ENi6Ma

"Suatu waktu, mutiara di dalam genggaman, bergetar dan kemudian jatuh, pecah dan menjadi serpihan-serpihan kecil. Tapi dia adalah Mutiara, bagaimanapun dia tetap berkilau, dan sempurna sebagai intan permata. Bagaimanapun dia .. adalah mutiara harapanku."

This Real Me



Name : Jaka,-
Nicks : BLu3`Ais-
On Blog : Serpihan Mutiara
On IRC : #heartbeatstation
Age : 22
Work at : Internet Specs
Birthday : 4 March
Place : Jogja City
Mobile : +62817270xxx
ICQ : 122081318
YM ID : blue_indiego
fs : blueais@gmail.com

PreViOus

  • Mencintai Karena Allah
  • Ujian Saringan Tiga Kali Lipat
  • Every Day I Love You
  • Sepenggal Cerita Indah
  • Iya Sayang ...
  • Karenamu ...
  • Friendship vs. Love
  • Emas Olimpiade
  • The Eyes Of Heart
  • Kekayaan, Kesuksesan & Kasih Sayang


  • ArChieVe

  • November 2003
  • December 2003
  • February 2004
  • March 2004
  • April 2004
  • May 2004
  • June 2004
  • July 2004
  • August 2004
  • September 2004
  • October 2004
  • November 2004
  • December 2004
  • January 2005
  • February 2005
  • March 2005
  • April 2005
  • May 2005
  • June 2005
  • July 2005
  • October 2005

  • Links

    My Friendster BloG
    Situs Ku
    Berita Harian
    Koran Jogja
    Portal Jogja
    eMail Ku
    Cari Berita
    Koran Jateng
    Angkringan Ku
    Blog Aku
    Picture Perfect
    Pabrik Skin
    Hosting Ku

    Layout By "Yiling" Thanks Very Much

    Friends


    Said To Me

    Name :
    Web URL :
    Message :

    CreDits

    This page is powered by Blogger. Isn't yours?

    Powered by Blogbugs

    Komunitas Angkringan Jogjakarta

    Weblog Commenting and Trackback by HaloScan.com



    Site Meter

    Tuesday, October 12, 2004

    Simfoni Beragama

    Seorang tua yang tidak berpendidikan berniat mengunjungi suatu kota besar untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dibesarkan disebuah dusun terpencil, bekerja keras membesarkan anak-anaknya dan sekarang menikmati kunjungan pertamanya ke rumah anaknya yang modern.
    Suatu hari, sewaktu berjalan-jalan seputar kota, si orang tuamendengar suara yang menyakitkan telinga. Belum pernah dia mendengar suara yang begitu tidak enak didengar di dusunnya yang sepi dan dia bersikeras mencari sumber bunyi tersebut. Mengikuti arah suara yang menggangu itu ke sumbernya, dia melihat sebuah ruangan di dalam sebuah rumah, di mana terdapat seorang anak kecil sedang belajar bermain biola.
    "Ngiiiik! Ngoook!" berasal dari nada sumbang biola tersebut.
    Saat dia mengetahui dari putranya bahwa itulah yang dinamakan"biola", dia berpikir bahwa dia tidak akan pernah mau lagi mendengarsuara yang mengerikan tersebut.
    Hari berikutnya, di bagian lain kota tersebut, si orang tua inikembali mendengar sebuah suara yang mendayu-dayu membelai-belai telingatuanya. Dia tidak pernah mendengar melodi yang begitu indah didusunnya, diapun mencoba mencari sumber suara tersebut. Sampai kesumbernya, dia melihat sebuah ruangan depan sebuah rumah, di manaseorang wanita tua, seorang maestro, sedang memainkan sonata denganbiolanya.

    Seketika, si orang tua ini menyadari kesalahannya. Suara tidakmengenakkan telinga yang didengarnya dulu bukanlah merupakan kesalahandari sang biola, bukan pula salah sang anak. Itu hanyalah prosesbelajar seorang anak untuk bisa memainkan biolanya dengan baik.

    Dari pemikirannya yang sederhana muncullah sebuah kebijaksanaan,si orang tua mulai berpikir demikian pula halnya dengan agama. Sewaktu menemukan seseorang religius yang "bersemangat" (baca: fanatik) terhadap kepercayaannya, tidaklah benar untuk menyalahkan agamanya. Itu hanyalah proses belajar sang pemula untuk bisa "memainkan" agamanya dengan baik. Sewaktu kita bertemu dengan seorang suci, seorang maestro agamanya, merupakan sebuah penemuan indah yang memberi inspirasi kepada kita untuk bertahun-tahun, apapun agama mereka.
    Namun ini bukanlah akhir dari cerita. Hari ketiga, di bagian lain dari kotatersebut, si orang tua mendengar sebuah suara lain yang bahkan melebihikeindahan dan kejernihan suara sang maestro biola. Menurut anda,suara apakah itu? Melebihi indahnya suara aliran air pegunungan, melebihi indahnya suara angin di musim gugur di sebuah hutan, melebihi suara burung-burung pegunungan yang bernyanyi setelah hujan lebat. Bahkan melebihi keindahan keheningan pegunungan yang damai di musim salju pada malam hari. Suara apakah yang telah menggerakkan hati si orang tua melebihi apapun itu?
    Itulah suara sebuah orkestra besar yang memainkan sebuah simfoni.
    Bagi si orang tua, alasan mengapa itulah suara terindah di dunia adalah, pertama, seluruh anggota orkestra merupakan maestro alat musiknya masing-masing; dan kedua, mereka telah belajar lebih jauh lagi untuk bisa bermain bersama-sama dalam harmoni.
    "Mungkin ini sama dengan agama," si orang tua berpikir. "Marilah kita semua belajar dari pelajaran-pelajaran kehidupan dalam inti kesejukkan kepercayaan kita masing-masing. Marilah kita semua menjadi maestro dalam cinta kasih didalam agama masing-masing. Lalu, setelah mempelajari agama kitadengan baik, lebih jauh lagi, mari kita belajar untuk bermain sepertihalnya anggota sebuah orkestra, bersama-sama dengan agama lain,dalam sebuah harmoni!"

    Itulah suara yang paling indah.
    Sumber: Disadur dari buku "Opening the Door of Your Heart" oleh Ajahn Brahm