ENi6Ma

"Suatu waktu, mutiara di dalam genggaman, bergetar dan kemudian jatuh, pecah dan menjadi serpihan-serpihan kecil. Tapi dia adalah Mutiara, bagaimanapun dia tetap berkilau, dan sempurna sebagai intan permata. Bagaimanapun dia .. adalah mutiara harapanku."

This Real Me



Name : Jaka,-
Nicks : BLu3`Ais-
On Blog : Serpihan Mutiara
On IRC : #heartbeatstation
Age : 22
Work at : Internet Specs
Birthday : 4 March
Place : Jogja City
Mobile : +62817270xxx
ICQ : 122081318
YM ID : blue_indiego
fs : blueais@gmail.com

PreViOus

  • Kesulitan, Jalan Kemudahan
  • Best Dewa ...
  • 10 Kualitas Pribadi yang Disukai
  • Ujian Socrates
  • engkau miliku, dan aku milikmu satu
  • Sweet Wish
  • Aku Menangis ...
  • cayaha kehidupan ...
  • Install Cinta Kasih ...
  • Ketika Kumohon ...


  • ArChieVe

  • November 2003
  • December 2003
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • August 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • October 2005

  • Links

    My Friendster BloG
    Situs Ku
    Berita Harian
    Koran Jogja
    Portal Jogja
    eMail Ku
    Cari Berita
    Koran Jateng
    Angkringan Ku
    Blog Aku
    Picture Perfect
    Pabrik Skin
    Hosting Ku

    Layout By "Yiling" Thanks Very Much

    Friends


    Said To Me

    Name :
    Web URL :
    Message :

    CreDits

    This page is powered by Blogger. Isn't yours?

    Powered by Blogbugs

    Komunitas Angkringan Jogjakarta

    Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com



    Site Meter

    Sunday, July 25, 2004

    Kematian Al-Rantisi

    Eh! Pengin tahu nursery school yang paling bagus kualitasnya nggak? Cari mereka yang hanya menampung tidak lebih dari 10 anak-anak balita, agar lebih mudah pengawasannya, dan lebih efektif bimbingannya. Itu bagi orang tua yang mau menyekolahkan anak-anak mereka yang berumur di bawah lima tahun.

    Bagaimana dengan para guru taman kanak-kanak yang juga pengin mengajar di nursery school yang balitanya tidak nakal? Jawabnya, cari saja anak-anak Arab. Lho, koq Arab? Lha kalau bukan Arab, siapa lagi? Lihat aja, ada lebih dari dua puluh negara Arab yang ada sekarang ini, para pemimpin negara-negara tersebut tetap saja diam membisu sekalipun saudaranya dibantai oleh musuh! Anak-anak Arab pasti jauh lebih membisu daripada para pemimpinnya kan? Sebulan lalu Sheikh Ahmad Yasin dirudal oleh Israel, kemudian tiga minggu berikut, penggantinya Dr.Abdelaziz Al Rantissi dilenyapkan pula di Gaza City. Apa yang mereka perbuat?

    “Rantissi terbunuh !” kata teman sekerjaku, esok hari sesudah Al Rantissi, dokter ahli anak ini terbunuh oleh pasukan jagal manusia, Ariel Sharon. Aku membisu! Sebisu para pemimpin besar di negara-negara kaya Arab sana. Aku masih ingat betul ketika beberapa jam sesudah pepimpin Hamas sebelumnya, Sheikh Ahmad Yasin diberondong tiga rudal dari sebuah Apache sesaat sesudah beliau Sholat Fajar, Al Rantissi sempat mengumandangkan gelora semangat jihad kepada para pejuang Palestina. “We will fight them everywhere!” Ia begitu antusias mengajak para pemuda disana untuk merebut kemerdekaan tanah mereka yang terampas oleh Israel. “We will hunt them everywhere; we will srtike them everywhere!” sambutan beliau membakar semangat juang rakyat Palestina yang tidak mengenal bahkan apa itu artinya kematian.

    Sesaat sesudah Al Rantissi kembali ke Rahmatullah, Sharon, sang teroris sejati ini, mengadakan pertemuan dan memberikan pujian kepada para prajurit yang telah melaksanakan tugasnya dengan 'baik'. Mereka pikir bahwa dengan gugurnya para pemimpin Palestina satu-persatu akan gugur pula semangat juang rakyat Palestina, sebagaimana ayam kehilangan induknya. “Dan janganlah kamu mengatakan orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup, namun kamu tidak menyadarinya” (Al Baqara: 154).

    “Do you think the assassination of the Hamas leaders will weaken the movement?” tanya Mohammad Yousef, seorang penulis asal Palestina yang tinggal di Gaza kepada seorang pejuang Palestina, Pimpinan Izz Al Din Al Qassam di Gaza Utara. “Pergerakan Hamas bergantung kepada Al Quran, bukannya sebuah ideologi yang diciptakan oleh seseorang. Kami bukanlah semacam orang-orang Marxists! Kami tidak akan punah dengan gugurnya para pendiri kami!”

    Sementara itu, Um Mohammad, istri Al Rantissi menyikapi kepergian suaminya sebagai 'pilihan' dari Allah SWT. “Dia dipilih oleh Allah SWT untuk mati syahid, bukannya dipilih oleh Sharon! Ini adalah suatu 'kehormatan' yang amat dinanti-nantikan beliau!” katanya. Anaknya, Mohammad Al Rantissi, 23 tahun, ketika ditanya bagaimana dia akan meneruskan perjuangan ini tanpa mendiang ayahnya, dia berkomentar, “Ayahku mengajarkan bagaimana menjadi seorang laki-laki, dan saya akan hidup sesuai dengan apa yang diharapkannya. Ada ribuan anak-anak Hamas secara umum yang akan melakukan sebagaimana yang saya lakukan sekarang. Mereka akan melanjutkan perjuangan Rantissi, perjuangan bagi semua rakyat Palestina!” Demikian diungkapkan oleh Mohammad Yousef untuk harian The Gulf News, 19 April 2004.

    Subhanallah! Tidakkah Israel mengetahui hal ini, bahwa tekad para pejuang muda Palestina semacam Mohammad Al Rantissi ini sudah tidak bisa dibendung lagi bahkan dengan berondongan senapan mesin, meriam atau dentuman bom sekalipun? Tidakkah orang-orang Israel merasa bahwa semakin mereka tonjolkan sikap kekerasan dan kriminalitas ini, akan semakin gigih para pejuang Palestina ini untuk maju, membalas kematian kakak, adik, orangtua, kakek, nenek, bahkan teman-teman mereka?

    Orang-orang Israel nampaknya belum sadar, bahwa Surat Al Baqarah: 154 lah yang mendasari semangat juang umat Islam Palestina sebagai jalan menuju jannah. Berjuang melawan keangkuhan penjajah adalah bagian dari perjalanan menuju kehidupan yang lebih menjanjikan. Bagi mereka ada dua pilihan, antara hidup terus dengan status merdeka, atau mati dan bertemu surga. Sementara tentara Israel yang mana yang ingin mati sia-sia? Kehidupan mereka penuh dengan ketakutan. Sharon yang sedang tertawa ria, berpesta pora menikmati 'kemenangan' sesaat ini, pada waktu yang sama tidak sadar bahwa mereka sedang menempuh perjalanan panjang menuju penderitaan yang tidak lebih adalah neraka.

    Neraka? Ya! Karena Sharon dan semua sahabat, pendukung, prajuritnya, juga sanak keluarganya tidak bisa tinggal diam di rumah-rumah, sekolah, kantor-kantor hingga supermarket. Mereka akan selalu dihantui oleh satu perasaan yang amat mencemaskan: bom maut! Bom-bom yang akan ditalikan oleh para pejuang muda Palestina pada perut, diikatkan pada jubah, jaket, ransel hingga mobil. Semuanya bak teror. Pejuang Hamas memilih mati dengan cara demikian adalah lebih mulia daripada hidup dalam cengkeraman orang lain. Khaled Meshaal, tokoh utama Hamas, mengemukakan akan melancarkan beribu cara guna merealisasikan mimpi buruk bagi Sharon dan Israel.

    Menurut Los Angeles Times, Dr. Abdelaziz Al Rantissi lahir di Yebna, 23 Oktober, 1947, sebuah desa di bagian utara Gaza, yang menjadi bagian dari pendudukan Israel setahun kemudian. Ketika negara Israel terbentuk, keluarga Al Rantissi menjadi pengungsi dan pindah ke Gaza Strip. Dr. Rantissi beserta 11 kakak-kakaknya menetap dan tinggal di deaerah Camp penampungan Gaza, di daerah yang disebut Khan Yunis. Al Rantissi meneruskan pendidikan kedokteran di Alexandria, Mesir pada tahun 1965. Ia balik ke Khan Yunis enam tahun kemudian dan terlibat dalam percaturan politik yang pada kemudian hari dimasukkan namanya oleh Pemerintah Israel dan buku Daftar Hitam, one of the most dangerous persons. Bersama-sama Sheikh Ahmad Yasin, Al Rantissi menjadi salah satu pendiri Hamas. Di kalangan Hamas, dia lebih dikenal sebagai penggerak intelektual dan strategist, yang 'cool' namun 'calculating'.

    Siapa lagi yang akan menjadi sasaran pembunuhan Sharon berikutnya? Banyak orang bertanda-tanya. Khaleed Meshaal, figur utama dalam tubuh Hamas yang sekarang tinggal di Damaskus disebut-sebut sebagai oarng yang bakal menggantikan posisi Dr.Al Rantissi. Meshaal dikenal sebagai orang dari kelompok garis keras yang memilih solusi militer dalam konflik Israel-Palestina ini. Gulf News hari ini (19 April 2004) memuat pernyataan Gideon Ezra, Menteri Kabinet Sharon bahwa Meshaal adalah giliran berikutnya menyusul pembunuhan Al Rantissi.
     
    Takutkah Meshaal? Koran berbahasa Arab Al Hayat pada hari Rabu lalu di London mengungkapkan pernyataan pria 48 tahun kelahiran West Bank ini, bahwa hamas akan membalas 'an eye for an eye'! Hamas akan lakukan 100 unique serangan terhadap Israel!
    Apa yang telah terjadi pada Al Rantissi memang tidak jauh dari apa yang pernah dikatakannya bahwa George Bush adalah musuh Arab dan kaum Muslimin. Rantissi tidak perlu menunggu terlalu lama untuk membuktikannya. Menurut Eyad Elsarraj, Chairman of Gaza Community Mental Health Program, dalam artikel khususnya buat Gulf News, hal itu sudah terbukti dengan dibunuhnya Al Rantissi sendiri dengan senapan mesin buatan Amerika Serikat.


    Rakyat Amerika telah dibodohi oleh George Bush, memanfaatkan hasil pengumpulan pajak rakyat, menciptakan mesiu-mesiu dan dimanfaatkannya untuk membunuh Rantassi dan rakyat Palestina. Sistem pemerintahan Amerika tidak mampu menghentikan pengiriman buldozer, helikopter Apache serta F16 ke Israel, meskipun mereka tahu bahwa ketiga 'komoditi' tersebut digunakan untuk membunuh, dengan mengabaikan hukum internasional.

    Bilamana sejumlah resolusi diisukan oleh Dewan Keamanan terhadap pendudukan Israel beserta tindakan kriminalitasnya di bumi Palestina, rejim Amerika tidak akan mengirim pasukan untuk menghentikan tindakan tersebut. Tidak pula mengancam Israel sebagai tindakan yang bertentangan dengan kemanusiaan. Sebaliknya, Amerika semakin memberikan dorongan terhadap perlakuan Israel, rejim Zionis yang pada hakekatnya semakin menebarkan rasa kebencian, ekstrimisme dan horor. Apa yang dilakukan Amerika tidak jauh berbeda dengan sikap Pemerintah Inggris lebih dari seratus tahun lalu ketika akan merencanakan pendirian negara Yahudi di Palestina.

    Sebaliknya, puluhan tetangga Palestina (baca: saudara-saudara) negara-negara Arab tetap diam menyusul pembunuhan tokoh-tokoh Hamas yang beruntun. Kediaman ini seolah-seolah menjadikan semacam legitimasi bagi Israel untuk melancarkan segala operasinya tanpa hambatan. Diam bisa diartikan 'ya'. Jadi apa yang perlu dikhawatirkan?

    Tiga ratus juta lebih orang Arab telah dibuat 'malu'. Rakyat Palestina membutuhkan sikap nyata, bukan pernyataan-pernyataan yang identik dengan 'omong kosong'. Pernah seorang palestina suatu saat berteriak kepada 'tetangga' ini: “Beri kami senjata! Antum tidak perlu datang ke bumi Palestina, biar kami bisa melawan kebengisan Israel!”.

    Benar, rakyat Palestina lebih memahami dan menguasai wilayahnya sendiri. Tanpa bantuan tentara dari luar yang nyaris 'impossible', mereka sebenarnya bisa membalas kekejaman Israel, asalkan dilengkapi senjata yang memadai, bukannya batu-batu kerikil atau 'ketepil' yang nyaris tidak ada apa-apanya dihadapan F16 dan meriam AS. Dimana saudara-saudaramu ya Palestina?

    Dibunuhnya Al Rantissi semakin membuat kita bisa meramalkan bahwa perdamaian antara Palestina-Israel semakin jauh dari yang diharapkan. Terbunuhnya pemimpin-pemimpin Palestina semakin jelas bahwa ada kepentingan AS tertentu di Timur Tengah. Menurut Eyad Elsarraj, AS khawatir jika Palestina merdeka dan demokrasi diterapkan disana, AS akan kehilangan peranan di Arab, setidaknya dominasi mereka akan minyak akan luntur.

    Bagaimanapun, dibalik kematian Sheikh Ahmad Yasin dan Al Rantissi ini ada satu yang pasti: Israel tidak lagi menunjukan minat untuk damai. Naluri hewani Sharon telah membuatnya lupa, bahwa meningkatkan kebrutalannya terhadap rakyat Palestina berarti semakin memperpanjang resistensi pejuang Palestina yang menciptakan ketakutan dan derita luar biasa. Inikah 'surga' yang engkau dambakan wahai Israel?

    Syaiful Hardi, eramuslim.com