ENi6Ma

"Suatu waktu, mutiara di dalam genggaman, bergetar dan kemudian jatuh, pecah dan menjadi serpihan-serpihan kecil. Tapi dia adalah Mutiara, bagaimanapun dia tetap berkilau, dan sempurna sebagai intan permata. Bagaimanapun dia .. adalah mutiara harapanku."

This Real Me



Name : Jaka,-
Nicks : BLu3`Ais-
On Blog : Serpihan Mutiara
On IRC : #heartbeatstation
Age : 22
Work at : Internet Specs
Birthday : 4 March
Place : Jogja City
Mobile : +62817270xxx
ICQ : 122081318
YM ID : blue_indiego
fs : blueais@gmail.com

PreViOus

  • The Eyes Of Heart
  • Kekayaan, Kesuksesan & Kasih Sayang
  • Semoga ...
  • Kematian Al-Rantisi
  • Kesulitan, Jalan Kemudahan
  • Best Dewa ...
  • 10 Kualitas Pribadi yang Disukai
  • Ujian Socrates
  • engkau miliku, dan aku milikmu satu
  • Sweet Wish


  • ArChieVe

  • November 2003
  • December 2003
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • August 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • October 2005

  • Links

    My Friendster BloG
    Situs Ku
    Berita Harian
    Koran Jogja
    Portal Jogja
    eMail Ku
    Cari Berita
    Koran Jateng
    Angkringan Ku
    Blog Aku
    Picture Perfect
    Pabrik Skin
    Hosting Ku

    Layout By "Yiling" Thanks Very Much

    Friends


    Said To Me

    Name :
    Web URL :
    Message :

    CreDits

    This page is powered by Blogger. Isn't yours?

    Powered by Blogbugs

    Komunitas Angkringan Jogjakarta

    Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com



    Site Meter

    Friday, July 30, 2004

    Emas Olimpiade

    Pernah dengar nama Yudistira Virgus? Atau, Edbert Jarvis Sie? Atau, Ardiansyah? Andika Putra? Atau, Ali Sucipto? Kalau Anda menganggap nama-nama itu terasa asing di telinga, jangan berkecil hati. Maklumlah, mereka memang tidak cukup diekspos media massa. Jangankan tampang, nama mereka saja tidak hadir di halaman satu surat kabar, di halaman depan tabloid dan majalah, apalagi di prime time siaran televisi dan radio kita. Dibandingkan Veri, Kia, dan Mawar (tiga finalis AFI), misalnya, pemberitaan soal Yudistira dan kawan-kawan bisa dibilang 'cuma seujung kuku'.
    Padahal, prestasi mereka sangat membanggakan. Mereka berlima semua siswa SMA membawa Indonesia menempati peringkat lima besar dalam Olimpiade Fisika Internasional di Pohang, Korea Selatan, yang baru berakhir Kamis lalu. Dalam ajang prestisius yang diikuti 73 negara ini, Indonesia hanya berada di bawah Belarusia, Cina, Iran, dan Kanada. Negara-negara besar seperti AS, Jepang, atau Jerman dilibas. Yudistira merebut medali emas untuk kategori total ujian teori dan praktik (eksperimen), sementara keempat teman lainnya merebut medali perak dan perunggu. Tapi, begitulah Indonesia.


    Pencapaian dalam kemampuan menguasai atau mengembangkan ilmu pengetahuan tidak memperoleh perhatian besar. Remaja Indonesia, sejak kecil, diajarkan untuk justru mengagumi hal-hal tidak mendasar. Lihat saja bagaimana saat ini ribuan remaja Indonesia berduyun-duyun mengikuti berbagai ajang kompetisi adu tarik suara atau bahkan adu kecantikan. Impian 'menjadi bintang' terus dipompakan ke benak bangsa ini. Program seperti AFI dan semacamnya tidaklah buruk. Tapi, skalanya sudah menjadi begitu besar dan sama sekali tidak proporsional sehingga bisa menyesatkan rentang pilihan yang terbayang di benak bangsa ini.


    Indonesia adalah negara miskin dan terbelakang. Salah satu syarat utama untuk mengatasi ketertinggalan ini adalah penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena itu, negara ini membutuhkan penghibur (entertainer) dalam jumlah 'secukupnya' saja. Kita tentu perlu mensyukuri lahir dan tumbuhnya sebuah generasi muda yang cantik, gagah, pintar menari dan bernyanyi, atau berakting; namun kita memerlukan lebih banyak lagi orang pintar. Kepintaran rupanya memang tak dianggap punya daya tarik tinggi. Akibatnya, media massa tidak memberi tempat cukup bagi prestasi yang terkait dengan 'keunggulan otak'. Tanpa disengaja, media tidak mengondisikan masyarakat untuk menghargai 'kepintaran'.


    Bahkan, di siaran televisi, lazim kita melihat bagaimana kaum ilmuwan ditampilkan secara karikatural: sebagai profesor pikun beruban dan berkacamata tebal yang tidak punya kehidupan sosial. Pasokan sumber daya manusia unggul di negara ini dipinggirkan. Tentu saja bukan cuma media massa yang berkonstribusi. Kita misalnya juga tidak melihat upaya serius pemerintah untuk memelihara dan mengembangkan kualitas brainware ini. Yudistira dan kawan-kawan pun bisa saja akhirnya tidak akan dapat dimanfaatkan untuk kemajuan bangsa ini karena mereka keburu digaet pihak asing.


    Yudistira misalnya dikabarkan sudah memperoleh beasiswa dari sebuah universitas teknologi di AS. Dikabarkan pula dua anggota tim Olimpiade Fisika sudah diterima Nanyang University of Singapura (NUS). Maklumlah, perguruan tinggi asing ini aktif mendekati para calon ilmuwan terbaik yang mereka dapati di ajang internasional, sembari mengiming-imingi beasiswa, jaminan hidup, dan bahkan jaminan kerja. Sementara Indonesia, hanya mengamati mereka dari jauh. Tidak pernah dengar nama Yudistira Virgus? Tidak apa-apa, kok. Ia cuma pemenang medali emas di Olimpiade Internasional!


    Sumber: Emas Fisika oleh Ade Armando - Republika, 24 Juli 2004