ENi6Ma

"Suatu waktu, mutiara di dalam genggaman, bergetar dan kemudian jatuh, pecah dan menjadi serpihan-serpihan kecil. Tapi dia adalah Mutiara, bagaimanapun dia tetap berkilau, dan sempurna sebagai intan permata. Bagaimanapun dia .. adalah mutiara harapanku."

This Real Me



Name : Jaka,-
Nicks : BLu3`Ais-
On Blog : Serpihan Mutiara
On IRC : #heartbeatstation
Age : 22
Work at : Internet Specs
Birthday : 4 March
Place : Jogja City
Mobile : +62817270xxx
ICQ : 122081318
YM ID : blue_indiego
fs : blueais@gmail.com

PreViOus

  • Iya Sayang ...
  • Karenamu ...
  • Friendship vs. Love
  • Emas Olimpiade
  • The Eyes Of Heart
  • Kekayaan, Kesuksesan & Kasih Sayang
  • Semoga ...
  • Kematian Al-Rantisi
  • Kesulitan, Jalan Kemudahan
  • Best Dewa ...


  • ArChieVe

  • November 2003
  • December 2003
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • August 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • October 2005

  • Links

    My Friendster BloG
    Situs Ku
    Berita Harian
    Koran Jogja
    Portal Jogja
    eMail Ku
    Cari Berita
    Koran Jateng
    Angkringan Ku
    Blog Aku
    Picture Perfect
    Pabrik Skin
    Hosting Ku

    Layout By "Yiling" Thanks Very Much

    Friends


    Said To Me

    Name :
    Web URL :
    Message :

    CreDits

    This page is powered by Blogger. Isn't yours?

    Powered by Blogbugs

    Komunitas Angkringan Jogjakarta

    Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com



    Site Meter

    Friday, August 20, 2004

    Sepenggal Cerita Indah

    Orang yang mengerti dan setuju poligami tidak berpoligami, orang yang tidak mengerti dan tidak setuju justru berpoligami.

    Contohnya Bung Karno dan H. Agus Salim, mereka berpolemik panjang lebar soal poligami. Bung Karno tidak setuju karena dianggapnya poligami adalah perendahan harkat dan martabat kaum perempuan sebaliknya H Agus Salim setuju karena pengertian beliau yang mendalam.

    Beberapa tahun kemudian mereka bertemu Bung Karno istrinya banyak sementara H Agus Salim tetap beristri satu.

    Akhirnya segala sesuatu dikembalikan pada niatnya. Kata Huttaqi, yang luar biasa adalah istri pertama Bung Karno. Ibu Inggit.
    Apabila Bung Karno api maka Inggit kayu bakarnya. Inggit menghapus keringat ketika Soekarno kelelahan, Inggit menghibur ketika Soekarno kesepian. Inggit menjahitkan ketika kancing baju Soekarno lepas, Inggit hadir ketika Soekarno muda membutuhkan kehangatan perempuan baik sebagai Ibu maupun teman. Inggit bagi Soekarno laksana Khadijah bagi Muhammad. Bedanya Muhammad setia hingga Khadijah meninggal sedangkan Soekarno kawin lagi, melangkah ke gerbang istana dan Inggit pulang ke Bandung, menenun sepi.

    Apabila Bung Karno api maka Inggit kayu bakarnya. Dalam kamus hidupnya hanya ada kata memberi tak ada kata meminta. Inggit menjual bedak, meramu jamu dan menjahit untuk nafkah keluarga, sementara Soekarno seperti singa yang mengaum dari satu podium ke podium berikutnya, pikirannya tercurah untuk pergerakan, Inggit yang setia mencari uang. Inggit mencinta karena cinta, tanpa pamrih tanpa motivasi.

    Suatu malam di jalan Jaksa,kedua pasang mata bertemu, Soekarno berkata "Aku cinta padamu". Inggit tersipu menunduk dalam-dalam sambil mempermainkan ujung kebaya. Itulah, cinta yang dibawakan Inggit dengan mesra, tanpa suara tanpa kata-kata, tanpa bahasa. Kejadian yang sangat lazim dan sederhana tetapi merupakan kejadian penting yang terlupakan oleh segenap bangsa.

    Inggit menemani Soekarno yang terlunta-lunta di pembuangan. Jauh di P Ende lalu di Bengkulu, Inggit tetap menemani, merupakan baterai bagi kehidupan Soekarno yang menderita. Tetapi di ujung masa penjajahan Soekarno berkata pada Inggit, "Eulis aku akan menikah lagi supaya punya anak seperti orang-orang lain."

    "Kalau begitu antarkan saja aku ke Bandung!" Jawab Inggit.

    "Tidak begitu, maksudku engkau akan tetap jadi istri utama. Jadi first lady seandainya kita nanti merdeka."

    "Tidak, antarkan saja aku ke Bandung." Jawab Inggit lagi.

    Akhirnya Soekarno mengantar Inggit ke Bandung. Kembali tinggal di jalan Tjiateul dan Soekarno balik ke Jakarta. Dalam kesepiannya Inggit selalu berdoa bagi kebaikan Soekarno. Inggit kembali menjual bedak, meramu jamu dan menjahit sebagai nafkah. Dagangannya dititipkan di toko Delima. Inggit tidak mengeluh. tidak menangis. Demikianlah cinta Inggit pada Soekarno.

    Cinta semata-mata karena cinta. Tidak luka ketika dilukai dan tidak sakit ketika disakiti, tanpa pamrih tanpa motivasi

    Siang itu aku lewat di Jl Ciateul yang sibuk dan panas, yang sekarang dinamakan Jl Inggit Garnasih. Tampak sebuah rumah lama dicat baru, disitu dulu Inggit tinggal dan akan dijadikan museum. Aku tengok isinya .... kosong melompong.

    Tak ada yang ditinggalkan oleh Inggit selain satu pelajaran tentang CINTA.

    From : Annisa Akhmadi, Selasa 08 Juni 2004, web.