ENi6Ma

"Suatu waktu, mutiara di dalam genggaman, bergetar dan kemudian jatuh, pecah dan menjadi serpihan-serpihan kecil. Tapi dia adalah Mutiara, bagaimanapun dia tetap berkilau, dan sempurna sebagai intan permata. Bagaimanapun dia .. adalah mutiara harapanku."

This Real Me



Name : Jaka,-
Nicks : BLu3`Ais-
On Blog : Serpihan Mutiara
On IRC : #heartbeatstation
Age : 22
Work at : Internet Specs
Birthday : 4 March
Place : Jogja City
Mobile : +62817270xxx
ICQ : 122081318
YM ID : blue_indiego
fs : blueais@gmail.com

PreViOus

  • Nikmatnya Hidup
  • Apa Itu C I N T A ?
  • Menyambut Bulan Suci Ramadhan
  • Marhaban Yaa Ramadhan ...
  • Sebuah Batu Mulia
  • Tatapan Penuh Cinta
  • Simfoni Beragama
  • Mencintai Karena Allah
  • Ujian Saringan Tiga Kali Lipat
  • Every Day I Love You


  • ArChieVe

  • November 2003
  • December 2003
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • August 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • October 2005

  • Links

    My Friendster BloG
    Situs Ku
    Berita Harian
    Koran Jogja
    Portal Jogja
    eMail Ku
    Cari Berita
    Koran Jateng
    Angkringan Ku
    Blog Aku
    Picture Perfect
    Pabrik Skin
    Hosting Ku

    Layout By "Yiling" Thanks Very Much

    Friends


    Said To Me

    Name :
    Web URL :
    Message :

    CreDits

    This page is powered by Blogger. Isn't yours?

    Powered by Blogbugs

    Komunitas Angkringan Jogjakarta

    Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com



    Site Meter

    Friday, October 22, 2004

    Karena Noda Datang Setiap Hari

    Beberapa tahun silam, setiap satu hari menjelang Ramadhan biasanya kami sekeluarga melakukan satu kegiatan bersama. Seluruh anggota keluarga berkumpul, tanpa kecuali, untuk bersama-sama membersihkan rumah. Setiap sudut dan sisi rumah dibersihkan, dari pagar, teras, kamar mandi hingga gudang. Ibu sudah mengatur tugas masing-masing dan seperti tahun sebelumnya, saya mendapatkan bagian paling basah, kamar mandi.

    Bagi kami, rutinitas tahunan seperti ini amatlah menyenangkan. Disitu terlihat kekompakan dan kebersamaan semua anggota keluarga untuk membersihkan istana kecil yang selama ini menjadi tempat kami bernaung, berteduh dan terlelap menikmati mimpi-mimpi sederhana kami.Walaupun sebenarnya, tanpa acara bebersih total semacam ini, meski sederhana namun istana kecil kami senantiasa terlihat asri dan bersih setiap harinya.

    Dan ketika saya coba tanyakan itu kepada ibu, lembut bibirnya berucap, "Apa abang mau hari ini nggak mandi? Kita harus bersih setiap hari kan?"

    "Iya, tapi kenapa ini berbeda dari hari lainnya?" tanyaku lagi.

    "Karena besok tamu istimewa akan tiba. Sepantasnya kita menyambutnya dengan cara yang istimewa juga," terang ibu kemudian.

    Maka dimulailah tugasku. Sementara Abang dan adik-adik saya harus berkutat dengan debu di halaman depan, teras, juga gudang, saya menghabiskan waktu beberapa jam dengan kubangan air untuk membersihkan kamar mandi. Sepintas kamar mandi kami terlihat bersih, sehingga, "Kamar mandi kita masih bersih kok bu ..." ujarku nakal untuk menghindari pekerjaan berat.

    "Jangan tertipu dengan pandangan pertama. Yang terlihat bersih belum tentu benar-benar bersih. Coba perhatikan lebih dekat, banyak noda hitam di sudut-sudutnya ..." ajar ibu.

    Ibu benar. Setelah kuperhatikan, banyak sekali noda hitam dicelah-celah, sudut dan juga ruas keramik lantai kamar mandi. Segera kuambil peralatan pembersih seperti sikat lantai dan sabun pembersih.

    Mulanya kusiram dengan air berkali-kali, tapi noda hitam itu tidak juga hilang dari dinding dan lantai. Hingga satu ember air habis, tak juga hilang. Ibu yang sejak tadi memperhatikan, berujar, "Tidak semua noda bisa hilang hanya dengan menyiramnya dengan air, sebanyak apa pun air yang Abang siapkan"

    Lalu saya menyikat noda hitam itu. Sekali sikat tak hilang,berkali-kali kucoba, hanya sedikit. Masih banyak noda tersisa dilantai dan nampaknya sudah begitu merekat di dinding sehingga teramat sulit untuk dihilangkan. Suara ibu kembali terdengar, "Susah kan kalau noda tidak dibersihkan setiap hari? Noda-noda itu sebenarnya tidak terlihat, tapi justru karena tidak terlihat itu kita menganggap ruang ini tetap bersih. Karena tidak pernah dibersihkan, semakin hari noda itu semakin jelas pekatnya."

    Tidak cukup dengan air dan sikat, saya pun menggunakan sabun pembersih untuk membantu menghilangkan noda-noda itu. Dan, setelah beberapa butir peluh menetes, akhirnya bersih juga kamar mandi itu. Saya dan ibu saling berpandangan lega memperhatikan hasilnya.

    Sebelum keluar dari kamar mandi, lagi-lagi ibu bersuara, "Seperti ini lah sulitnya jika diri ini sudah dipenuhi dosa. Tidak cukup satu dua macam ibadah untuk bisa menghilangkannya. Semakin banyak kita berbuat salah, semestinya jauh lebih banyak perbuatan baik yang kita lakukan untuk membuat diri kita bersih."
    Malam hari sebelum ibu membimbing kami dengan untaian doa dan belai lembut usapan ibu menjelang tidur, ibu berpesan, "Perbaiki diri kita setiap hari, karena kita melakukan kesalahan juga setiap hari."

    ***

    Esoknya Ramadhan tiba. Kami semakin mengerti bahwa Ramadhan semakin indah dijalani dengan rumah yang bersih. Juga hati yang bersih. Sekali lagi ibu benar, noda datang tidak mengenal waktu.

    by Bayu G. on Mailist