeda. Setiap hari kakakku dan saya berjalan
    selama dua jam untuk pergi ke sekolah dan pulang ke rumah.
    Suatu hari, Saya kehilangan satu dari sarung tanganku.
    Kakakku memberikan satu dari kepunyaannya. Ia
    hanya memakai satu saja dan berjalan sejauh itu.
    Ketika kami tiba di rumah, tangannya begitu gemetaran karena cuaca yang
    begitu dingin sampai ia tidak dapat memegang sumpitnya. Sejak hari itu,
    saya bersumpah, selama saya masih hidup, saya akan menjaga kakakku dan
    baik kepadanya."

    Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu
    memalingkan perhatiannya kepadaku.

    Kata-kata begitu susah kuucapkan keluar bibirku,
    "Dalam hidupku, orang yang paling aku berterima kasih adalah adikku." Dan
    dalam kesempatan yang paling berbahagia ini, di depan kerumunan
    perayaan ini, air mata bercucuran turun dari wajahku seperti sungai.

    Diterjemahkan dari : "I cried for my brother six times"